
"Kapan kita akan mengunjungi kediaman Lawrence?" Tanyaku pada pengawal di dekatku.
"Seminggu lagi pangeran." Jawab pengawal tersebut.
"Seminggu lagi yaa.." Gumamku dengan tersenyum masam.
Sejak kesadaranku pulih, aku ingin segera berkunjung ke kediaman Lawrence. Bukan sekadar ingin berterima kasih, tetapi aku ingin bertemu gadis itu. Kekuatan auroraku begitu damai, aku belum pernah menemui aurora seperti itu.
"Pangeran, Kaisar ingin menemui anda." Ucap pengawal setelah membuka aurat dari istana utama.
"baik, ayo kita ke sana." Sahut ku bergegas pergi.
Selama perjalan terlihat para pekerja yang sibuk dikarenakan musim panen. Hasil panen mulai didistribusikan ke berbagai daerah di kekaisaran, sesuai dengan jumlah yang diminta.
Kulihat ayah di dalam ruang kerjanya, seperti akhir-akhir ini ia sedang memeriksa banyak dokumen. Andai ayah tahu apa yang telah permaisuri dan keluarganya lakukan. Aku tidak tahu siapa yang salah, ayah atau permaisuri. Ayah terlalu mempercayai mereka, sedangkan permaisuri sangat tidak tahu diri.
"Hormat kepada matahari kekaisaran." Ucapku mendekat pada ayah.
"Pangeran, kemari ada yang ingin saya sampaikan." Sahut ayah seraya melambaikan tangan.
"Ayah ingin menjodohkanmu dengan seseorang, apakah kau ingin memberikan saran?" Sambung ayah dengan tangan menopang dagu.
"Belum ayah, mungkin sebentar lagi. Beri saya waktu sebulan." Jawabku dengan wajah lesu.
"Saya hanya ingin membuat posisimu kokoh di dalam perebutan tahta." Balas ayah menatapku dalam.
"Permaisuri ingin menjodohkan pangeran kedua dengan seseorang. Jika kamu tidak dijodohkan maka akan terjadi ketidak seimbangan dalam perebutan tahta." Jelas ayah dengan lembut.
Di kekaisaran ini, perebutan tahta terjadi saat usia 17 tahun. Sebelum waktu tersebut pangeran harus memiliki kedudukan yang sama rata, dan tidak boleh ada pangeran yang diunggulkan.
Dikarenakan terdapat dua pangeran dengan jarak usia yang dekat, yaitu 2 tahun. Maka perlu memperhatikan setiap tindakan agar masyarakat tidak ada yang merasa kekaisaran mengunggulkan salah satu pangeran.
"Saya akan sampaikan apabila ada. Terima kasih ayah, saya izin pergi terlebih dahulu." Ujarku, lalu pergi meninggalkan ruangan.
.
.
.
.
"Permaisuri ini data yang anda minta" Ucapku, lalu menyerahkan dokumen di tangan.
"Aurelia Lawrence.." Sahut permaisuri seraya bukan lembaran-lembaran dokumen.
__ADS_1
"Nona Aurel merupakan cucu kesayangan kepala keluarga Lawrence, beliau memiliki aurora cahaya dan merupakan gadis dengan pengetahuan yang luas." Jelasku pada permaisuri.
"Hahahaha.. gadis yang menarik. Dia punya kecantikan, kekuatan, dan kekuasaan, bukankah sangat cocok untuk putraku?" Ucap permaisuri dengan tawa kecil yang licik.
Permaisuri beranjak dari tempat duduknya. Memperlihatkan bunga mawar di dalam sebuah tempat kaca.
"Aurelia Lawrence, akan berakhir seperti mawar ini." Ujar permaisuri seakan ada rencana dibalik perkataan itu.
"Siapkan kereta, minggu depan pangeran kedua akan pergi ke kediaman Lawrence." Sambung permaisuri dengan senyum licik.
"Tapi.. permaisuri, pangeran pertama akan melakukan kunjungan ke kediaman Lawrence saat itu." Jelasku pada permaisuri.
"Ohh itu akan lebih baik, kita lihat siapa yang dapat mengambil hati nona keluarga Lawrence terlebih dahulu." Balas permaisuri seraya menuangkan anggur pada gelasnya.
Mendengar ucapan permaisuri itu, aku menduga permaisuri ingin memaksa nona keluarga Lawrence untuk memilih salah pangeran. Jika dia memilih pangeran pertama, maka nona Lawrence akan dijadikan alat untuk menjatuhkan pangeran pertama. Jika memiliki pangeran kedua, maka nona Lawrence akan dijadikan batu pijakan untuk mendekatkan pangeran kedua pada tahta.
