Penyelamatan Keluarga Lawrence

Penyelamatan Keluarga Lawrence
BAB 21. Rencana Ke Daerah Barat


__ADS_3

“Kira-kira bagaimana kabar gadis itu yaa?” Gumamku seraya menatap langit yang cerah dari jendela kamarku.


Sudah lebih dari sebulan berlalu sejak pertemuan terakhir kami, bahkan aku sampai berhalusinasi melihatnya. Sosok gadis yang sangat unik, berbeda dari semua yang pernah aku temui. Mungkin dia adalah satu-satunya orang yang dapat menerimaku sepenuhnya. Lebih dari itu, Aurel selalu mampu menghiburku dan menenangkanku. Dia adalah orang yang memperhatikan bagaimana perasaanku.


“Bagaimana dengan kondisi keluarga Lawrence?” Tanyaku pada seorang prajurit yang tiba-tiba muncul di dekatku.


“Sejauh pengamatan saya, keluarga Lawrence dalam kondisi baik-baik saja. Saya hanya mampu mengamati dari jauh karena takut ketahuan oleh salah satu pengawal disana. Pengawal keluarga Lawrence selalu berjaga 24 jam di sekitar kediaman.” Jawab prajurit dengan pakaian hitam tersebut.


“ Bagaimana dengan nona Aurel?” Tanyaku kembali.


“Penjagaan di sekitar nona sangat ketat. Tuan Louis selalu menempatkan seorang pengawal bayangan di sekitar nona. Tidak hanya itu, nona juga dijaga oleh orang-orang utusan kepala keluarga Lawrence.” Balas prajurit itu.


“Sejauh pengamatan saya, nona sering menghabiskan waktu dengan tuan Louis dan kepala keluarga Lawrence.” Sambung prajurit itu.


Menjadi cucu kesayangan kepala keluarga Lawrence dan anak kesayangan ketua pasukan elit kekaisaran membuat keamanan Aurel diragukan lagi. Kakek dan ayahnya tentu saja akan menempatkan orang-orang terbaik yang mereka miliki untuk menjaga gadis itu.


“Beberapa saat yang lalu, saya mendengar nona Aurel sedang membicarakan tentang yang mulia ratu sebelumnya.” Ujar prajurit itu yang membuatku mengerutkan kening.


“Ibuku?” Tanyaku bingung.


“Benar pangeran, saat itu nona Aurel melihat foto pangeran dengan ratu sebelumnya di salah satu toko kue di jalan utama kekaisaran.” Jelas prajurit itu.


“Ohh, toko itu..” Jawabku mengingat kejadian tersebut.


.


.


“Yang mulia ratu, terima kasih telah membantu kami dalam memperbaiki jalanan utama kekaisaran ini. Bila tidak ada yang mulia mungkin tempat ini akan tetap menjadi daerah kumuh.” Ucap salah seorang pria dengan penuh hormat.


“Tidak perlu berterima kasih, sudah tanggung jawab saya sebagai anggota kekaisaran untuk membantu rakyat.” Jawab ibuku dengan rendah hati.


“Yang mulia, saya mendoakan yang terbaik untuk anda dan pangeran.” Ucap seorang wanita dengan haru.

__ADS_1


“Yang mulia, jika anda berkenan itu akan menjadi suatu kehormatan terbesar saya. Apakah anda berkenan mengunjungi toko saya? Saya akan memberikan anda kue terenak yang saya miliki.” Ucap seorang pria dengan mengarahkan tangannya pada salah satu toko di jalanan tersebut.


“Baik, boleh. saya bersedia mengunjungi toko anda.” Jawab ibu dengan senyum ramah.


Dengan menggendongku, ibu, para pengawal, dan pemilik toko itu menuju ke tempat yang dituju. Sebuah toko dengan warna merah muda yang cukup dominan. Toko bergaya klasik itu membuat siapapun yang masuk akan merasa nyaman.


“Toko yang indah.” Ujar ibu ketika memasuki toko tersebut.


“Terima kasih atas pujian yang mulia.” Ucap sang pemilik toko begitu senang.


Sang pemilik toko menuju lemari kaca yang berisi sederet kue dengan berbagai jenis. Ia mengambil sebuah piring kecil yang terdapat ukiran berwarna merah muda. Sebuah kue coklat berlapis dengan taburan bintang di atasnya. Aku yang saat itu melihatnya begitu terkesan. “Bagaimana bisa makanan secantik ini dapat ditelan?” Gumamku dalam hati.


“Wahhh, kue yang sangat cantik.” Ucap ibu terpesona.


