
"Bagaimana Aurel hari ini?" Tanya ayah dengan nada cukup serius.
"Seperti biasanya, Aurel penuh dengan kejutan." Jawabku dengan serius pula.
"Apa pendapatmu jika Aurel ke istana untuk..." Ucap ayah dengan mata menatap ke arah jendela.
"Tidak." Potongku tegas.
"Tadi ayah diundang kaisar secara langsung untuk makan siang bersama." Jelas ayah padaku.
.
.
.
"Kepala keluarga Lawrence bagaimana kabarmu?" Ucap kaisar pada kepala keluarga tersebut.
"Baik, bagaimana kabar mu Kaisar?" Jawab Gautam Lawrence basa-basi.
Ruangan begitu tenang, para pelayan telah selesai menata makanan. "Lawrence, seperti perekonomian kekaisaran ini sedang sangat amat baik ya…" Celetuk Kaisar dengan menikmati segelas teh.
"Iyaa… hasil panen juga melimpah." Jawab Kepala keluarga Lawrence santai.
Mereka membicarakan banyak hal mengenai kekaisaran ini. Hingga pada suatu saat Kaisar membahas mengenai penerus tahta kekaisaran.
"Menurutmu Lawrence, siapakah yang akan menjadi Kaisar setelahku." Tanya Kaisar penasaran.
"Selama ini keluarga Lawrence selalu berlaku netral dalam hal penerus tahta. Lalu apa maksud dari Kaisar bertanya seperti itu? Apakah ingin melakukan pengubahan kubu bangsawan dengan menggunakan nama keluarga Lawrence?" Cetus kepala keluarga itu kesal.
"Saya tidak bermaksud, saya hanya bertanya. Saya tahu anda sangat sensitif mengenai topik ini, terutama karena kedatangan para pangeran ke kediaman anda." Jawab Kaisar berusaha meredam emosi pria di dekatnya.
Suasana ruangan menjadi begitu menegangkan, tampak raut wajah serius pada kedua pria penting kekaisaran. Setelah beberapa waktu berlalu, sang kepala keluarga menghembuskan nafas kasar.
"Siapapun boleh menjadi Kaisar nanti. Asalkan tidak mengganggu keluargaku, terutama cucu perempuanku Aurel." Cetus kepala keluarga itu.
"Tapi Lawrence… cucumu itu sudah mengambil hati banyak orang, itu yang diperlukan oleh seorang ratu." Ucap Kaisar seraya menatap serius lawan bicaranya.
"Saya tidak mau cucuku..." Ucap kepala keluarga Lawrence.
"Biarkan saya jaminannya." Potong Kaisar untuk menyakinkan.
Pikiran kepala keluarga itu bimbang, ragu untuk mempercayai ucapan kaisar. Namun Sang Kaisar berusaha keras untuk itu, demi kekaisaran ini. Dia memang bukan Kaisar yang baik, tapi dia masih mencintai negerinya.
Kaisar mengangkat tangannya, diikuti pelayan yang mendekat. Entah apa yang dibisikkan Kaisar kepada pelayan pribadinya itu. Namun tak lama dari itu, sang pelayan datang dengan membawa nampan berisi kertas, pena, dan stempel Kaisar.
Kaisar menuliskan beberapa kalimat, lengkap dengan tanda tangan dan stempel miliknya. Stempel itu bukan barang sembarangan, ada nama baik kekaisaran yang dipertaruhkan disana.
__ADS_1
Kepada yang terhormat Kepala Keluarga Lawrence..
Saya Kaisar Richard sang matahari kekaisaran, membuat perjanjian dengan mempertaruhkan nama saya dan kekaisaran ini kepada Keluarga Lawrence. Demi untuk mengangkat Aurelia Lawrence sebagai pendamping salah satu calon penerus tahta, saya berjanji untuk melindungi Aurelia Lawrence dari segala macam hal yang akan terjadi kedepannya. Selain itu, saya Kaisar Richard memberikan hak kepada Aurelia Lawrence untuk menentukan pangerannya sendiri.
^^^Kaisar Richard.^^^
Surat yang membuat sang kepala keluarga terkejut membacanya dan akan memikirkan permintaan serius Sang Kaisar. Semoga perjanjian ini dapat menjadi jaminan Aurel aman jika berada di istana suatu hari nanti.
.
.
.
"Lalu apakah ayah setuju?" Tanyaku pada ayah.
"Menurutmu bagaimana Louis?" Tanya ayah kembali.
"Boleh…jika jaminan Kaisar benar-benar dapat dipercaya." Jawabku dengan datar.
Ayah terdiam, hatinya bimbang untuk memutuskan hal ini. Mungkin jika itu bukan Aurel, ayah tidak akan seberat ini memutuskan.
