
“Nona apakah segala perlengkapan anda sudah siap?” Tanya Ishana dengan sibuk merapikan pakaianku yang berada di koper.
“Seperti sudah semua.” Ucapku seraya memikirkan apa yang mungkin saja terlewatkan.
Ishana mengemas segala keperluan yang dibutuhkan olehku ketika berada di daerah barat. Mulai dari pakaian musim dingin, gaun, hingga kebutuhan pribadiku. Sedangkan aku hanya mengemas buku-buku yang ingin aku baca serta barang-barang pribadi.
“Nona yakin semuanya sudah masuk?” Tanya Ishana kembali untuk memastikan.
“Sudah Ishana.” Jawabku dengan mengacungkan ibu jari.
“Apakah barang Ishana sudah siap?” Tanyaku balik.
“Sudah nona.” Jawab Ishana dengan pandangan tertuju pada koper di ujung ruangan.
Setelah segalanya sudah siap, Ishana mulai memanggil pelayan untuk membantu membawa barang-barangku ke kereta. Kemudian disusul oleh Ishana yang membawa barangnya turun.
Di pintu masuk ke kediaman Lawrence terlihat 1 kereta kuda besar dengan lambang keluarga Lawrence. Kereta dengan warna putih dan corak biru itu terlihat begitu megah dan gagah. Kereta itu ditarik oleh 4 kuda putih yang begitu besar, dengan seorang kusir dibelakangnya.
“Aurel bagaimana perasaanmu?” Tanya seseorang dari belakang yang suaranya tak asing bagiku.
“Aurel sangat tak sabar, kakek.” Ucapku begitu semangat.
“Hahahaha, kamu akan merasakan suasana yang sangat berbeda dibandingkan disini.” Sahut kakek begitu senang.
Aku dan kakek berbincang beberapa saat, hingga seorang pria dengan pedang hitam mendekat ke arah kami.
“Apakah putri kecilku ini akan berlibur?” Ucap ayah yang terlihat sudah siap untuk pergi bertugas.
“Tentu ayah, nanti Aurel akan membawakan hadiah untuk ayah dan semua orang.” Ucapku dengan begitu bahagia.
“Tentu, ayah akan menantikan itu.” Ucap ayah, kemudian memberikan ciuman di keningku.
“Ayah jaga diri baik-baik, pulanglah dengan selamat yaa. Aurel pasti merindukan ayah.” Ucap dengan nada sendu.
__ADS_1
“Iyaa, tentu saja. Ayah juga akan membawakan oleh-oleh untuk putri kecilnya.” Ucap ayah seraya menarik hidungku.
Aku, ayah, dan kakek tertawa dan berbincang bersama-sama. Ayah menitipkanku pada kakek, dan berpesan agar aku bisa menjaga diriku baik-baik. Ayah mengingatkanku agar tidak melawan nakal ketika diingatkan Ishana, selalu mengenakan mantel, dan tidak jauh-jauh dari pengawalku.
“Tuan segalanya sudah siap.” Ucap seorang pengawal kepada kakek.
Mendengar hal itu kakek menggendongku untuk segera naik ke kereta. Sebelumnya kami mengucapkan salam perpisahan pada ayah. Setelah usai mengucapkan salam, kami naik ke kereta. Pintu kereta tertutup dan mulai berjalan. Kulambaikan tangan kepada ayah melalui jendela. Ayah membalas dengan tersenyum lebar padaku, hingga akhirnya kereta mulai keluar dari gerbang ke kediaman keluarga Lawrence.
“Kakek, dimana Ishana?” Tanyaku penasaran.
“Ohh, Ishana ada di kereta lain.” Jawab kakek padaku.
“Ada kereta lain? Kenapa aku tidak melihatnya tadi?” Ucapku bingung.
“Hahahaha, kereta yang lain berada di belakang kereta besar ini Aurel.” Jawab kakek dengan tertawa karena melihat ekspresi wajahku.
“Ohhh, begitu…” Jawabku paham.
Sepanjang jalan pikiranku mulai membayangkan akan seperti apa daerah barat itu. Di kehidupanku sebelumnya aku belum pernah mengunjungi secara langsung daerah tersebut. Aku hanya mengetahui daerah barat dari buku yang kubaca. Berdasarkan buku yang telah kubaca, daerah barat adalah daerah yang begitu asri dan indah. Begitu banyak taman dan pohon-pohon rindang disana. Daerah itu, tidak terlalu banyak salju yang turun meskipun suhu disana cukup dingin.
“Mungkin lebih dari 10 kali?” Jawab kakek dengan sedikit ragu.
