Penyelamatan Keluarga Lawrence

Penyelamatan Keluarga Lawrence
BAB 13. Latihan Bersama Ayah


__ADS_3

Hari ini matahari bersinar begitu cerah, angin berhembus pelan yang begitu damai. Hari ini aku dan ayah akan berjalan-jalan ke tempat pelatihan para pasukan elit.


“Ayah…ayah, apakah kita akan melihat para pasukan berlatih?” Tanyaku bersemangat.


“Iyaa…jika nanti Aurel bosan, beritahu ayah ya!” Ucap ayah seraya mengusap kepalaku.


Berdasarkan pengetahuanku di kehidupanku yang lalu, para pasukan elit memiliki tempat khusus untuk berlatih. Tempat tersebut memiliki fasilitas data perkembangan aurora yang mampu membantu para pasukan. Tiga bulan sekali para pasukan akan ditugaskan dalam misi berbahaya dengan tingkat diatas aurora mereka, hal tersebut ditujukan untuk mendorong potensi dalam diri para kesatria. Tidak heran jika pasukan elit begitu ditakuti di kekaisaran ini. Konon berdasarkan sejarah, seorang pasukan elit sudah lebih dari cukup untuk meratakan kediaman bangsawan kelas menengah kekaisaran.


"Ayah, apakah seleksi pasukan elit tidak memperdulikan latar belakang seseorang?" Tanyaku saat berada di kereta.


"Kami lebih peduli dengan kesetiaan, keteguhan, dan kekuatan." Jawab ayah dengan lembut.


"Diperlukan bakat alami untuk bergabung dalam pasukan elit." Sambung ayah menjelaskan.


"Ohhh, berarti rakyat biasa juga memiliki peluang untuk itu?" Lanjutku dengan antusias.


"Iyaa, namun jarang." Sahut ayah seraya mengusap pipiku.


Dalam kekaisaran ini, aurora yang kuat hanya diturunkan oleh para bangsawan. Umumnya, rakyat biasa tidak memiliki aurora yang besar. Para rakyat hanya memiliki aurora kecil yang digunakan untuk membantu kehidupan sehari-hari mereka. Contohnya adalah tukang roti yang memiliki aurora api untuk membantu membuat roti, para nelayan yang memiliki aurora air untuk membuat penangkapan ikan, para petani yang memiliki aurora angin untuk membantu panen. Kekuatan aurora yang besar pada rakyat biasa umumnya dimiliki oleh anak-anak hasil diluar nikah, orang-orang yang dikeluarkan dari daftar keluarga, dan bangsawan yang kehilangan kekuasaannya.


"Aurel, kita akan segera sampai." Ucap ayah dengan mata tertuju diluar jendela.


"Baik, ayah." Jawabku seraya merapikan pakaianku.


Gerbang hitam besar yang begitu megah. Dengan patung kepala naga yang terdapat pada ujung gerbang menambahkan aksen kemegahan pada bangunan itu. Memasuki gerbang, terpampang jelas bangun besar dengan warna putih.


"Ayah, indah sekali." Ucapku terkagum.


"Apakah Aurel menyukainya?" Tanya ayah padaku.


"Iyaa." Jawabku dengan mata berbinar-binar.


Kereta mulai melambat dan berhenti. Ayah menggendongku turun dari kereta. Angin pagi itu meniup rambutku dengan lembut, terasa damai dan perasaan sejuk.


Sepanjang jalan menuju ruangan berlatih, dapat kurasakan seluruh mata tertuju padaku. Selain itu, banyak pasukan yang membicarakanku. Aku merasa seperti bintang hari ini.


"Apakah nona itu Aurelia Lawrence?"


"Aku pikir begitu."


"Bukankah dia sangat muda untuk membangunkan aurora?"


"Nona lucu sekali yaa."


"Iyaa, sangat amat menggemaskan."


Setelah berjalan beberapa lama, akhirnya kami tiba di tempat latihan pedang. Memasuki ruangan terdengar suara pedang yang sering bertemu.

__ADS_1


Sringg...Sringg..


Hingga tanpa aku sadari, sebuah pedang melayang hampir mengenaiku.


Tak….


Aurora berwarna hitam itu menepis pedang yang akan datang padaku. Terdengar suara dentuman akibat dari pedang yang tertepis itu. Seketika satu ruangan hening dan seluruh mata tertuju padaku.


"Pedang siapa tadi?" Bentak ayah dengan suara menggema di seluruh ruangan.


Wajah seluruh pasukan menjadi pucat. Seorang ksatria mendekat dan berlutut di hadapan ayah.


