
Hari itu, kami berkumpul bersama-sama seharian penuh. Aku juga bermain dengan Aurel sepanjang hari. Keluarga kami asik berbincang-bincang sedari tadi. Kini waktunya kepala keluarga Lawrence dan Aurel pulang.
“Kami pulang dulu ya…” Ucap kepala keluarga Lawrence seraya menggandeng tangan cucu kesayangannya.
“Iyaaa, hati-hati dijalan.” Sahut nenek kakekku melepas kepulangan mereka.
“Dahhh… Aurel, sampai jumpa lagi.” Ucapku dengan melambaikan tangan ke arah kereta keluarga Lawrence yang sudah mulai berjalan.
“Dahh…keluarga Gudysty. Dah… pangeran pertama, terimakasih untuk kue jahenya. Aku akan memakannya malam ini.” Ujar Aurel dengan kepala mengintip keluar jendela.
“Iyaaaa….terimakasih juga untuk kue jahenya.” Teriakku agar Aurel dapat menjelaskannya.
Kini kereta keluarga Lawrence telah melewati gerbang kediaman Gudysty. Kakek dan nenek begitu bahagia karena kedatangan Aurel dan kepala keluarga Lawrence. Kakek mungkin bahagia karena telah bertemu dengan sahabat lamanya, yang sudah sekian tahun tidak bertemu. Sedangkan nenek, tentu bahagia dapat bertemu dengan Aurel yang sekilas terlihat mirip dengan ibu. Aku juga bahagia dengan kedatangan mereka.
“Adam apakah kau senang?” Tanya kakek padaku.
“Iyaa, sangan senang kakek.” Jawabku senang.
“Adam berapa lama kau akan tinggal disini?” Tanya kakek penasaran.
“Sekitar 1 bulan, kakek.” Jawabku yang membuat kakek dan nenek terlihat senang.
Kemudian kami masuk masuk ke dalam kediaman. Aku kembali ke kamar dengan sekantong kue jahe dari Aurel. “Apakah ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?”Tanyaku kepada seseorang yang berada di balik jendela.
“Ratu mengetahui posisi anda.” Ucap pria itu kepadaku.
“Iyaa, aku tahu. Bahkan Aurel juga mengetahuinya.” Ucapku mengingat kejadian tadi siang.
“Bagaimana bisa, tuan?” Balas pria itu bingung.
“Entahlah, sepertinya Aurel menyimpan banyak rahasia.” Jawabku mengingat wajah gadis yang membuatku penasaran itu.
__ADS_1
“Apakah itu akan mengancam pangeran?” Tanya pria itu kembali.
“Sepertinya tidak, berdasarkan pengamatanku dia bukan gadis licik yang akan mengancam diriku. Aurel lebih seperti gadis cerdas dan dapat dipercaya.” Jelasku yang membuat pria dengan pakaian hitam itu mengerti.
“Namun, aku masih bertanya-tanya bagaimana Aurel mengetahui hal itu? Apakah istana segampang itu bocor?” Tanyaku bingung darimana Aurel mengetahui tentang penghianat disekitarku.
“Mungkin nona Aurel memiliki mata-mata juga?” Sahut pria itu.
“Sepertinya tidak…” Balasku tidak percaya.
Aku menyangkal opini itu, karena bagiku masih banyak hal yang diketahui oleh Aurel. Hal itu sangat tidak mungkin jika diketahui dari mata-mata yang ada di istana.
.
.
“Pangeran, berhati-hatilah dengan ratu. Sebentar lagi akan ada sesuatu yang akan terjadi. Jangan pernah dekat dengan yang mulia ratu apapun yang terjadi.” Ucap Aurel ketika kita sedang bersantai seusai membuat kue jahe tadi.
“Aku, masih tak mengerti.” Ucapku berpura-pura bingung untuk menggali sesuatu.
“Baiklah, jika begitu.” Balasku seraya membaringkan tubuh pada sofa yang ku tempati.
“Apakah pangeran mempercayai ucapanku?” Tanya Aurel ragu.
“Aurel… kadang aku bingung dengan dirimu. Banyak sekali misteri yang tak bisa aku pahami. Kau mengetahui banyak hal yang membuatku bertanya-tanya. Namun, aku percaya bahwa aku tidak pernah sekalipun meragukan dirimu. AKu sepenuhnya percaya, meskipun banyak tanda tanya di pikiranku.” Jelas pangeran usai menghembuskan nafas dalam-dalam.
“Baik, terima kasih pangeran. Aku hanya ingin mengubah sesuatu.” Balas Aurel yang membuatku menatapnya dalam.
