Penyelamatan Keluarga Lawrence

Penyelamatan Keluarga Lawrence
BAB. 28 Perbincangan dengan Pangeran Pertama


__ADS_3

“Aurel…” Sapa sosok itu.


Dari arah belakangku terlihat seorang anak laki-laki dengan rambut gelap berwarna biru tua yang berkilau. Ia mendekat ke arahku, nona, dan nyonya Gudytha yang sedang menikmati teh. Senyum yang sudah lama tak kulihat.


“Pangeran kemarinlah…” Panggil nyonya Gudytha.


“Hai nenek, kalian sedang menggelar pesta minum teh?” Sahut pangeran seusai melihat teh dan beberapa kue kering.


“Iyaa, bagaimana perasaanmu setelah istirahat? Apakah sudah lebih baik?” Tanya nona Gudytha seraya meletakkan punggung tangannya di kening pangeran pertama.


“Aku sudah tidak terlalu lelah, bibi.” Jawab pangeran dengan tawa renyah yang enak didengar.


Aku memperhatikan percakapan mereka yang begitu akrab. Mereka terlihat seperti orang yang sering bertemu dan berbagi cerita. Siapapun pasti tidak percaya mereka sudah tidak bertemu bertahun-tahun lamanya.


Pangeran menoleh ke arahku, seakan bertanya-tanya akan sesuatu. “Aurel, sejak kapan kau disini? Kenapa tidak ada orang yang memberitahuku.” Ujar pangeran pertama dengan nada kesal.


Nyonya dan nona Gudytha tertawa melihat tingkah laku pangeran yang cukup menggemaskan. Tiba-tiba ia memelukku yang membuatku cukup terkejut. “Aurel, kenapa tidak memberitahuku bahwa kau kemari.” Ucap pangeran pertama dengan polos.


“Maaf pangeran, anda datang kemari sejak kapan?” Tanyaku pada pangeran yang terus memelukku.


“Sejak kemarin.." Jawab pangeran pertama dengan wajah yang masih murung.


"Hahahaha, lucu sekali cucuku ini." Sahut nyonya keluarga Gudytha tertawa melihat tingkah laku pangeran.


Setelah beberapa saat berlalu akhirnya pangeran melepaskan pelukannya. Nyonya dan nona Gudytha tidak ingin mengganggu kami akhirnya memutuskan meninggalkan kami bermain bersama di taman itu.


Pangeran pertama menarikku menuju gazebo yang terdapat di taman itu. Gazebo tersebut berukuran 3x3 meter dengan warna coklat yang terlihat begitu indah.


Pangeran berbaring di gazebo itu, kemudian memejamkan mata. Aku bingung harus melakukan apa, akhirnya aku memutuskan untuk duduk saja.


"Apakah kau tidak nyaman denganku?" Ucap pangeran dengan mata tetap tertutup.

__ADS_1


"Tidak pangeran, bagaimana pangeran berpikir seperti itu?" Jawabku terkejut dengan apa yang pangeran ucapan baru saja.


"Kau kadang terlihat mengacuhkan aku." Gerutu pangeran padaku.


Aku bingung harus merespon seperti apa, karena pada dasarnya kita belum terlalu dekat. Aku baru bertemu dengan pangeran pertama sekali di kehidupan ini. Aku tidak ingin mengambil resiko di kehidupan ini untuk terlalu mendekatkan diri dengan keluarga istana. Aku sempat terpikir untuk menjadi seorang ratu, namun aku tidak ingin terlalu mengejar hal itu.


"Apakah kau lebih senang bermain dengan pangeran kedua?" Tanya pangeran kembali.


Aku menggelengkan kepala, pangeran membuka salah satu matanya untuk melihatku. “Lalu kenapa kau selalu menghindar?” Tanya pangeran pertama padaku.


“Suratku untukmu? Kenapa tak ada balasan? Sebenci itu kah kamu? Atau karena aku adalah pangeran yang dibuang?” Sambung pangeran dengan nada tinggi yang membuatku terkejut.


“Bukan begitu pangeran.” Ucapku dengan suara kecil dan tak berani menatap pangeran.


“Lalu?” Tanya pangeran kembali.


“Aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada anda?” Jawabku dengan nada takut.


“Apa maksudmu? Itu hanya alasan bukan?” Ujar pangeran kesal lalu memalingkan badan.


“Maksudmu?” Tanya pangeran karena tidak mengerti.


“Salah satu orang disekitarmu selalu membocorkan segalanya pada ratu.” Jelasku pada pangeran.