“Apakah daerah barat seperti yang diceritakan dibuku-buku?” Tanyaku kembali.
“Apa yang Aurel baca tentang daerah barat?” Ucap kakek untuk membantu menjelaskan.
“Daerah barat adalah daerah yang asri dan indah. Ada begitu banyak tanaman yang hidup disana. Meskipun musim dingin tiba, daerah itu jarang turun salju.” Jawabku menjelaskan apa yang aku baca.
“Informasi yang Aurel ucapkan benar. Selain dari penjelasan tadi, daerah barat terkenal dengan teh yang begitu khas.” Jelas kakek padaku.
“Teh?” Sahutku tidak paham.
“Iyaa, teh disana memiliki berbagai warna dan rasa. Begitu berbeda dengan teh yang kita temui di daerah tengah.” Ujar kakek agar aku mengerti.
__ADS_1
“Selain itu kakek, ada apa lagi?” Tanyaku pada kakek.
“Pakai di daerah sana identik dengan motif tanaman. Jika Aurel membeli gaun disana akan didapati motif-motif tanaman yang membuat gaun itu begitu khas.” Jawab kakek seraya mengelus kepalaku.
“Sepertinya Aurel begitu penasaran.” Sambung kakek melihat antusiasku.
“Iya, Aurel benar-benar tidak sabar.” Jawabku dengan tertawa kecil.
"Sabar yaa, perjalanannya masih jauh." Ucap kakek agar aku bisa bersabar.
"Iyaa kakek." Jawabku dengan menahan antusias dalam diriku.
Waktu berlalu begitu cepat, sepanjang jalan aku hanya menatap pemandangan daerah tengah yang sudah tak asing dimataku. Begitu banyak kediaman-kediaman bangsawan kekaisaran ini. Daerah tengah memang merupakan pusat kekaisaran, dimana banyak sekali bangsawan yang tinggal disini. Berbeda dengan daerah lainnya, daerah tengah hanya sebagai pasar dagangan untuk hasil sumber daya yang para bangsawan bisniskan.
"Daerah ini merupakan pusat kekaisaran, namun angka kemiskinan masih begitu tinggi disini." Ujar kakek ketika melihat seorang pengemis di samping jalan.
"Tolong berhenti dan berikan sesuatu pada orang itu." Sambung kakek yang membuat kereta berhenti seketika.
Seorang pengawal mendekati pengemis itu dengan sebuah kantong berisi makanan. Pengemis itu begitu berterima kasih atas pemberian itu yang terlihat dari ekspresi wajahnya. Setelah itu kereta kembali berjalan. Pandanganku terus tertuju pada pria dengan tubuh besar dihadapanku, kedepannya akan ada banyak hal yang dapat dipelajari dari kakek.
"Aurel, jika kelak kau memiliki kuasa terhadap rakyat. Tolong berjanjilah pada kakek, bahwa kau akan membantu rakyat." Ucap kakek dengan pandangan terus tertuju ke arah jendela.
"Bahkan jika aku tidak memiliki kuasa itu, aku akan berusaha kakek." Jawabku yang membuat sebuah senyuman terukir di wajah kakek.
"Semoga kekaisaran ini dapat semakin baik kedepannya, aku sudah mengabdi lama untuk kekaisaran ini. Namun tak kulihat perkembangan yang pesat pada pemerintahan ini." Ujar kakek dengan nada sedih.
Mendengar ucapan kakek, membuat hatiku tergerak. Bagaimana jika ia tahu, setelah kepergiannya kekaisaran ini mengalami banyak sekali kemunduran.
"Kakek berharap besar pada para pangeran, semoga mereka bisa memberikan kontribusi nyata pada kekaisaran ini." Ucap dengan murung.
Tentu dalam hati kakek, ia begitu mencintai kekaisaran ini. Keluarga Lawrence telah mengabdi untuk kekaisaran ini sejak kekaisaran ini berdiri. Bahkan keluarga Lawrence merupakan salah satu pihak yang menjadi penyebab berdirinya kekaisaran ini.
"Aurel, menurutmu siapakah yang layak mengganti kakek?" Tanya kakek spontan.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan itu aku bingung harus menjawab apa. Apa yang ada dipikiran kakek hingga bertanya hal seperti itu pada anak kecil. "Menurut Aurel, Aurel layak untuk menggantikan kakek." Ucapku dengan menatap dalam mata kakek.
Kakek yang mendengar jawabanku seakan tak mampu menutupi kebahagiaannya. Melihat ekspresi itu aku tahu kakek menaruh banyak ekspektasi padaku. Semoga aku mampu memenuhinya.