
TOKK!! TOKK!! TOKK!!
“Permisi tuan, saya izin masuk.” Ucap kepala pelayan padaku.
“Iya, silahkan. Ada apa?” Balasku saat melihat kepala pelayan tiba-tiba ingin menemuiku. Biasanya kepala pelayan hanya akan menemuiku ketika akhir bulan untuk memberikan laporan pengeluaran keluarga.
“Ini tentang nona Aurel, Tuan.” Jawab kepala kepala pelayan itu.
“Ada apa dengan cucuku Aurel?” Tanyaku bingung.
“Saya membaca laporan bulanan yang diperlukan oleh nona Aurel. Setelah membaca ada satu keperluan yang nona Aurel minta dan memerlukan pertimbangan dari Tuan.” Jawab Kepala pelayan seraya memberikan lembaran kebutuhan Aurel kepadaku.
Aku membaca laporan tersebut satu persatu. Selama aku membaca, kepala pelayan menjelaskan hal yang diperlukan. “Di dalam laporan tersebut terdapat permintaan batu aurora dari nona Aurel. Saya juga mendapat pertanyaan terkait hal tersebut. Apakah boleh, Tuan?” Balas kepala pelayan karena takut membuat kesalahan.
“Ohhh, cucuku yang berbakat itu ingin batu aurora. Besok panggilkan toko pemilik batu aurora, biarkan Aurel memilihnya sendiri.” Jawabku dengan tersenyum bangga.
“Baik, Tuan.” Sahut kepala pelayan, lalu meninggalkan ruangan.
Sepertinya aku perlu menyiapkan banyak hal untuk Aurel kedepannya. Gadis seperti Aurel memerlukan banyak fasilitas. Mungkin aku perlu mengajaknya ke daerah barat untuk berlatih aurora. Seharusnya Louis akan mengizinkannya, karena tidak lama dia akan pergi juga.
“Pengawal tolong panggilkan sekretarisku.” Ucapku pada pengawal yang berjaga di depan pintu.
“Baik, Tuan” Sahut pengawal tersebut.
Beberapa saat menunggu, akhirnya sekretarisku tiba. Pria dengan kacamata bulat yang khas itu mulai mendekat ke mejaku.
“Ada apa Tuan mencari saya?” Tanya pria dengan hormat.
“Barnard, tolong data keperluan apa saja yang sekiranya akan diperlukan Aurel.” Ucapku kepada sekretarisku yang dibalas dengan sebuah anggukkan.
“Kira-kira apa yang diperlukan oleh Aurel untuk masa depannya?” Tanyaku mengharapkan sebuah saran.
“Umumnya putri bangsawan akan memperluas pertemanan di pertemuan sosialita. Dengan mengikuti berbagai pertemuan tersebut akan membantu nona Aurel memiliki pengalaman sosial dan mendapatkan teman.” Jelas Barnard padaku.
__ADS_1
“Aku akan mengajak cucuku berkunjung ke daerah barat, untuk berlatih aurora. Tolong carikan perkumpulan para putri bangsawan disana, agar Aurel juga dapat memperoleh pengalaman bersosialisasi.” Ucapku menjawab penjelasan Barnard.
“Baik Tuan. Bagaimana bila nona Aurel mengikuti perkumpulan sosialita di bawah naungan keluarga ratu sebelumnya. Saya dengan nenek pangeran pertama adalah ketua perkumpulan tersebut. Beliau terkenal wanita yang baik dan memiliki etika yang sangat baik.” Jawab Barnard untuk memberikan masukan.
“Baik, aku suka saranmu. Sekarang kau boleh keluar, tolong panggilkan Aurel juga kemari.” Ucapku setelah mendengarkan ide bagus dari pria itu.
“Maaf Tuan, nona Aurel keluar bersama Tuan Louis dari tadi pagi.” Jawab Barnard dengan sopan.
“Baiklah, kamu boleh pergi Barnard.” Balasku setelah mengetahui keberadaan Aurel.
Mungkin Louis ingin menghabiskan waktu bersenang-senang bersama Aurel sebelum pergi bertugas. Sejak kepergian istrinya aku tidak pernah melihat Louis sehidup ini, biasanya dia akan memasang wajah datar kepada siapapun. Kepergian istrinya adalah pukulan terbesar dalam hidupnya. Aku bisa mengerti posisinya, seberapa besar rasa sakit yang dirasakan ketika kita kehilangan orang yang sangat kita cintai. Namun, semenjak Louis dekat dengan putrinya, ia kembali mendapatkan semangat hidupnya. Sepertinya cucuku itu membawa banyak perubahan dalam keluarga ini.
.
.
.