“Darimana kau tahu?” Tanya pangeran padaku.


Aku terdiam sejenak, pasalnya aku mengerti hal ini berdasarkan kehidupanku sebelumnya. Saat itu salah satu orang disekitar pangeran pertama selalu melaporkan kegiatan dan apa saja yang pangeran pertama lakukan kepada ratu. Sehingga ratu mampu membuat sebuah rencana yang begitu matang untuk mencelakai pangeran pertama. “Maaf pangeran saya tidak bisa memberitahunya.” Jelasku pada pangeran.


Pangeran mengerutkan kening, ia masih tidak mengerti aku mendapatkan informasi dari mana. Setelah itu pangeran menghembuskan nafas berat, yang membuatku cukup panik. “Terima kasih sudah memberitahuku, setidaknya sekarang aku mengerti kau tidak membenciku dan ada orang jahat di sekitarku.” Sahut pangeran dengan lega.


“Sama-sama pangeran.” Ujarku membalas ucapan pangeran.

__ADS_1


Kami terdiam canggung, setelah perdebatan tadi membuat aku bingung harus membahas topik apa dengan pangeran.


“Ehmmm…Aurel ayo pergi ke dapur kediaman ini. Keluarga Gudytha memiliki juru masak handal, ayo membuat kue bersama.” Ajak pangeran padaku.


Aku mengangguk setuju. Lalu kami berlari bersama-sama menuju dapur yang berjarak cukup dekat dari taman. Sepanjang perjalanan kami melihat para pelayan sedang memindahkan bahan makanan ke dapur. Kata pangeran tadi pagi ada beberapa bahan makanan yang sampai di kediaman ini. Maka dari itu para pelayan terlihat sibuk.


“Halo Bavol, aku datang.” Sapa pangeran ketika memasuki ruangan.


Didalam terdapat banyak sekali pelayan yang ternyata sedang memasak karena mendekati jam makan siang. “Halo, pangeran..” Sahut juru masak yang bernama Bavol itu.


Kedatangan pangeran seakan menyita banyak perhatian di dalam dapur. Beberapa orang menyapa dan di balas ramah oleh pangeran. Hingga akhirnya Bavol bertanya tentang aku.


“Permisi, pangeran. Apakah nona itu adalah Aurelia Lawrence?” Tanya Bavol bersemangat.


“Iyaa, benar. Perkenalkan ini Aurelia Lawrence.” Ujar pangeran pertama untuk memperkenalkanku.


Seluruh mata kini tertuju padaku. Wajah para pelayan serta Bavol terlihat terkejut dan tidak percaya. “Perkenalkan nama saya Aurelia Lawrence.” Ucapku memperkenalkan diri sesuai dengan etika bangsawan.


Wajah Bavol dan para pelayan begitu terkejut. Mereka tidak mengira aku akan memperkenalkan diri seperti itu. Berdasarkan tradisi yang ada, seorang bangsawan tidak perlu terlalu menunjukan hormat kepada orang yang statusnya lebih rendah dari merek.


“Bagi kami, pangeran sudah cukup ramah dengan bisa bergaul dan dekat dengan kami. Namun nona, anda mencuri hati kami semua disini.” Ucap salah seorang pelayan di ruangan itu.


Pangeran tertawa mendengar ucapan para pelayan dan Bavol. Namun tidak ada ekspresi terkejut dari wajahnya. Seakan ia sudah menduga akan hal itu. “Aurel memang seperti itu.” Ucapnya dengan tawa yang begitu bahagia.


“Pangeran dan nona ada apa kemari? Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Bavol kepada kami.


“Bavol, kami bosan. Tolong ajari kami membuat kue.” Jawab pangeran dengan nada lemas.


“Ohhh begitu, baiklah. Bagaimana kalau kita membuat kue jahe karena sedang musim dingin?” Ujar Bavol padaku.


Aku dan pangeran pertama sontak menatap satu sama lain. Terlihat ekspresi tidak sabar dan bersemangat dari kedua wajah kami. Bavol langsung meminta bantuan pada salah satu pelayan disana untuk menolong kami. Kami mencuci tangan dengan arahan dari pelayan tersebut. Kemudian pelayan tersebut membantu kami mengenakan celemek agar pakaian kami tidak kotor dan memberi kami sarung tangan plastik.

__ADS_1


“Siapa nama kakak?” Tanyaku penasaran ketika pelayan itu membantuku memasangkan sarung tangan plastik.


__ADS_2