"Saya akan menemui Kaisar terkait hal ini." Sambungku tegas.
"Baiklah, terkait hal ini ayah akan mengikuti keputusanmu." Jawab ayah seraya menghembuskan nafas berat.
"Ayah…." Sambut Aurel ceria dengan melompat dari tempat tidurnya.
"Iyaa, sayang.." Ucapku lembut seraya membelai rambutnya.
"Ayah apakah sudah makan?" Tanya Aurel penasaran.
"Belum…, Aurel sudah makan?" Tanyaku kembali.
"Sudah ayah, Ishana membawa soup yang enak sekali. Aurel ada biskuit untuk ayah, tadi Aurel sisakan satu. Ayah ayo coba…" Jawab Aurel dengan menggenggam sebuah biskuit.
"Wahhh, terimakasih Aurel." Ucapku menerima biskuit itu.
"Ayah ayo bacakan dongeng untuk Aurel tidur." Rengek Aurel padaku.
"Ayo, ayah akan bacakan dongeng yang indah untuk Aurel." Sahutku semangat.
Aurel berlari mengambil buku cerita yang ada di mejanya, lalu memberikannya padaku.
"Dahulu kala…"
.
__ADS_1
.
.
"Ketua…." Ucap Charles padaku seraya melambaikan tangan di depan wajahku.
"Ehh iyaaa.." Jawabku terkejut.
"Ketua kenapa? Tatapan anda hari ini kosong sekali?" Tanya pria itu padaku.
pikiranku kosong, ucapan ayah kemarin berhasil memberikan pukulan dalam padaku. " Kaisar ingin putriku mendampingi salah satu pangeran." Jawabku sendu.
"Nona Aurel akan masuk istana?" Balasnya dengan nada sedih
"Tidak apa-apa semua akan baik baik saja." Ucapku padanya.
"Iya Ketua." Ucap Charles dengan tatapan sedih.
"Heyy….ayolah, harusnya aku yang sedih. Kenapa kamu tiba-tiba sedih?" Cetusku untuk menghiburnya.
"Tidak apa-apa ketua, aku hanya merasa kasihan juga nona harus masuk ke istana yang kejam itu." Jawabnya yang membuatku terdiam.
Mendengar ucapan Charles membuatku semakin khawatir dengan kondisi Aurel. Dalam sejarah banyak sekali kasus pembunuhan kepada permaisuri. Permaisuri sebelumnya meninggal karena diracuni dan sampai sekarang masih belum terbongkar siapakah dalangnya. Namun menurut beberapa pihak dalang dari pembunuhan itu adalah permaisuri yang saat ini menjabat.
Memang menjadi pendamping pangeran tidak menjamin akan menjadi permaisuri kedepannya, tetapi lebih baik mencegah hal tersebut.
"Sudah ayo, kita kumpul bersama yang lain." Ucapku untuk mengalihkan topik.
"Baik."
Kami berjalan menuju aula utama. Disana sudah terdapat banyak anggota. Salah seorang anggota datang mendekatiku.
"Ketua sebentar lagi akan mendekati musim dingin, kita perlu menyiapkan diri untuk menjaga perbatasan utara." Ucapnya padaku.
Tanpa kusadari musim dingin sudah dekat. Tinggal sebulan lagi hingga waktu musim dingin tiba. Mungkin aku harus menghabiskan waktu-waktu yang ada untuk mempersiapkan diri dan bersenang-senang bersama Aurel.
"Bagaimana kalau besok aku mengajak Aurel jalan-jalan?" Ucapku dalam batin.
"Apakah ada rekomendasi tempat yang bagus untuk berjalan-jalan?" tanyaku pada orang-orang dalam ruangan itu.
Seketika mereka terdiam, mungkin pertanyaanku terlalu mendadak.
"Jalanan utama di kekaisaran, Ketua." Sahut salah seorang anggota.
"Iyaa, betul. Disana banyak sekali makanan manis yang disukai anak-anak." Sahut anggota lainnya.
"Dengar-dengar ada toko mainan yang baru buka di sana. Ketua ingin mengajak nona Aurel jalan-jalan?" Ucap salah seorang anggota.
"Iyaa, seperti ide kalian bagus. Terimakasih untuk idenya." Ucapku sambil memikirkan waktu untuk besok.
__ADS_1
"Ohh iya ketua, ada permen kapas selembut awan yang selalu ramai disana. Kalau komandan mau datanglah sore, supaya dapat menikmati matahari terbenam." Ucap Charles padaku.
"Iyaa benar, nona Aurel pasti suka." Balas salah seorang anggota.