
“Siapa nama kakak?” Tanyaku penasaran ketika pelayan itu membantuku memasangkan sarung tangan plastik.
“Mary, nona.” Jawab pelayan itu dengan malu-malu.
“Ohhhh, nama yang cantik sekali.” Sahutku memuji pelayan itu.
Mary mengambil tepung, telur, bubuk jahe, mentega, bubuk kayu manis, gula dan juga bubuk susu. Semua bahan yang telah diambil disusunnya di atas meja yang sudah terdapat berbagai alat yang telah disiapkan juru masak dari bawah meja. Setelh usai menyiapkan segalanya mary mulai mengenakan celemek dan juga sarung tangan plastiknya.
“Apa langkah pertamanya?” Tanya pangeran bingung.
“Yahhh… aku pikir pangeran mengerti.” Ucapku dengan wajah datar.
“Hehehe, aku juga belum pernah buat.” Jawab pangeran seraya menggaruk tengkuk kepalanya.
Bavol dan mary tertawa mendengar perbincanganku dengan pangeran. “Pangeran, nona, sudah yaa. Ayo kita lanjutkan membuat kuenya.” Ucap Mary lembut yang membuatku dan pangeran menggaguk kompak.
“Tahap pertama aduk mentega hingga pucat, masukkan gula, aduk sampai tercampur rata dan lembut. Lalu masukkan 1 kuning telur, aduk rata dan masukkan 1 lagi kuning telur, aduk rata.” Jelas Mary padaku dan pangeran.
Kami membuat kue jahe dengan bantuan mary sepenuhnya karena Bavol harus menyiapkan makan siang untuk keluarga ini. “Apakah ini sudah cukup Mary?” Tanyaku pada Mary.
“Sudah nona.” Ucap Mary dengan ramah.
Mary mengambil wadah lain yang berada di atas meja. Kemudian menjelaskan tahap selanjutnya. “Tahap yang kedua, dalam wadah terpisah campur terigu, susu, jahe dan kayu manis bubuk. Ayak, masukkan ke adonan telur bertahap.” Jelas Mary yang langsung aku dan pangeran lakukan.
Aku dan pangeran membagi tugas. Aku bagian menganduk sedangkan pangeran yang masukkan bahan-bahan sesuai dengan arahan Mary. “Ok, pangeran dan nona sudah cukup yaa….” Ucap Mary ketika melihat adonan kami.
Setelah itu Mary membantu untuk menggiling adonan hingga pipih. Setelah adonan siap, Mary memberikan cetakan kepada kami berdua agar mencetak adonan yang telah dipipihkan.
“Aurel aku akan membuatkan yang cantik agar kamu mau bertukar dengan ku.” Ucap pangeran dengan pandangan terfokus pada adonan miliknya.
Aku hanya tertawa mendengar ucapan pangeran. Karena mendengar ajakan pangeran aku berusaha agar hasil kue yang aku buat tidak terlalu buruk. Setelah aku dan pangeran telah usai mencetak adonan, Mary menyusun adonanku dan pangeran di nampan. Setelah itu Mary memasukkan nampan ke dalam panggang yang terdapat di sisi kiri dapur.
Setelah beberapa menit berlalu akhirnya kue jahe kami matang. Mary mengeluarkan kue kami dari dalam panggangan, kemudian meletakkannya di atas meja. Mary mengingatkan kami agar tidak dekat-dekat pada nampan kue yang masih panas itu.
Ketika kue sudah cukup dingin, Mary memberikan ku dan pangeran kantong plastik segitiga berisi adonan gula dengan berbagai warna untuk mempercantik kue jahe kami.
“Cantik tidak, Mary?” Tanyaku setelah usai menghias kue jahe milikku.
“Cantik nona.” Jawab Mary senang.
__ADS_1
Setelah puas menghias aku melihat pangeran yang masih fokus dan berusaha menutupi dariku. Aku diam-diam mengintip dari belakang. Namun sayang tindakanku ketahuan oleh pangeran. “Aurel tidak boleh curang. Ini untukmu, aku ingin membuat kejutan untukmu.” Ucap pangeran untuk menghentikan tindakanku.
.
.
.
“Bagaimana kabarmu Gautam?” Tanya Tobias padaku.
“Baik, banyak hal bahagia di masa tuaku ini.” Balasku dengan tawa bahagia.
“Hahaha, aku senang melihatmu bahagia.” Ucap Tobias seraya menikmati secangkir teh dihadapannya.
“Aku tidak mengira bahwa aku dapat merasakan kebahagiaan, bahkan setelah kepergian istriku.” Ucapku dengan menghembuskan nafas berat.
