Penyelamatan Keluarga Lawrence

Penyelamatan Keluarga Lawrence
BAB. 26 Kunjungan Ke Keluarga Bangsawan Daerah Barat


__ADS_3

Cuaca hari ini begitu cerah. Aku sudah siap mengenakan gaun berwarna biru dengan dibantu oleh Ishana tadi. Ishana diberitahu oleh kepala pelayan bahwa aku ada kegiatan pesta minum teh bersama. Kakek tidak memberitahu apapun padaku, meskipun kami telah pergi bersama kemarin lusa untuk membuat ukiran pedangku.


Aku melihat dari balkon kamar bahwa kereta sudah siap. Dari balkon pula terlihat kakek sedang menunggu di bawah bersama kepala pelayan. Karena tidak ingin kakek menunggu lama, ku putuskan untuk turun secepat mungkin bersama Ishana.


Ketika sampai di bawah, kakek menyambutku dengan begitu bersemangat. “Selamat pagi Aurel, bagaimana pagimu?”


“Sangat baik kakek. Hari ini kita akan pergi kemana kakek?” Tanyaku penasaran.


Kakek hanya tertawa dan langsung berjalan menuju kereta. Aku menatap kepala pelayan mengharapkan sebuah jawaban. Namun tidak berbeda dengan kakek, kepala pelayan hanya diam dengan menahan tawa. Aku ingin bertanya kepada Isahana, tapi sepertinya dia juga tidak tahu. Apa boleh buat, aku harus menunggu hingga sampai ke tempat tujuan.


Takk…Takk..Takk…


Kereta mulai berjalan, aku terus menatap kakek yang sedari tadi terus tersenyum. Namun telah lama aku memperhatikan kakek, tak ada jawaban yang kudapatkan.


“Ada apa Aurel?” Tanya kakek yang melihat wajah lemasku.


“Tidak apa-apa, kakek jahat tidak memberi tahuku.” Gerutuku pada kakek yang hanya dibalas tawa renyah olehnya.


Di tengah perjalanan kami berhenti disebuah toko, kakek turun meninggalkanku di kereta dengan para pengawal di luar. Kakek selalu begitu, pergi tanpa memberitahu apapun. Bagiku kakek adalah sosok yang penuh dengan misteri.


Sekitar 10 menit berlalu, kakek masih belum kembali. Hal itu membuatku sedikit khawatir dengan keberadaan kakek. “Kakek pergi kemana?” Tanyaku kepada pengawal diluar melalui jendela.


“Kurang mengerti nona, tuan hanya menitipkan nona kepada kami. Kemudian pergi dengan dua pengawal ke suatu tempat.” Ucap salah seorang pengawal yang berjaga diluar.


Tak lama setelah itu, kakek kembali. Kakek masuk ke dalam kereta dengan kereta dengan kotak besar berwarna coklat dan sebuah kotak berukuran sedang untukku.


“Aurel ini kue kering untukmu.” Ucap kakek menyerahkan kotak berukuran sedang padaku.


“Apa ini kakek?” Tanyaku penasaran.


“Kue kering, kau akan menyukainya.” Jelas kakek padaku.

__ADS_1


Kakek meletakkan kotak besar di sisinya. Aku penasaran dengan apa isi didalamnya. “Kakek itu apa?” Tanyaku ingin tahu.


“Ohh, ini kue kering untuk seseorang. Ia sangat menyukainya.” Jawab kakek agar aku mengerti yang aku balas dengan sebuah anggukan.


Kereta kami kembali berjalan. Kami menempuh perjalanan selama 40 menit. Selama itu pula aku menebak-nebak kemana kita akan melakukan pesta minum teh. Setelah beberapa saat berlalu akhirnya kita sampai ke sebuah kediaman keluarga bangsawan. Di gerbangnya terdapat lambang keluarga berbentuk 2 buah pedang yang menyilang. Kediaman itu sangat besar, dengan corak merah di beberapa sisinya.


“Akhirnya kita akan sampai.” Gumam kakek dengan nada tak sabar.


Dari kejauhan terlihat seorang wanita yang tak asing dimataku. Wanita dengan rambut ikal dan senyum menawan itu kini menunggu didepan pintu kediaman untuk menyambut kami.


“Kepala keluarga Lawrence dan nona Lawrence selamat datang. Kita bertemu kembali setelah dua hari yang lalu bertemu.” Ucap wanita itu.