.
.
__ADS_1
“Aku mempercayai Aurel sepenuhnya “Ucapku pada pria yang ada di balik jendela.
“Baik pangeran.” Ucap pria itu lalu pergi.
Aku memejamkan mata untuk menenangkan diri. Mungkin aku lebih nyaman tinggal disini daripada di istana. Istana memberikan tekanan dan ancaman tersendiri bagiku. Andai aku dapat tinggal disini, mungkin itu akan lebih menyenangkan. Tetapi hal itu tidak dapat aku lakukan karena aku harus menyingkirkan orang-orang yang merugikan dari jajaran pemerintahan kekaisaran ini.
Kubuka mataku, lalu beranjak pergi menuju meja kerja di dalam kamarku. Kubuka dokumen berisi tindakan kejahatan para anggota pemerintahan.
“Ibuu…kekaisaran ini semakin kotor.” Gumamku meratapi kondisi yang ada.
Aku membalik setiap dokumen yang ada. Namun, tiba-tiba aku memperoleh sebuah fakta baru. “Kenapa ratu tidak bergerak apapun untuk menyerangku?” Tanyaku mulai curiga.
Aku membaca kembali laporan dari pasukan bayanganku, di dalam laporan tertulis bahwa ratu sering melakukan pertemuan dengan beberapa petinggi kekaisaran. Pertemuan dilakukan secara diam-diam di ruangan miliknya dengan hanya didampingi pelayan pribadinya. Aku mulai melakukan pemeriksaan data laporan kunjungan para petinggi yang dekat dengan ratu. Satu persatu aku periksa laporan yang ada hingga menemukan laporan laporan aneh dari menteri keuangan.
“Kenapa menteri keuangan datang ke daerah timur bulan lalu?” Ucapku bingung.
“Bahkan tidak ada masalah apapun disana dan setahuku ia tidak memiliki kerabat atau mungkin keluarga disana.” Gumamku dengan mengerutkan kening.
Aku mulai menggali kembali apa yang sekiranya dilakukan oleh menteri keuangan disana. Setelah membaca segala pergerakan menteri keuangan berdasarkan laporan. Aku mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa menteri keuangan pergi karena arahan yang mulai ratu. Hal ini berdasarkan sehari sebelumnya menteri melakukan pertemuan bersama yang mulia ratu, yang tidak diketahui apa yang mereka bicarakan. Setelah pertemuan itu menteri keuangan mulai memberi surat izin untuk pergi ke daerah timur dengan alasan mengunjungi kerabat jauh. Namun, berdasarkan laporan tidak ada kunjungan ke kediaman manapun yang dilakukan oleh menteri keuangan ketika berada disana.
Aku bersiul hingga pasukan bayangan datang kembali. “Tolong gali lebih dalam terkait kedatangan menteri keuangan ke daerah timur.” Ucapku kepada mereka.
“Ada apa pangeran? Apakah ada yang janggal?” Ucap salah pasukan bayangan kepadaku.
“Aku merasa mereka seperti merencanakan sesuatu.” Sahutku dengan mengangkat salah satu alisku.
“Baik kami akan segera mencari tahu tentang hal yang pangeran minta.” Sahut yang lain.
“Berhati-hatilah.”
“Baik pangeran.” Ucap mereka serentak lalu pergi.
__ADS_1
Kira-kita ada fakta apa lagi yang akan terkuak. Sepertinya berkat sebuah petunjuk dari Aurel segalanya terlihat lebih jelas sekarang. Aku akan menunggu kabar dari pasukan bayangan tentang apa yang dilakukan menteri keuangan ketika kunjungan ke daerah timur. Lalu sepertinya aku harus mencari tahu siapa orang yang menghianatiku. Aku harus mulai menyeleksi orang-orang disekitarku. Aku tak ingin seorangpun menghalangi jalanku.
Bagiku aku sudah cukup selektif dalam memilih orang. Apakah aku melewatkan sesuatu? Apakah mungkin pelayan yang ada di ruanganku? Sepertinya tidak, karena aku sering memintanya keluar dari ruanganku. Atau mungkin salah seorang pasukan bayangan? Apakah mungkin mereka? Aku melakukan pemilihan yang sangat ketat untuk itu dan sepertinya tidak mungkin ada penghianat disana. Apakah salah seorang pengawal yang berjaga di ruanganku? Sepertinya tidak mungkin j8ga jika dia menguping kedalam atau mengintip, itu akan sangat terlihat. Atau mungkin asisten pribadiku? Aku terdiam mematung.