"Maaf kapten, itu adalah pedagang saya." Ucapnya dengan keringat yang terus bercucur dari dahinya.


"Apakah kau sudah bosan hidup?" Tanya ayah datar.


"Maafkan saya kapten." Jawabnya dengan dahi menyentuh tanah.


"Ayah, Aurel tidak apa-apa." Sahutku berusaha mencairkan suasana.


"Tapi..Aurel, kamu hampir terluka." Balas ayah cemas.


"Bukankah itu hal yang wajar? Aurel sedang berada di tempat latihan pedang." Ucapku dengan seraya tersenyum.


"Baiklah, kamu bisa pergi sekarang." Ucap ayah kepada ksatria tersebut.


Pria itu bertubuh besar, dengan bekas luka yang terdapat pada sebelah kanan dahinya. Tubuhnya yang penuh dengan otot dan warna kulit yang eksotis membuat setiap lekuk ototnya begitu terlihat.


"Ayah, siapa dia?" Tanyaku dengan tangan menuju arah pria itu.


"Ohh, dia Charles." Ucap ayah seraya menatap ke arah pria itu.


"Kenapa dia sendiri, ayah?" Tanyaku kembali.


"Ohh, dia memang begitu. Kemampuan tak perlu diragukan lagi, dia sering disebut monster pembunuh." Jelas ayah padaku.


"Monster pembunuh?" Tanyaku bingung.


"Dia sering kehilangan kendali dalam menyerang, itu sebabnya dia lebih sering berlatih sendiri. Dia orang yang setia pada tuannya dan dapat diandalkan." Balas ayah yang akhirnya membuatku paham.


Setelah melihat-lihat tempat tersebut, ayah membawaku ke ruang kerjanya. Ketika masuk terlihat 1 kotak coklat yang berhasil mengambil alih fokusku.


"Aurel, kamu istirahat disini dulu yaa." Ucap ayah karena takut aku lelah.


"Iyaa ayah." Jawabku seraya membaringkan tubuhku ke sofa.


"Ayah punya hadiah untukmu, nanti kita coba." Jelas ayah dengan telunjuk mengarah ke arah kotak tersebut.

__ADS_1


"Apa itu, ayah?" Tanyaku penasaran.


"Pedang untukmu." Jelas ayah yang membuat ku terbangun karena bersemangat.


"Nanti kita coba, sekarang kamu istirahat. Ayah ingin menyelesaikan beberapa dokumen." Sambung ayah, kemudian duduk di meja kerjanya.


.


.


.


.


Telah dua jam berlalu, akhirnya aku terbangun dari tidurku yang pulas. Mataku yang masih buram dan nyawaku yang belum terkumpul. Terlihat ayah telah menyelesaikan dokumen miliknya.


"Ayah…" Ucapku dengan nada lemah.


"Iyaa, Aurel. Kamu sudah bangun?" Tanya ayah dengan lembut.


"Ayah, Aurel haus." Ucapku dengan tangan sibuk usap mata.


"Ini yaa." Jawab ayah dengan membawa segelas air.


Beberapa waktu berlalu, nyawaku sudah mulai kembali. Ayah membawaku ke ruang berlatih miliknya. Tempat yang sepi dan terasa lebih mencekam. Ayah menyalakan obor dengan sekali jentikan jari.


"Ok Aurel, kita akan memulai latihan hari ini." Ucap ayah seraya memberikan pedang yang terdapat pada kotak tadi padaku.


Pedang itu berwarna silver dengan ornamen permata berwarna emas di tengahnya.


"Ikuti ayah perlahan-lahan." Jelas ayah dengan aurora kegelapan yang mulai menyelimuti tubuhnya.


Aurora tersebut begitu mencekam meskipun hanya sedikit saja yang ayah keluarkan. Cahaya di ruangan tersebut mulai meredup dan hawa dingin membuat orang sulit bernapas.


Pedang ayah mengayun sempurna mengenai semua target yang ada. Ayah begitu mengagumkan, aurora hitam yang menyelimuti tubuhnya kini mulai memudar.


"Aurel lakukan seperti ayah tadi, tak perlu buru-buru. Pelan-pelan saja." Ucap ayah mengarahkanku.


Target berdiri tepat di depanku. Kugenggam erat pedang yang ada pada tanganku. Perlahan kukeluarkan aurora milikku, yang kini telah mulai menyelimuti tubuhku. Ayah menatapku dengan begitu serius, ayah takut jika aku terluka karena latihan ini. Namun untuk bisa menjadi lebih kuat, aku harus melalui ini. Dengan yakin mulai ku ayunkan pedang milikku.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2