
Tirai jendela terbuka, cahaya matahari pagi kini mulai menyilaukan mataku. Aku merasa terusik karena cahaya yang menerobos masuk kamarku. Dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya, samar-samar kulihat seorang wanita berdiri di hadapanku. Sosok yang tak asing itu mulai memanggilku bangun. “Nona Aurel, nona Aurel… bangun nona.” Ucap Ishana pagi itu.
“Ishana, apakah aku boleh tidur 5 menit lagi? Mataku begitu berat.” Ucapku dengan nada lemas.
“Tidak nona, nona harus bangun sekarang. Nona akan melakukan latihan dengan tuan hari ini.” Sahut Ishana seraya merapikan tempat tidurku.
Mendengar ucapan Ishana membuatku terkejut dan langsung melompat dari tempat tidurku. Untung saja Ishana menangkapku sehingga tidak jatuh ketika melompat dari tempat tidur. “Nona hati-hati.” Ujar Ishana dengan nada panik.
“Maaf Ishana, aku mengejutkanmu. Bagaimana aku bisa lupa janjiku berlatih dengan kakek?” Ucapku berusaha mengumpulkan energi setelah bangun tidur.
“Iyaa, mari saya bantu bersiap.” Sahut Ishana setelah usai merapikan tempat tidurku.
Ishana membantuku bersiap-siap. Setelah beberapa waktu berlalu akhirnya aku sudah selesai. Hari ini aku berlatih dengan mengenakan setelan kemeja putih dan celana pendek berwarna coklat muda untuk mempermudah gerakku.
“Aurel kamu sudah siap?” Tanya kakek ketika menghampiriku.
“Sudah kakek. Aurel sangat tidak sabar.” Jawabku dengan bersemangat.
Pandangan kakek tertuju pada pedang yang berada di tanganku. Pedang berwarna silver yang merupakan pemberian dari ayahku. “Aurel apakah itu pedangmu?” Tanya kakek padaku.
“Iyaa kakek itu pemberian dari ayah beberapa minggu yang lalu.” Ucapku seraya memainkan pedang di tanganku.
“Ohh begitu.” Ucap kakek mengerti.
"Kakek kita akan berlatih dimana?” Tanyaku dengan terus mengikuti langkah kakek.
“Hmm…bagaimana jika di halaman belakang?” Tanya kakek kembali.
“Boleh kakek.” Sahutku mengiyakan.
__ADS_1
Kami berjalan menuju halaman belakang melalui koridor utama kediaman tersebut. Di langit-langit koridor terdapat berbagai macam lukisan mitologi yang membuatku terpesona. “Aurel apakah kau menyukainya?” Tanya kakek tanpa menoleh ke arahku.
“Iyaa, terlihat cantik.” Sahutku terus menatap atas.
Kini kami akhirnya sampai di halaman belakang kediaman. Terdapat air manjur dan berbagai pohon yang mengelilingi taman ini. Udara disana cukup sejuk dan kondisi yang mendukung untuk berlatih.
Pada awal pelatihan kakek mengajarkan cara mengalirkan aurora ke pedang, persis seperti yang ayah ajarkan padaku. Pada tahap ini aku tidak merasa kesulitan sedikitpun. Setelah itu kakek mengajarkanku cara baru dalam mengontrol aurora. Kakek mengalirkan auroranya ke pedang yang ada digenggamannya. Dari jarak yang cukup jauh, kakek mampu menebas pohon tanpa melakukan pergerakan sedikitpun. Aku melihat dengan begitu kagum. Kakek mengarahkanku untuk mencoba apa yang telah dicontohkan.
Kucoba mengalirkan auroraku pada pedang yang berada pada genggamanku, sama seperti yang ayah ajarkan dulu. Setelah merasa cukup, ku ayunkan pedang itu ke arah target di depan. Aurora yang ku keluarkan melesat maju kedepan, kemudian terpantul kembali ke arahku. Kakek yang melihat itu langsung panik dan berusaha melindungiku. Kakek berusaha menangkis aurora itu dengan pedang miliknya. Dentuman hebat berbunyi yang membuat seluruh orang yang berada di kediaman merasakan getarannya.
Seorang pengawal mendatangi kami karena terkejut dengan dentuman tadi. “Tuan dan nona apakah baik-baik saja? Apa yang terjadi?” Tanya pengawal itu dengan nafas yang terengah-engah.
“Kami sedang berlatih aurora, aurora milik Aurel memantul dan berbenturan dengan aurora milikku.” Jelas kakek itu kepada pengawal tadi.
