
Sringgg!!!
Ayunan pedang yang tepat mengenai sasaran. Memang tidak sesempurna ayah, namun setidaknya aku berhasil mengenai target.
"Bagus Aurel!" Teriak ayah dengan nada bangga.
"Apakah kau baik-baik saja? Ada yang terluka atau sakit?" Sambung ayah khawatir.
" Tidak ayah, Aurel baik saja." Jawabku dengan nafas yang terengah-engah.
Setelah mengatur nafas beberapa saat, akhirnya aku dapat bernafas normal. Ayah kembali mengajarkanku banyak teknik hari ini. Tak terasa waktu berlalu cukup lama, hari mulai sore.
"Aurel, latihan kita cukup sampai sini dulu yaa." Ucap ayah dengan lembut.
"Baik ayah." Ucapku seraya mengusap keringat.
Ayah menggendongku pergi keluar dari ruangan latihan hingga ke kereta kuda kami. Dapat kulihat dari kaca jendela langit-langit sudah memerah, cahaya matahari mulai terbenam. Sepanjang perjalan aku kembali mengingat hal-hal yang ayah ucapkan tadi, hingga tanpa sadar aku terlelap.
“Selamat tidur Aurel.” Ucap ayah yang sempat terdengar olehku sebelum aku benar-benar terlelap.
.
.
.
.
“Selamat tidur Aurel.” Ucapku ketika melihat gadis dalam dekapanku tertidur.
Gadis yang tak pernah ku pedulikan sebelumnya, kini menjadi salah satu hal yang paling aku ingin lindungi. “Kamu harus tumbuh dengan baik, Aurel. Ayah berjanji akan menjagamu.”
Dalam perjalanan pulang pikiranku terbang, mengingat kembali setiap hal yang gadis ini lakukan. Tubuh yang begitu kecil ini, kenapa harus berusaha sekuat itu untuk menjadi kuat? Aurel, kamu memiliki banyak hal yang tak ayah mengerti. Kamu mirip sekali seperti ibumu.
“Sayang, kamu mau teh?” Ucap wanita dengan rambut terurai di hadapanku.
“Boleh.” Jawabku dengan mata yang tak mampu beralih darinya.
Angin hari itu cukup kencang, gadis yang tak asing itu berdiri di depan balkon. Rambut panjang yang terurai itu tertiup oleh angin, membuatnya terlihat begitu indah. Kedua mata yang mampu menarikku masuk dalam dunianya dan tanpa mampu disanggah aku mencintainya.
Setelah banyak hal yang kulalui, faktanya aku tak mampu melawan takdir dan keputusannya. Dunia sebegitunya membenciku, aku harus kehilangan wanita yang baru saja dapat ku miliki sepenuhnya.
__ADS_1
“Kami tidak dapat menyelamatkan keduanya.” Ucap perempuan tua dengan rambut putih itu.
“Lalu, bagaimana?” Tanya dengan wajah ketakutan dan khawatir.
“Anda harus kehilangan salah satu.” Balas wanita tua itu dengan nada sedih.
Audrey mendengar percakapan saat itu. “Tolong selamatkan anakku.” Ucap Audrey dengan nada lemas.
“Sayang, tolong jangan berbicara begitu! Kalian berdua akan selamat.” Jawabku berusaha menyakinkan.
“Louis, jangan berusaha membohongiku. Tolong selamatkan bayiku, dia adalah segalanya.” Balas Audrey yang membuatku tak mampu berkata-kata.
Hari itu, seakan seluruh duniaku hancur. Aku kehilangan wanita yang paling aku cintai. Kukira kamu akan menemaniku selamanya, tapi kenapa kamu begitu egois Audrey? Kau menghancurkan hatiku, bagaimana bisa aku menjaga anak ini seorang diri? Separuh diriku ada padamu.
.
.
.
Tiga hari berlalu, langit begitu gelap. Kulihat makam di hadapanku, tak pernah kusangka akan kehilangan dirinya secepat ini. Wanita yang senyumnya selalu menghiasi hariku, kini hanya dapat kulihat dalam ingatanku.
“Oeeeee.... Oeeee.” Suara yang begitu lirih dari bayi di dekapanku.
“Aku tidak dapat berjanji akan mencintai bayi ini, dalam hatiku sekarang aku membenci anak ini karena kehilanganmu.” Sambungku dengan kesal.
Saat itu aku tidak dapat mengontrol emosiku. Air mataku mengalir, memperlihatkan seberapa hancur diriku hari itu.
Dengan hati hancur, kutatap bayi yang ada dalam pelukanku. “Aurel, maafkan ayah karena akan membencimu kedepannya.”
“Maafkan ayah, Aurel. Ayah tidak sanggup melewati semuanya.” Ucapku dengan penuh kekecewaan.