“Percayalah Gautam, segalanya ada gantinya.” Sahut Tobias dengan tawa renyah.
“Bagaimana kabarmu?” Tanyaku kembali.
“Seperti yang kau lihat, aku bahagia sama dengan mu. Mungkin ada beberapa hal yang cukup mengganggu pikiranku. Tapi tak masalah, aku bisa menenangkan diriku sendiri.” Jelas Tobias dengan nada sedikit berat.
“Apa yang mengganggu pikiranmu, kawan?” Tanyaku berharap tobias menjelaskan agar aku mampu menolongnya.
“Kau khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk padanya?” Tanyaku dengan serius.
“Tentu saja, kau tahukan sejahat apa ratu.” Guman Tobias dengan nada sedih.
“Aku tidak mungkin membawa pangeran untuk tinggal disini. Ia memiliki kewajiban untuk meneruskan tahta.” Sambung Tobias dengan lemas.
“Apakah kau sudah mengikhlaskan kepergian putrimu?” Tanyaku dengan sedih.
Aku masih ingat seberapa hancur keluarganya ketika kepergian ratu, bahkan istrinya tidak mau makan karena terlalu sedih. Bahkan sebelum kepergiannya putri bungsunya itu diasingkan oleh kaisar di menara pengasingan yang terletak di sebelah barat wilayah istana. Segalanya menjadi sebuah tamparan yang sangat keras. Ketika sang kaisar langsung mengangkat selirnya untuk mengisi posisi ratu. Berdasarkan tradisi, pengisian posisi ratu dilakukan 1-2 bulan ketika kepergian ratu sebelumnya.
“Aku sudah lama mengikhlaskannya meskipun kadang melukai hatiku.” Ujar Tobias dengan mata berkaca-kaca.
“Melihat cucumu membuatku teringat dengan putri bungsuku, Gautam.” Sambung sahabatku itu.
“Sekilas memang benar.” Jawabku memahami maksud Tobias.
__ADS_1
“Sepertinya cucumu itu sangat amat berbakat.” Ucap Tobias dengan
“Iya, aku berpikir juga begitu. Terkadang aku berpikir dia sudah berusia 17 tahun. Terkadang Aurel tidak seperti anak seusianya.” Jelasku mengingat setiap hal yang telah Aurel lakukan.
.
.
“Kakek bagaimana kita membuat kebijakan pembatasan pembelian bahan untuk bahan yang sedang langka?” Ucap Aurel ketika membaca dokumenku.
“Kenapa begitu Aurel?” Tanyaku penasaran.
“Supaya semua orang dapat membelinya dan tidak kehabisan sehingga semakin langka.” Jelas Aurel membuatku kagum.
Aku tidak pernah menemukan anak sepintar dia dan juga masih tidak menyangka dia adalah cucuku. Bahkan sedewasanya Louis ketika seusianya masih tak sebanding dengan Aurel.
.
.
“Aku harap cucumu dapat bahagia.” Ucap Tobias dengan senyuman tulus.
“Aku dengar cucumu juga datang kan?” Tanyaku pada Tobias yang membuatnya terkejut.
“Darimana kau tahu?” Tanya Tobias tidak menduga aku mengetahuinya.
“Tobias kau lupa aku adalah kepala keluarga Lawrence.” Ucapku yang membuatnya tertawa.
“Hahaha, aku terkadang lupa kau adalah kepala keluarga Lawrence. Telinga dan mata Lawrence yang terkenal ada dimana-mana.” Sahut Tobias dengan tertawa puas.
“Aku bingung kenapa tiba-tiba cucuku datang kemari, aku bahkan terkejut dengan kedatangannya.” Ucap Tobias bingung.
“Mungkin ia merindukan keluarga ibunya. Bukankah kalian sudah lama tidak bertemu?” Tanyaku kembali.
“Iyaa, benar. Rumah ini begitu bahagia karena kedatangannya. Aku harap dia bisa tinggal beberapa minggu disini.” Ucap Tobias dengan penuh harapan.
“Mungkin pangeran akan tinggal selama tiga minggu disini atau mungkin lebih.” Ucapku setelah berpikir beberapa saat.
“Kenapa kamu bisa seyakin itu, Gautam?” Tanya Tobias penasaran.
__ADS_1
“Jarak daerah tengah dengan barat cukup jauh dan pangeran sudah lama tidak bertemu dengan kalian. Ia tidak mungkin kembali terlalu cepat.” Jelasku yang membuat Tobias paham.
“Baiklah jika begitu, semoga apa yang kau perhitungkan benar.” Sahut Tobias dengan hati lega.