Kakek menggendongku dan memeriksa apakah ada luka karena peristiwa tadi atau tidak. Kakek menatapku dengan penuh kekhawatiran, berharap aku tidak mendapatkan luka apapun. “Aurel apakah kau baik-baik saja?” Tanya kakek dengan raut wajah khawatir.
Ketika kekek sibuk memeriksa kondisi tubuhku, mataku tertuju pada goresan di pipi kakek. Goresan sekitar 7 cm itu mengeluarkan sedikit darah. “Kakek, kau terluka.” Ucapku panik.
Kuminta pengawal tadi, mengambil obat untuk kakek. Kuambil sapu tangan dari sakuku untuk membersihkan darah kakek sambil menunggu kedatangan pengawal tadi. Beberapa saat berlalu pengawal tadi tiba dengan kotak obat di tangannya. “Nona ini obatnya.” Ucap pengawal itu dengan menyerahkan kotak obat yang berada di tangannya. Setelah usai mengobati kakek, pengawal itu pergi dengan membawa kotak obat tadi.
“Aurel ayo kita mulai latihan kembali.” Ucap kakek setelah aku usai mengobatinya.
“Ayooo kakek.” Jawabku bersemangat.
Kami berlatih kembali, kakek mengajarkanku untuk mengontrol aurora agar aurora yang dikeluarkan bisa sesuai dengan keinginanku. Kakek menjelaskan bahwa memiliki kekuatan besar memang merupakan sebuah kebanggan, tapi bila tidak bisa mengendalikan semua itu akan sia-sia. Pengendalian aurora juga penting untuk menjaga keselamatan diri sendiri dan orang-orang sekitar. Kakek tidak ingin peristiwa tadi terulang kembali dan akan melukaiku.
“Apakah Aurel mengerti?” Tanya kakek dengan terus melatihku.
“Paham kakek.” Sahutku dengan bersemangat.
__ADS_1
“Aurel kedepannya kau ingin menjadi apa?” Tanya kakek penasaran.
“Ingin menjadi panglima pertempuran.” Jawabku dengan polos.
“Kau ingin mengabdikan hidupmu seperti ayahmu?” Tanya kakek kembali.
“Iya, melihat ayah sepertinya begitu keren.” Jawabku bersemangat.
Kakek hanya tertawa mendengar jawabanku yang menurutnya begitu polos. Dengan terus berlatih kakek menyadari liontin yang kumiliki bersinar. “Aurel apa yang terjadi dengan liontimu?” Tanya kakek ketika menyadari liontin yang tak sengaja keluar dari bajuku bersinar.
Aku menghentikan latihanku dan menatap apa yang terjadi dengan liontin pemberian kakek itu. Liontin ini kini bersinar dan aku merasakan ada energi yang mengalir masuk dalam tubuhku. Dengan terus menatap liontin tersebut, aku menyadari bahwa tubuhku tidak merasa lelah meskipun sudah 2 jam lebih berlatih dengan kakek. “Apakah batu ini memberiku energi?” Gumamku yang terdengar oleh kakek.
Kakek mendekat dan mulai menyentuh liontin milikku. Setelah usai merasakan aurora yang keluar dari liontin ini, kakek menyimpulkan bawa batu ini memberikan energi dengan cara menyerap energi di alam.
“Ohh begitu cara kerjanya. Apakah semua batu, bekerja seperti itu?” Tanyaku bingung.
“Setiap batu memiliki ciri khas masing-masing. Tergantung ada jenis dan aurora didalamnya.” Jelas kakek padaku.
“Seperti batu aurora milik kakek yang dapat bekerja sebagai pelindung bahkan ketika kakek tidak menyadari ada bahaya.” Sambung kakek agar aku mengerti.
“Ohhh begitu..” Sahutku mulai mengerti.
Aku menatap pedang yang ada di tangan kakek, terdapat sebuah ukiran harimau yang berada di ujung genggaman pedangnya. “Kakek, Aurel ingin memiliki ukiran di pedang Aurel.” Ucapku dengan tatapan tertuju pada pedang di tanganku.
Kakek mengambil pedang yang berada di tanganku dan mulai memperhatikan pedang kecil itu. “Kakek tahu ada seorang pengukir hebat di daerah ini.” Ucap kakek yang membuatku senang.
“Aurel ingin membuat ukiran apa?” Tanya kakek penasaran.
“Merak.” Jawabku yang membuat kakek terdiam seketika.
__ADS_1