Penyelamatan Keluarga Lawrence

Penyelamatan Keluarga Lawrence
BAB 16. Andai Kau Masih Hidup...


__ADS_3

"Permisi, Pangeran…" Ucap seorang pelayan padaku.


"Ratu mencari anda." Sambung, pelayan itu lalu pergi keluar ruangan.


"Baik, kamu boleh pergi." Ucapku pada pelayan itu.


Sudah lebih dari sebulan aku tidak bertemu dengan ratu. Dengar-dengar Pangeran Kedua sedang melakukan bimbingan ilmu politik dengan guru dari akademi kekaisaran. Mungkin itu adalah salah satu cara Ratu untuk menguatkan posisi Pangeran Kedua dalam perebutan tahta. Pemilihan guru juga tidak sembarang, Ratu memilih guru akademi kekaisaran dengan latar belakang yang kuat.


"Ratu, saya hadir." Ucapku seraya membukukan badan.


"Ohhh Pangeran Pertama, duduk disini." Jawab Ratu dengan secangkir teh di tangannya.


"Dengar-dengar Pangeran Pertama sedang fokus berlatih pedang ya?" Sambung Ratu padaku dengan tatapan sinis.


"Iyaa, Yang Mulia Kaisar memilihkannya untukku." Jawabku dengan hormat.


"Tapi Pangeran, seharusnya anda tahu memimpin kekaisaran ini tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan. Anda perlu memiliki pengetahuan berpolitik, ekonomi, dan lainnya." Sindir Ratu dengan tawa kecil yang licik.


"Saya cukup memiliki pengetahuan dalam bidang-bidang tersebut." Ucapku dengan wajah datar.


Mendengar ucapan Ratu yang merendahkanku membuat emosiku bisa saja meledak. Namun, itu akan jadi masalah jika aku emosi.


"Hahahaha, cukup? Sepertinya anda kurang mendapat kasih sayang seorang ibu, sehingga menjadi bodoh seperti ini." Ucap Ratu merendahkanku.


"Ohh, tapi itu wajar. Anak dari ratu yang tidak dicintai Kaisar. Ibumu meninggalkanmu sendirian dan ayahmu hanya memberikan fasilitas sebagai formalitas saja, itu semua dilakukan agar terlihat adil di mata rakyat." Sambung Ratu yang membuat seluruh wajahku merah akibat menahan amarah.


"Hmm… tapi, darah rendahan sepertimu sama sekali tidak layak untuk duduk di tahta." Ucap Ratu dengan wajah tak merasa bersalah.


Mendengar semua ucapan Ratu, membuat kebencian dalam hatiku meningkat. Ratu begitu merendahkan aku, tanpa pernah bercermin bahwa dia naik ke posisi itu dengan cara kotor. Sang pembunuh ibuku yang menjual dirinya pada Kaisar agar bisa sampai di posisi itu.


"Setidaknya saya tidak naik dengan cara kotor." Jawabku yang membuat raut wajah Ratu berubah.


"Hahahaha, ternyata Pangeran Pertama lucu sekali ya." Sahut sinis sang Ratu.


.


.


.


.


PRANG!!!


"ARGGGGG…. BERANINYA DIA, DIA PIKIR LAYAK MENGUCAPKAN ITU. DARAH RENDAHAN SEPERTINYA BAHKAN TIDAK LAYAK DISEBUT PANGERAN." Ucapku kesal.

__ADS_1


Seluruh perabotan kamar kini hancur akibat emosiku. Aku merasa harga diriku diinjak-injak oleh bocah rendahnya itu. Selayak apa dia hingga berani mengatakan itu. Bahkan siapa yang lebih layak daripada diriku untuk bisa menempati posisi Ratu? Ibunya yang tidak kompeten itu lebih layak menjadi pelayan dari pada seorang Ratu.


"Pelayanan tolong bersihkan ini." Ucapku dengan tangan menunjuk pada pecahan barang.


"Panggilkan menteri keuangan sekarang, saya ada urusan yang perlu diselesaikan." Ucapku pada pelayan lainnya.


Kutatap suasana kekaisaran ini dari balkon, dengan tangan yang terus menggenggam erat pilar balkon.


"Lihat apa yang akan kulakukan." Gumamku dengan kesal.


"Yang Mulia, saya hadir." Sahut seorang pria dari belakang dengan pin jabatan kekaisaran di dada kirinya.


"Menteri keuangan, silahkan duduk." Ucapku mempersilahkan duduk.


"Bagaimana? apakah sudah didapatkan?" Tanyaku penasaran.


"Sudah yang Mulia, sesuatu dengan permintaan anda." Jawab menteri itu seraya mengeluarkan benda kecil dari sakunya.


"Saya sudah melihat sendiri dampak dari benda ini. Benar-benar mengerikan." Sambungnya dengan senyum kecil penuh maksud.


