Penyelamatan Keluarga Lawrence

Penyelamatan Keluarga Lawrence
BAB 17. Kehilangan Ayah


__ADS_3

"Tolong selamatkan ayah." Ucapku menangis.


"Aku tidak mau kehilangan ayah, kakek." Sambungku dengan tersedu-sedu.


Suasana begitu kacau, hari itu langit begitu gelap. Ayah apakah aku gagal kembali kali ini?


"Tolong lakukan yang terbaik." Ucap kakek dengan nada gemetar.


"Kami akan melakukan yang terbaik sebisa kami." Sahut pria tua dengan jubah putih.


Waktu berlalu begitu lambat. Ayah berkali-kali memuntahkan darah. Mata ayah yang awalnya indah kini terlihat begitu menyeramkan. Lingkaran hitam dan warna mata merah, tubuh kekarnya kini begitu lemas.


"Ayah…. tolong bertahanlah…" Rintiku karena tak kuat melihat ayah.


Petir menyambar bersahut-sahutan, hujan turun begitu deras. Kondisi ayah semakin memburuk, kini tubuhnya bahkan tak mampu turun dari tempat tidur.


Keringat bercucuran dari kepalanya, mata sendu dan kesadaran yang mulai hilang. "Aurel….." Suara ayah yang sangat kesakitan.


"Ayah bertahanlah, jangan tinggalkan Aurel." Tangisku yang pecah dan tak bisa terbendung lagi.


Ayah, apakah aku akan gagal kembali? Apakah aku akan kehilangan ayah lagi?


Langit menjadi sangat gelap, hujan diluar semakin kencang. Badai malam itu menggambarkan seberapa menegangkan kondisi di dalam kediaman keluarga Lawrence. Jendela yang awalnya tertutup, kini terbuka akibat angin yang menerobos masuk ke kediaman.


“Pelayan tolong kunci jendelanya.” Ucap kakek pada pelayan yang berada di dekatnya.


Beberapa saat setelah itu, terlihat wajah panik dari orang-orang di dalam ruangan. Salah seorang menggelengkan kepala, diikuti oleh hembusan nafas berat oleh orang lainnya. Kutatap kakek yang berada di sudut ruangan. Mata kakek berkaca-kaca, wajah kakek menjadi pucat. Aku berusaha tidak berpikir aneh-aneh.


“Kakek ada apa?” Tanyaku mengharapkan sebuah kejelasan.


“Aurel ayahmu sudah tiada.” Jawab kakek yang membuat tangisku pecah.


Mendadak semuanya terlihat hitam dan gelap, mataku buram. Kesedihan yang tak tertahankan seakan menikam hatiku.


“Nona Aurel…Nona Aurel… bangun..” Ucap seseorang yang tak asing di telingaku.


Mataku terbuka, kulihat wajah seseorang yang tak asing dimataku. Rambut panjang terikat satu dengan pakaian pelayan khas keluarga Lawrence.

__ADS_1


“Nona baik-baik saja?” Tanyanya khawatir.


Air mataku mengalir, mataku sembab karena menangis. Kondisiku membuat Ishana bingung dan khawatir.


“Apakah nona bermimpi buruk?” Sambung ishana seraya membersihkan air mata


“Ishana, dimana ayah?” Tanyaku panik.


“Tadi saya melihat Tuan ada di ruangannya.” Jawab Ishana bingung melihatku.


Aku langsung berlari tanpa memperhatikan Ishana yang berusaha menghentikanku. Kini dalam benakku hanya ingin bertemu ayah.


“Ayahhh..” Ucapku langsung membuka pintu ruang kerja ayah.


“Iya Aurel? Ada apa?” Ucap ayah bingung.


Langsung kupeluk ayah tanpa mengucapkan apapun.


“Permisi Tuan, maaf nona mimpi buruk tadi.” Ucap Ishana saat tiba setelah mengejarku.


Ayah tak bertanya apapun lagi setelah melihat kondisiku. Ayah meminta Ishana pergi untuk membawakan segelas susu hangat untukku. Kemudian menggendongku untuk duduk di sofa ruang kerjanya. “Aurel mau biskuit?” Tanya ayah yang kujawab dengan sebuah anggukan.


“Bagaimana kalau kita pergi ke jalanan utama kekaisaran?” Ajak ayah padaku.


“Ayoo, ayah.” Jawabku begitu senang yang terlihat dari senyuman yang lebar.