Dapatkan aku mencintai anakku ini yang merupakan penyebab kematian istri tercintaku. Mungkin aku akan menjadi ayah terburuk yang pernah ada. Namun aku tidak dapat membohongi perasaan ini. Kehilangan Audrey adalah pukulan terbesar dalam hidupku. Hariku kembali suram, seperti sebelum bertemu dengannya.
Hingga hari itu datang, merubah segalanya. Hal kecil yang telah kulewatkan beberapa tahun ini.
"Ayah bekerja seharian, Aurel membuat kue kering dan teh untuk ayah." Aurel seraya tersenyum.
"Ohh sejak kapan putri kecilku ini mulai peduli dengan ku." Jawabku tersenyum sinis.
Mungkin itu adalah kali pertama kami berinteraksi langsung. Aku tidak pernah berbicara bahkan mempertanyakan kondisinya pada siapapun. Ternyata kamu sudah cukup besar anakku.
__ADS_1
Aku berdiri, beranjak dari tempat dudukku. Meninggalkan segala dokumen penting yang harus aku selesaikan dan duduk pada sofa panjang di depan meja kerja. "Sepertinya pria ini ingin mencoba kue kering buatan putri yang sangat perhatian padanya."
Setelah peristiwa itu, aku mulai mencari tahu tentangnya. Apa yang dia lakukan hari ini? Apa ada hal baru yang dia coba? Apa hal kesukaannya? Apakah segala anggaran yang kuberikan cukup untuknya?
Sebuah berlalu seiring waktu berjalan, kedekatan kami mulai terlihat. Tidak hanya berhasil mengambil hatiku, tapi juga mengambil hati ayah. Pria kaku yang tidak pernah dekat dengan cucu manapun. ayah adalah orang yang sangat sulit didekati, ada banyak hal yang salah dimatanya. Tapi itu hal yang wajar jika Aurel berhasil merebut hati kepala keluarga Lawrence, Aurel memiliki kharisma, kekuatan, kecerdasan dan kebaikan yang jarang dimiliki anak seumurannya.
Hingga saat ini, aku masih kagum dengan putri kecilku ini. Bagaimana dia bisa memahami segalanya dengan begitu cepat? Bahkan jika aku seusianya, itu akan memerlukan waktu yang cukup lama.
“Ayah….apakah kita sudah sampai?” Ucap Aurel dengan nada lirih.
“Sebentar lagi, sabar yaa.” Ucapku dengan nada hangat.
Aurel mengusap matanya beberapa kali, kini pandangannya tertuju pada jendela yang ada di dekatnya. “Ayah malam ini tenang sekali bukan?” Ucapnya dengan mata tetap terfokus ke arah jendela.
“Iyaa.. benar.” Jawabku dengan senyum lembut.
Embun pada kaca jendela berhasil mengambil perhatiannya dari keheningan malam. “Ayah, sepertinya malam ini cukup dingin.” Ucapnya dengan nada yang menggemaskan.
“Iyaaa, maka dari itu…” Ucapku mengangkat Aurel jauh dari kaca jendela. “Pakailah mantelmu.” Sambungku seraya membantu Aurel mengenakan mantel pink miliknya.
“Sejak kapan Aurel membawa mantel, ayah?” Tanya bingung karena tidak merasa membawa mantel ini.
“Ishana menitipkannya pada pengawal, dia sangat mengkhawatirkanmu.” Jawabku dengan tersenyum kecil karena gemas melihat Aurel dengan mantel pinknya.
Tak lama dari itu, kereta kami berhenti. “Tuan, kita telah sampai.” Ucap salah seorang pengawal dari luar kereta.
“Baik.” Jawabku, lalu menggendong putri kecilku turun dari kereta.
Pintu kereta terbuka, nampak seorang pria tua dengan mantel hitam gelap dihadapanku. “Aurel, kakek merindukanmu.” Ucap kepala keluarga Lawrence pada cucu kesayanganya.
“Kakek…” Jawab Aurel begitu semangat.
“Bagaimana harimu, Aurel? Apakah menyenangkan?” Tanya ayah padanya.
Dari wajah Aurel terlihat seberapa menyenangkannya hari ini. “Menyenangkan sekali kakek, Aurel diajarkan banyak hal oleh ayah.”
“Ohh benarkah?” Tanya ayahku penasaran
“Louis, temui aku setelah mengantarkan Aurel ke kamarnya.” Bisik ayah padaku, yang aku balas dengan sebuah anggukan.
“Karena sudah cukup malam, Aurel harus kembali ke kamar ya…Ishana akan mengantarkan soup untuk mu.” Sambung ayah pada cucu kesayangannya.
__ADS_1
“Baik kakek.” Jawab Aurel ceria.