Permaisuri sangat percaya diri, akan rencananya kali ini. Karena dapat dipastikan nona Lawrence tidak dapat menolak kedua pangeran, itu akan dianggap penghinaan pada kaisar.
"Aden Wilson segera siapkan segalanya." Pinta permaisuri.
"Baik yang mulia." Jawabku lalu meninggalkan ruangan.
.
.
.
.
"Ishana ini terlalu pagi." Balasku dengan mata terpejam.
"Hari ini akan ada kunjungan dari istana. Kedua pangeran akan datang ke kediaman Lawrence." Jelas Ishana menggendongku turun dari tempat tidur.
"Hah? Kedua pangeran? Bukankah hanya pangeran pertama?" Tanyaku kebingungan.
"Oh, nona belum dapat kabar ya? Pangeran kedua juga ingin mengunjungi kediaman ini." Jawab Ishana dengan nada panik.
"Nona harus segera siap-siap." Sambung Ishana membiarkan pelayan lain masuk dengan banyak barang di tangan mereka.
Pagi itu suasana kediaman Lawrence begitu sibuk. Seluruh pelayan sibuk merapikan kediaman, menyiapkan hidangan, dan membantu para anggota keluarga bersiap-siap.
Namun aku masih bingung kenapa pangeran kedua tiba-tiba berkunjung ke kediaman Lawrence? Bukankah tidak ada kepentingan yang masuk akal untuk membuatnya datang kemari.
Menurutku hal yang paling masuk akal yang membuat pangeran kedua datang kemari adalah atas perintah permaisuri. Pangeran kedua tidak mungkin bergerak tanpa ada perintah dari permaisuri.
__ADS_1
Di kehidupanku yang lalu, pangeran kedua adalah boneka milik permaisuri. Segala keputusan dan tindakan yang ia lakukan pasti tidak lepas dari ibunya. Dalang dibalik jatuhnya kekaisaran ini, Erlina Oxley.
"Putri anda sangat manis." Ucap Ishana setelah usai membantuku bersiap.
"Terima kasih Ishana." Balasku dengan senyuman.
"Ishana, Aurel ingin berjalan-jalan dahulu apakah boleh?" Ucapku karena bosan menunggu.
"Iya boleh, silahkan nona." Jawab Ishana seraya mengemasi barang-barang yang telah usai dipakai.
Ternyata persiapan kedatangan pangeran 2 hari masih terlalu cepat untuk mempersiapkan segalanya. Meskipun telah mempersiapkan sejak 2 hari yang lalu, para pelayan masih tetap sangat sibuk di hari ini. Mungkin jika ini bukan kunjungan resmi mereka tidak akan sesibuk ini.
"Gadis rendahan." Teriak seseorang dari arah belakang.
"Hari ini para pangeran akan datang, jadi jangan mempermalukan keluarga Lawrence dihadapan mereka." Ucap Patrick dengan nada merendahkan aku.
"Pangeran pertama datang karenaku. Justru kamu yang merupakan cucu pertama keluarga ini tidak mampu melakukan apapun untuk nama keluarga. Seharusnya kamu malu." Sahutku yang membuat wajah Patrick memerah.
"Kamuu…" Balasnya kehabisan kata-kata
"Kamu hanya gadis rendahan mana bisa dibandingkan denganku yang merupakan keturunan bangsawan dan cucu pertama keluarga ini." Sambung Patrick begitu emosi.
"Faktanya kamu tidak lebih dari benalu. Kamu tidak dapat melakukan apapun meskipun memiliki latar belakang seperti itu. Semua yang kau banggakan adalah omong kosong." Balasku dengan wajah datar.
Patrick langsung pergi setelah mendengar ucapanku tadi. Aku tahu ucapanku sangat kasar, tapi jika tidak melakukan hal itu Patrick akan semakin sering menggangguku.
"Nona, kepala keluarga mencari anda." Ucap seorang pelayan mendekatiku.
"Oh, baik. Terima kasih ya." Balasku lalu bergegas pergi.
…
"Kakek, Aurel datang." Ucapku bersemangat.
"Aurel kemari, kakek mau berbicara." Panggil kakek supaya aku mendekat.
"Iyaa? ada apa kakek?" Tanyaku polos.
"Nanti kamu dan kakek akan menyambut kedatangan para pangeran. Nanti kita akan pergi keluar bersama." Jelas kakek agar aku mengerti.
"Baik kakek. Tapi kenapa tidak bersama dengan paman?" Tanya penasaran.
"Ini adalah permintaan istana. Apakah Aurel keberatan? Jika iya kakek akan menolak permintaan tersebut." Ucap kakek dengan raut muka bertanya-tanya.
"Aurel mau, tadi hanya penasaran saja." Balasku dengan senyuman manis.
__ADS_1
"Gadis pintar."