Setelah itu aku dan ayah mulai berbincang-bincang menghabiskan waktu bersama pagi itu. Ishana datang dengan segelas susu panas dan sebuah kue manis untukku, kemudian pergi meninggalkan ruangan untuk menyiapkan keperluan mandiku. Aku dan ayah masih asik bercanda gurau bersama di ruang kerja ayah. Ayah bercerita bahwa di jalanan utama kekaisaran begitu ramai. Banyak sekali toko makanan, pakaian, dan hal-hal lainnya yang mungkin aku sukai. Ayah berkata jika ada sesuatu yang aku inginkan, aku bisa langsung membelinya.


“Aurel, segera habiskan susu hangatnya. Kemudian mandi, kita akan berangkat kesana setelah Aurel mandi.” Ucap ayah lembut.


“Baik ayah.” Jawabku bersemangat.


Segera kuhabiskan susu dan kue yang Ishana bawakan, lalu kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Dengan batuan Ishana, aku dapat membersihkan diri jauh lebih mudah. Seusai itu, Ishana membantuku memakai baju dan bersiap-siap. Sepanjang waktu itu, kami berbincang-bincang ringan untuk mengetahui kegiatan apa yang akan kami lakukan seharian nanti.


“Ishana, hari ini kamu ada pekerjaan apa?” Tanyaku ketika Ishana sedang asik rapikan rambutku.


“Ohh, hari ini Ishana akan mendata kebutuhan bulanan nona.” Ucap Ishana dengan tersenyum.

__ADS_1


“Kebutuhan bulanan?” Ucapku tidak paham.


“Iyaa, ada beberapa hal yang perlu dibeli untuk nona.” Jelas Ishana padaku.


Di kehidupanku sebelumnya, dana yang diberikan kepadaku begitu minim. Pada kehidupanku sekarang aku mendapatkan kasih sayang dari banyak orang, sehingga ada beberapa hal yang membuatku memerlukan waktu adaptasi lebih lama.


“Apakah nona ada sesuatu yang ingin dibeli?” Tanya Ishana padaku, yang ku jawab dengan menggelengkan kepala.


“Sepatu? Baju baru? Mainan?” Tanya Ishana kembali, yang tetap aku jawab dengan menggelengkan kepala.


“Hmm, jujur saja Ishana bingung akan membelikan kebutuhan nona apa. Sepertinya kebutuhan nona sangat sedikit.” Jelas Ishana dengan menghembuskan nafas lelah.


“Bagaimana kalau batu aurora?” Tanyaku dengan tawa kecil.


“Ide bagus nona, saya akan tanyakan dahulu kepada kepala pelayan.” Jawab Ishana tetap setelah ia selesai merapikan rambutku.


Usai bersiap-siap, Ishana mengantarku ke ruang kerja ayah. DIsana ayah sudah siap untuk menemaniku berjalan di jalanan utama kekaisaran.


“Sepertinya putri kecilku sudah siap.” Ucap ayah seraya menggendongku di lengannya.


“Ayahhhh, ayo kita pergi.” Ucapku tak sabar.


“Iyaa, ayo kita pergi.” Sahut ayah dengan senyuman terukir di bibirnya


TAKK!! TAKK!!. TAKK!!


Derap kereta kuda berbunyi, aku dan ayah sudah berada di perjalanan menuju jalanan utama kekaisaran. Langit hari itu begitu cerah, banyak burung berkicau yang dapat kudengar dari dalam kereta kuda. Jarak antara kediaman Lawrence dan jalanan kekaisaran memang tidak terlalu jauh, hanya memerlukan waktu perjalanan sekitar 20 menit.


Selama perjalanan aku hanya menatap awan yang seperti menari-nari di langit. Tiba-tiba ayah memakaikan sebuah mantel padaku yang membuatku sedikit terkejut. “Cuacanya agak dingin, ayah takut Aurel sakit nanti.” Jelas ayah yang kubalas sebuah anggukan.


Setelah beberapa waktu telah berlalu, akhirnya kita sudah berada dekat dengan jalanan utama kekaisaran. Jalanan tersebut terlihat begitu ramai dari kejauhan. Banyak lampion yang menggantung di atas jalanan tersebut. Suara tawa dan kebahagian terdengar ketika kereta kami mendekat.


“Apakah Aurel ingin membeli sesuatu?” Tanya ayah ketika kita akan turun dari kereta


Ketika turun mataku terus menatap sisi-sisi jalan, siapa tahu ada sesuatu yang aku inginkan. “Ayah, Aurel ingin beli boneka. Apakah boleh?” Ucapku setelah menatap gadis di pinggir jalan dengan sebuah boneka beruang di tangannya.


“Ohh, boneka? Ayo, ayah akan membelinya.” Jawab ayah, lalu menggendongku berjalan menuju toko yang berada tak jauh dari posisi awal kami. Toko yang begitu ramai dengan hiasan mainan yang menggantung di depan pintu tokonya, bila dilihat-lihat sepertinya toko itu baru buka.

__ADS_1


__ADS_2