Setelah beberapa waktu aku habiskan bersama ayah, akhirnya kita akan kembali pulang. Ayah membelikan banyak hal untukku. Seperti pakaian, mainan, makanan, dan masih banyak lagi.
“Sangat bahagia ayah, mungkin ini akan menjadi pengalaman paling mengesankan untukku.” Jelasku dengan bersemangat.
“Dan ayah berjanji kedepannya akan banyak pengalaman yang akan membuatmu bahagia dan tidak bisa kau lupakan.” Balas ayah dengan senyum tulus padaku.
Mendengar ucapan ayah, hatiku bergetar. Akhirnya aku bisa dekat denganmu ayah, setelah apa yang telah kulewati di kehidupan sebelumnya.
“Ayah berjanji ya?” Ucapku mengharapkan kepastian.
“Iyaa, ayah berjanji.” Sahut ayah dengan membalas janji jari kelingkingku.
“Apakah ada sesuatu yang ingin kau beli lagi Aurel?” Tanya ayah memastikan.
“Tidak ayah, semuanya sudah terbeli.” Jawabku bersemangat.
__ADS_1
“Apa yang paling kau suka dari hari ini?” Tanya ayah padaku.
“Aurel menyukai semuanya, tapi yang pali Aurel suka adalah permen kapas.” Jawabku dengan tawa kecil gembira.
Mendengar jawabanku, ayah tersenyum bahagia. Mendengar jawabanku, membuat ayah teringat kepada ibu. Karena dahulu, ibu juga begitu menyukai permen kapas. “Aurel tahukah kamu begitu mirip dengan ibumu.” Ucap ayah dengan mata terus tertuju ke arah jendela.
“Kenapa ayah?” Tanyaku penasaran.
“Ibumu juga begitu menyukai permen kapas.” Jawab ayah dengan senyum terukir di bibirnya.
“Sebegitu miripnya kah?” Tanyaku kembali pada ayah.
“Banyak hal yang mirip Aurel, mungkin kamu lebih mirip ibu daripada ayah dalam hal sifat dan juga hal yang disukai.” Jawab ayah seraya mengelus lembut kepalaku
“Ibu???” Gumamku dengan nada sedih.
Selama ini aku jarang mendengar cerita tentang ibu. Bahkan di kehidupanku sebelumnya juga begitu. Kadang aku penasaran seperti apakah sosok ibu sebenarnya.
“Ibumu adalah gadis yang sangat baik pada orang lain. Kelembutan dan kemurahan hatinya membuat ayah menyukainya.” Jelas ayah padaku.
“Ayah tidak tahu banyak hal tentang ibumu, seakan banyak sekali hal yang ia tutupi dari ayah. Tetapi ibumu sangat mengerti dan mengenal ayah. Tanpa perlu berkata apapun, ibumu bisa tahu apa yang ayah pikirkan.” Sambung ayah dengan nada sedih.
“Ayah begitu mencintai ibu yaa?” Sahutku dengan senyum kecil.
“Sangat, Aurel. Ayah sangat mencintai ibumu.” Jawab ayah dengan tegas.
“Ibumu adalah hal paling berharga yang pernah ayah miliki sebelumnya. Ayah memerlukan banyak tenaga dan usaha untuk mendapatkan hatinya. Namun, baru ayah memiliki…ibumu harus pergi untuk selamanya.” Ucap ayah dengan air mata yang tanpa disadari keluar dari tepi matanya.
“Mungkin jika ibumu masih hidup, ia akan mengikat dan merapikan rambutmu setiap hari. Ibumu akan membuatkanmu kue terenak yang pernah kamu makan. Ia akan mengajarimu bernyanyi dan memainkan alat musik. Kalian akan merangkai bunga bersama-sama. Berbincang selayaknya seorang ibu dengan putrinya, dan akan menghabiskan waktu bersenang-senang setiap saat.” Jelas ayah yang membuatku terdiam.
“Setidaknya disisi Aurel ada ayah.” Jawabku untuk berusaha menghibur ayah.
“Aurel, impian terbesar ibumu yang pernah ia ceritakan adalah memiliki seorang putri. Sekarang ia menitipkan impian terbesarnya itu pada ayah, maka ayah akan menjagamu sebaik mungkin.” Sahut ayah seraya mengusap air matanya.
__ADS_1
“Ayahh…Aurel berjanji akan selalu bersama ayah. Aurel akan menjadi semakin kuat dan akan melindungi ayah.” Jawabku untuk menenangkan hati ayah.
“Aurel, Ayah berharap kau dapat menjaga dirimu, karena ayah tidak mungkin akan selalu berada disisimu. Jangan biarkan orang lain menyakitimu meskipun hanya sedikit. Karena ayah hanya memilikimu.” Ucap ayah dengan memelukku erat.