“Nona Hailey, apakah ini kediamanmu?” Ucapku terkejut.


“Iya nona.” Ucapnya dengan tawa kecil khasnya.


“Dimana ayahmu?” Tanya kakek bingung.


Tiba-tiba ada suara yang menyapa kakek dari belakang yang membuatku cukup terkejut. “Gautam!!” Panggil sosok itu.


“Apakah ini nona kecil yang sedang ramai dibicarakan di kekaisaran ini?” Ucap pria itu.


“Perkenalkan nama saya Aurelia Lawrence, anda dapat memanggil saya Aurel.” Balasku dengan gerakan sesuai dengan etika kekaisaran.


“Astaga, gerakan anda sangat sempurna nona.” Ucap wanita yang baru saja tiba dan berdiri disamping sahabat kakek.


Melihat wanita itu aku merasa tidak asing, seakan aku pernah bertemu dengannya di suatu tempat. Sayangnya aku lupa dimana aku melihat wajah itu.


“Perkenalkan nama saya Tobias Gudytha, saya adalah sahabat kakek anda. Kemudian ini adalah istri saya Anastasia Gudytha.” Ucap sahabat kakek untuk memperkenalkan diri dan juga wanita sampingnya.


“Akhirnya saya bisa bertemu dengan anda nona.” Ucap nyonya Gudytha padaku.

__ADS_1


“Saya juga senang bertemu dengan anda, nyonya.” Balasku dengan senyum ramah.


“Ohh iya, aku punya hal yang pasti kau suka Tobias.” Ujar kakek yang membuat wajah sahabatnya itu penasaran.


Kakek berjalan masuk ke dalam kereta, yang kemudian keluar dengan membawa sebuah kotak berukuran besar yang tadi ia bawa dari perhentian kereta.


“Apakah itu kue kering favoritku?” Tanya sahabatnya bersemangat.


“Tentu saja.” Balas kakek dengan tertawa.


Setelah berbincang-bincang di depan, kepala keluarga Gudytha mempersilahkan kami masuk ke dalam kediaman mereka. Kakek pergi bersama kepala keluarga Gudytha untuk berbincang-bincang bersama. Sedangkan aku pergi bersama nyonya dan nona Gudytha.


“Bagaimana perasaan nona ketika tiba di daerah barat?” Tanya nyonya Gudytha ketika kami sedang dalam perjalanan menuju taman.


“Saya sangat tidak sabar datang kemari sejak pertama kali kakek memberitahu kami akan berkunjung ke daerah barat. Setelah sampai saya sangat kagum dengan keindahannya. Begitu banyak pohon dan daerah yang begitu asri.” Jelasku bersemangat.


“Ohh begitu, apakah nona nyaman disini?” Tanya nona Gudytha padaku.


“Tentu saja sangat nyaman.” Jawabku dengan tersenyum senang.


“Jika nona mau, anda boleh menginap disini. Cucuku pasti akan senang anda disini, kebetulan sekarang ia sedang beristirahat.” Tawar nyonya Gudytha dengan ramah.


“Saya akan coba bertanya pada kakek. Suatu kebanggan bagi saya mendapatkan penawaran tersebut.” Jawabku dengan sopan.


“Iyaa, anda boleh meminta ijin terlebih dahulu.” Balas nyonya Gudytha memaklumi.


“Kita akan menikmati teh di taman keluarga Gudytha, semoga nona Lawrence merasa nyaman.” Sahut nona Gudytha yang berjalan disampingku.


“Aku merasa sangat amat senang bisa menikmati teh bersama keluarga Gudytha yang hebat ini.” Jawabku dengan ramah.


Kemudian kami melewati lorong yang akan menuju ke taman. Mendadak aku terdiam melihat salah satu sudut lorong tersebut. Lukisan wanita yang tak asing dimataku. Nyonya dan nona Gudytha menyadari aku yang tiba-tiba berhenti. “Ada apa nona?” Tanya nona Gudytha bingung.

__ADS_1


Nyonya Gudytha mengikuti arah pandanganku tertuju, ia menyadari aku sedang memperhatikan apa. “Itu adalah mendiang putriku bungsuku.” Ucap nyonya Gudytha yang membuatku terkejut.


“Jadi anda adalah ibu yang mulia ratu sebelumnya?” Sahutku dengan terkejut.


__ADS_2