"Apakah ada orang yang tahu tentang ini selain kamu?" Tanyaku datar.


"Tidak Mulia, saya mencari dan mempersiapkannya sendiri." Jawabnya dengan yakin.


Aku merasa semua persiapan sudah cukup matang. Segalanya sudah dipersiapkan tanpa cela, semoga sesuai dengan ekspektasiku. "Ohh.. bagus. Apakah ada kabar tentang nona kesayangan keluarga Lawrence?" Tanyaku tiba-tiba mengingat tentang gadis itu.


"Kamu yakin? Apakah mereka pernah berkirim surat?" Tanyaku kembali.


"Tidak Yang Mulia, mereka hanya pernah berkomunikasi sekali ketika kunjungan pangeran ke kediaman Lawrence." Jelasnya agar aku paham.


"Kenapa kamu begitu yakin?" Tanyaku dengan pikiran curiga.


"Orang kepercayaanku yang memberi tahu, tidak mungkin info itu bohong." Sahut menteri meyakinkanku.


"Apakah kamu ada cara untuk membuat Pangeran Kedua dekat dengan gadis itu?" Tanyaku dengan harapan sebuah solusi.


Menteri terdiam beberapa saat. Matanya berlari kesana kemari, berusaha mencari inspirasi. Hingga secangkir teh mengalihkan pandangannya. "Undangan minum teh bersama."


Aku terdiam, memikirkan ide dari menteri tadi. Apakah mungkin cara itu berhasil? Aku perlu membuat Pangeran Kedua dekat dengan Aurel. Putri keluarga Lawrence itu sudah mendapatkan banyak hati rakyat, dengan dekat dengannya akan sangat membantu.


"Baiklah lakukan dan persiapkan segalanya." Ucapku dengan menghembuskan nafas lelah.


"Baik Yang Mulia, lalu bagaimana dengan perbincangan kita diawal tadi? Apa yang harus saya lakukan?" Tanya menteri bingung.


Kejelasan segalanya pada menteri, waktu dan bagaimana cara melaksanakan rencana tersebut. Menteri memperhatikan dengan seksama apa yang akan dilaksanakan.

__ADS_1


"Baik, lakukan sesuai dengan arahanku." Ucapku dengan puas.


"Baik yang Mulia." Balasnya, lalu pergi meninggalkan ruangan.


.


.


.


.


"Hatiku sakit mendengar ucapan Ratu tadi. Rasanya pedangku akan melesat dan memotong lehernya." Gumamku seraya menenangkan diri di taman milik ibuku.


Taman ini adalah taman favorit ibuku, dahulu taman ini adalah hadiah dari kaisar. Tidak ada seorangpun yang boleh datang kemari selain diriku.


Hembusan angin menghembus menyentuh halus kulitku. Aku merasakan kehangatan dan kedamaian di hatiku, seakan ada kehadiran ibu disini.


.


.


" Ibu…bunganya cantik sekali." Ucapku terkagum.


"Iyaa, ini Nasturtium. Cantik yaa.." Sahut ibu seraya terus mengelus kelopak bunga tersebut.


“Nasturtium?” Gumamku bingung.


Ibu menggendongku yang saat itu masih berusia 3 tahun. “Nasturtium adalah bunga favorit ibu. Dahulu nenekmu selalu membuatkan ibu minuman dari bunga tersebut.” Jelas ibu padaku.


“Benarkah? Aku ingin mencobanya, bu.” Rengekku pada ibu.


“Nanti ya ketika bunganya sudah bermekaran sempurna.” Jawab menenangkanku.


“Ibu janji yaa?” tanyaku meragukannya.


“Iyaa, ibu janji.” Jawab ibuku dengan senyum yang masih kuingat sampai sekarang.


.


.


“Ibu, bunga Nasturtiumnya sudah bermekaran. Ibu dimana?” Ucapku karena mengingat kenangan itu. Tanpa kusadari air mata mengalir dari sudut mataku. Semakin lama, kenangan akan ibu mulai muncul dalam ingatanku. Ibu adalah satu-satunya orang yang bisa kujadikan rumah untuk pulang. Lalu sekarang, ibu telah tiada, aku harus pulang kemana?


Aku harap ibu dapat mendengarkanku, aku ingin mengatakan bahwa aku merindukannya. Sebentar saja aku ingin sekali merasakan bersandar di bahumu, pelukanmu, suaramu, dan mengobati rasa rinduku ini ibu. Kini aku merasa dunia begitu jahat mengambil satu-satunya rumah yang kumiliki, kini aku tidak memiliki tempat pulang.

__ADS_1


"Andai ibu masih hidup…" Gumamku dengan menatap sendu kolam dihadapanku.


Mataku melamun, seketika terlihat bayangan gadis yang tak asing dimataku. "Aurel…."


__ADS_2