
"Aurel, kamu sering membaca disebelah mana?" Tanyaku karena ingin membaca bersamanya.
"Disana pangeran." Ucap Aurel dengan jari mengarah ke sofa dekat jendela.
"Ayo Aurel kita kesana" Sahut pangeran kedua dengan menarik Aurel menuju tempat itu.
Semakin lama kami disini, membuatku semakin kesal dengan keberadaan pangeran kedua. Rasanya aku ingin mengusirnya dari kediaman Lawrence.
"Aurel kenapa kamu sudah buku sejarah? Bukankah itu sangat tebal dan membosankan?" Tanya pangeran kedua melihat Aurel sangat antusias membaca buku di tangannya.
"Karena banyak hal di masa lalu yang bisa dijadikan pembelajaran supaya tidak terjadi di masa depan." Jawab Aurel yang membuatku seketika terdiam.
Gadis ini seperti bukan anak berusia 7 tahun, pemikirannya sangat dewasa. Selain itu pengetahuannya sangat jauh diatas anak-anak seusianya. Bahkan jika dibandingkan dengan ku, pemikirannya jauh lebih dewasa.
"Aurel apakah kamu mau membaca buku sastra bersamaku?" Tawar pangeran kedua pada Aurel.
"Boleh, pangeran." Balas Aurel.
Melihat mereka berdua dekat membuatku ingin keluar dari perpustakaan ini. Lebih baik keluar dari tempat ini daripada merasa kesal di sini.
"Pangeran pertama, anda ingin kemana?" Tanya Aurel padaku.
"Ke toilet." Jawabku singkat.
"Oh baiklah, hati-hati pangeran." Balasnya lalu kembali membaca buku.
Sepanjang menyusuri lorong kediaman Lawrence pikiranku selalu tidak tenang. Bagaimana jika mereka menjadi semakin dekat nanti? Apakah aku tidak menyenangkan untuk Aurel? Tanpa aku sadari air mataku turun begitu saja. Beberapa saat berlalu, aku berusaha untuk menenangkan diri. Namun suara itu mengejutkanku.
"Pangeran pertama." Teriak seseorang di belakangku.
"Aurel…" Jawabku tak menduga bahwa gadis itu akan menyusul kemari.
"Apakah pangeran baik-baik saja? Pangeran menangis?" Tanya Aurel melihat mataku berkaca-kaca.
"Tidak.." Ucapku seraya mengusap mata.
"Maaf saya tidak memperdulikan pangeran pertama." Sahut Aurel dengan kepala tertunduk.
"Maaf saya gagal menemani pangeran." Sambung gadis itu.
"Tidak, Aurel sudah melakukan yang terbaik." Ucapku tersenyum senang.
Tidak pernah terbayangkan gadis ini akan mengkhawatirkanku. Gadis yang selalu membanggakan nama Lawrence yang terletak di akhir namanya, kini tertunduk karena merasa bersalah.
"Tidak apa, bagaimana pangeran kedua?" Ujarku penasaran.
"Saya sudah meminta izin untuk menyusul pangeran pertama. Pangeran kedua tidak keberatan atas hal itu." Jelasnya padaku.
"Apakah kamu mau menerimaku sebentar disini?" Tanyaku ragu.
"Iya, boleh pangeran." Jawabnya dengan ceria.
__ADS_1
.
.
.
.
Sebelumnya…
"Pangeran, apakah saya boleh menyusul pangeran pertama?" Tanya Aurel sedikit ragu.
"Iya boleh silahkan, saya akan menunggu disini." Balasku dengan senyum terpaksa.
"Baik terima kasih pangeran kedua." Ucapnya lalu pergi menyusul pangeran pertama.
Melihat Aurel yang begitu khawatir dengan pangeran pertama membuatku kesal. Kenapa Aurel harus peduli dengan manusia buangan itu? Apakah orang tidak berguna itu layak diperhatikan? Semakin mengingat hal itu membuatku emosi.
Sebelum pergi menuju kediaman Lawrence, ibu telah menitipkan pesan padaku.
"Pangeran kemari, ibumu ini ingin berbicara." Ucap permaisuri memintaku mendekat.
"Iya bu, ada apa?" Tanyaku mendekat.
"Ketika kamu tiba di kediaman Lawrence, usahakan untuk dekat dengan Aurelia Lawrence." Ucap ibu menekankan.
"Tapi ada apa ibu?" Tanyaku kebingungan.
Mengingat ucapan ibu tadi, seperti gadis itu akan dipakai untuk menjadi batu lompatan. Kasihan sekali hidupnya, namun aku membutuhkan dirinya agar dapat menjadi kaisar. Dia adalah kunci utamaku.
.
.
.
.