Satu suapan masuk kedalam mulut ibu. Ekspresi sangat menikmati terlihat dari wajah ibu. Tak lupa ibu juga menyuapiku. Melihat ekspresi ibu sepertinya ia sangat menyukai kue tersebut. Sang pemilik toko tidak hanya memberikan kue untukku dan ibu, tetapi juga untuk para pengawal yang ada.


.


.


“Daerah barat?” Gumamku dengan senyum yang tanpa kusadari.


Daerah barat adalah tempat keluarga ibu berada, yang tak lain adalah keluarga nenek kakekku. Sudah lama aku tidak bertemu mereka, terakhir kali adalah ketika hari kepergian ibuku.


“Apa yang dilakukan Aurel disana?” Tanyaku penasaran.


“Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, nona akan melakukan pelatihan aurora dan tergabung dalam perkumpulan sosial.” Jawab prajurit itu.


“Baik, kau boleh pergi.” Ucapku setelah merasa cukup dengan informasi yang kudapatkan.


Setelah prajurit bayangan itu pergi, aku langsung pergi menuju ruang kerja kaisar. Di dalam ruangan sang kaisar terlihat sedang berbincang dengan perdana menteri.


“Ohh…pangeran pertama, kemarilah.” Panggil kaisar ketika melihat kedatanganku.

__ADS_1


Ketika mendekat, terlihat tatapan sinis dari perdana menteri. Ia menatapku dengan tidak nyaman ketika aku berdiri di dekatnya.


“Ada apa pangeran pertama?” Tanya kaisar padaku.


Aku hanya diam, tanpa menjawab pertanyaan tersebut. Kaisar yang menyadari tindakanku, memutuskan untuk meminta perdana menteri keluar ruangan. “Perdana menteri anda boleh pergi.”


Setelah perdana menteri meninggalkan ruangan, kaisar menanyakan hal yang sama kembali. “Ada apa pangeran?” Ucapnya dengan mengangkat salah satu alisnya.


“Saya ingin pergi ke daerah barat.” Jawabku dengan wajah datar.


Mendengar ucapanku, kaisar memperlihatkan wajah bingung. Melihat ekspresi tersebut aku merasa kaisar tidak akan mengijinkan aku pergi atau aku akan diberi tugas agar tidak dapat pergi.


“Boleh, silahkan.” Jawab kaisar setelah mencerna ucapanku.


“Apakah kamu merindukan keluarga ibumu?” Tanya kaisar yang masih penasaran.


“Mungkin, bukankah aku sudah lama tidak bertemu mereka?” Jawabku ragu-ragu.


“Baiklah, bawa pelayan pribadimu dan pengawal yang kau percaya. Ingat kamu adalah pangeran, jadi jangan sembarangan. Nama baik kekaisaran ini ada dalam setiap tindakan dan ucapanmu.” Ujar kaisar dengan tegas.


“Baik terima kasih yang mulia.” Sahutku dengan hormat.


Ketika ingin meninggalkan ruangan, kaisar menghentikanku. “Apakah kau tidak takut posisimu tergeser oleh adikmu?”


“Apa yang dari awal menjadi hakku akan tetap kembali padaku.” Jawabku dengan yakin.


“Posisimu dan adikku tidak berbeda jauh, bahkan bisa dibilang seimbang. Para bangsawan akan terus melihat perkembangan dari kedua kandidat, dengan menghilang dari pengamatan mereka akan membuat mereka mempertanyakan dirimu.” Jelas kaisar agar aku dapat mempertimbangkan segalanya.


“Jika yang diinginkan oleh para bangsawan adalah sebuah aksi, aku akan melakukan lebih dari yang mereka harapkan. Ingatlah yang mulia, setengah diriku berdarah kaisar dan setengahnya lagi adalah darah pahlawan. Ada tidak perlu mengkhawatirkanku, meskipun aku berjalan seorang diri tanpa ibu.” Ucapku menegaskan kedudukanku.


Mendengar jawabanku, kaisar tersenyum. “Harus ku akui, kau memang layak. Tetapi, memiliki kebanggan terlalu berlebihan itu tidak baik.” Sahut kaisar dengan tawa kecil.


“Harusku tekankan berapa kali yang mulia. Kursi yang kau tempati adalah hakku. Seharusnya saya yang berada di sana, dan itulah yang akan terjadi.” Jawabku dengan tatapan tajam.

__ADS_1


“Baiklah, kita lihat siapa yang akan menerima gelar putra mahkota setelah usia 17 tahun nanti.” Ujar kaisar sangat menantikan peristiwa itu.


__ADS_2