"Aurel, ayo kembali. Kasihan pangeran kedua sendirian." Ucapku seraya menggenggam tangannya.
"Baik pangeran." Sahut Aurel mengikutiku.
Kami berdua berjalan melewati lorong berdua. Pelayan yang mengikuti kami tadi sedang menunggu di dalam perpustakaan. Rasanya begitu menyenangkan bisa berjalan berdua saja dengan Aurel.
"Pangeran kedua, kami datang" Ujar Aurel dengan semangat.
"Hai, Aurel. Hai pangeran Pertama." Sapa pangeran kedua.
"Maaf membuat anda menunggu pangeran." Ucapku pada pangeran kedua.
Setelah saat itu kami menghabiskan waktu bersama untuk bermain dan bersenang-senang. Suasana terkadang sedikit canggung, namun Aurel selalu berhasil memecahkan kecanggungan itu.
__ADS_1
"Para pangeran dan nona sangat lucu ya." Ucap salah seorang pelayan yang dapat kudengar.
"Iya, mereka begitu harmonis." Sahut pelayan lainnya.
"Kira-kira nona akan bersama pangeran siapa di masa depan." Ucap mereka yang membuatku terdiam.
Dalam kekaisaran ini, seorang nona yang berteman dan dekat dengan pangeran akan dijodohkan saat dewasa. Namun pada kasus ini berbeda, Aurel kini dekat dengan kedua pangeran. Melihat hal tersebut tentu masyarakat akan bertanya-tanya apa yang ingin istana lakukan.
"Jaga omonganmu, nanti apabila pangeran mendengar kau akan dihukum." Ujar pelayan lain mengingatkan.
"Maafkan aku." Balas pelayan tadi dengan nada terkejut.
"Tapi yang diucapkan dia benar, nona kita harus menjadi pasangan pangeran yang mampu menjaganya." Ucap pelayan yang tak lama datang itu.
Para pelayan mulai meributkan pasangan Aurel. Rasanya sedikit emosi mendengar seorang pelayan yang berkata pangeran kedua lebih baik daripada aku.
Tetapi yang diucapkan adalah hal yang masuk akal. Ibuku telah meninggal, posisiku sudah sangat tidak aman dalam istana dan bisa dibuang kapan saja. Hal yang menguntungkan adalah raja yang masih memerlukanku untuk memimpin pertarungan di garis terdepan. Tahun depan ada adalah waktunya menjalankan perjanjian dengan kaisar.
"Pangeran apakah kamu ingin tetap tinggal di istana?" Tanya kaisar 3 bulan setelah kepergian ibu.
"Iya, yang mulia." Jawabku dengan nada sedih.
"Lakukan sesuatu untuk kekaisaran maka aku akan membiarkanmu tetap disini." Sahut kaisar dengan tatapan dingin.
"Apa yang harus saya lakukan?" Tanyaku menatap wajah datar kaisar.
"Berlatihlah dengan auroramu, lalu gantikan aku memimpin pertempuran ketika usia yang telah kutemukan." Balas kaisar seraya mengangkat kepalaku yang tertunduk.
"Baik yang mulia." Jawabku dengan nada tertekan.
Sejak saat itu aku aku mulai berlatih dengan giat. Mempelajari mengenai strategi perang, ilmu pedang, aurora, dan masih banyak lagi. Aku juga mempelajari tentang kekuatan setiap daerah yang ingin kaisar taklukkan. Dibimbing dengan guru terbaik kekaisaran, membuat orang berpikir kaisar masih menyayangiku meskipun ibuku telah tiada. Faktanya aku hanya ujung tombak kaisar.
"Kaisar sangat mencintai pangeran pertama ya." Ucap seorang bangsawan.
"Iyaa, aku mendengar kaisar memberikan guru terbaik untuk pangeran pertama." Sahut bangsawan lain.
"Pangeran pertama sangat hebat, ia rela menggantikan kaisar untuk memimpin penaklukan daerah." Ujar bangsawan dengan berbisnis.
"Kamu dengar hal itu dari mana?" Tanya penasaran seorang bangsawan.
"Para pelayan yang sedang bergosip, aku tidak sengaja mendengar ketika lewat." Jelas bangsawan tadi.
Berbulan-bulan berlalu, dengan masyarakat yang menganggapku yang ingin menggantikan ayah. Suatu saat, kaisar memanggilku kembali.
"Pangeran ada yang ingin ku sampaikan." Ucap kaisar dengan senyum licik yang sangat terbaca.
"Iya, yang mulia ada apa?" Tanyaku dengan wajah datar.
"Kini kau sudah siap, tahun depan pergilah untuk melakukan penaklukan daerah." Sahut kaisar dengan wajah senang.
"Baik yang mulia."
__ADS_1