Penyelamatan Keluarga Lawrence

Penyelamatan Keluarga Lawrence
BAB. 30 Ratu yang Licik


__ADS_3

“Yang mulia ratu, saya mendapat kabar bahwa pangeran pertama sedang melakukan kunjungan di daerah barat.” Ucap menteri keuangan kepadaku.


“Untuk apa dia kesana?” Tanyaku penasaran.


“Kurang tau yang mulia, saya hanya mendapat kabar dari mata-mata saya.” Sahut menteri keuangan. 


“Apakah ini salah satu taktik yang pangeran pertama?” Gumamku dengan nada kesal.


“Sepertinya tidak yang mulia. Pangeran pertama hanya seorang anak berusia 12 tahun, tidak mungkin berpikir seperti itu.” Jelas menteri keuangan menyangga ucapanku. 


“Kamu tidak bisa meremehkan seseorang, karena kamu tidak bisa membaca isi hati orang.” Sahutku seraya menyandarkan punggung pada kursi kerja miliknya.


“Tapi yang mulia, dia tidak punya siapapun.” Balas menteri keuangan dengan nada tidak percaya.


“Aku melihat sesuatu yang menurutku anak itu tidak sederhana pikiranmu.” Jawab ratu dengan menghembuskan nafas berat.


.


.


5 tahun setelah kematian aku berencana untuk menyingkirkan pangeran pertama dari istana, karena pangeran pertama semakin besar dan aku khawatir akan mengancam posisi putraku. Aku ingin membuat pangeran pertama diasingkan dari istana. Untuk menjalankan rencana aku meminta bantuan seorang pelayan agar dapat memasukkan racun dalam gelas yang akan diambil pangeran. Sebelumnya aku meminta pelayanku untuk meletakkan botol racun di dalam kamar pangeran pertama. 


Ketika pesta musim panen berlangsung, kujalankan rencanaku. Saat itu para keluarga kaisar sedang berada di ruangan khusus untuk beristirahat sebelum bertemu dengan para bangasawan lain. Aku meminta pangeran pertama yang duduk di sisiku untuk mengambilkan minuman. Pangeran pertama terdiam beberapa saat, seperti memikirkan sesuatu. Kemudian ia turun dan kembali dengan beberapa pelayan yang ditugaskan untuk melayani keluarga kaisar. 


“Apa yang kalian lakukan hingga membiarkan yang mulia ratu kehausan?” Bentak pangeran pertama dengan tegas yang dipandang baik oleh kaisar.


“Maaf…pangeran. Hamba layak dihukum” Ucap para pelayan dengan berlutut di hadapan pangeran pertama.


Aku terkejut dan tidak mengira kenapa semuanya berjalan seperti ini. Semua ini terjadi tidak sesuai dengan rencanaku.


“Kalian layak untuk dihukum cambuk sebanyak 50 kali.” Ujar pangeran pertama dengan nada tinggi.

__ADS_1


Aku mulai panik melihat pangeran pertama bertindak seperti itu. Kaisar sedari tadi hanya menatap pangeran pertama tanpa berkata apapun. Selain itu wajah pelayan yang kuajak bekerja sama mulai terlihat pucat, aku takut ia membocorkan sesuatu. 


“Pangeran pertama cukup… tidak perlu membesar-besarkan masalah ini.” Ucapku berusaha menghentikan pangeran pertama.


“Tidak ratu, para pelayan ini harus didisiplinkan.” Jawab pangeran pertama yang membuatku panik.


“Pengawal panggilkan seseorang untuk memberikan pelajaran kepada pelayan-pelayan malas ini.” Sambung pangeran pertama yang membuat seisi ruangan menegang.


Ketakutanku semakin menjadi-jadi, pangeran pertama terlihat begitu serius untuk menghukum para pelayan. Aku benar-benar takut jika pelayan itu membuka mulut, bisa habis aku. “Kaisar tolong hentikan pangeran pertama.” Ucapku dengan berlutut di hadapan yang mulia kaisar. 


“Hamba tidak ingin pangeran pertama memiliki citra buruk di masyarakat.” Ucapku demi meluluhkan hati kaisar.


Kaisar mendengarkan ucapanku dan terdiam, tak ada tindakan apapun dari kaisar. Aku berlari menuju putraku berharap ia bisa membantuku. “Pangeran kedua, tolong hentikan kakak anda.” Ucapku dengan nada panik.


Pengawal yang membawa cambuk telah memasuki ruangan. Wajahku mulai memucat dan benar-benar takut jika pelayan itu membongkar sesuatu. “Hentikan..” Ucap kaisar yang membuatku terduduk lemas.


Pangeran pertama menatapku dingin, lalu berbalik ke arah kaisar. “Ada apa yang mulia?” Tanya pangeran pertama dengan nada datar.


“Dan anda yang mulia ratu, apa yang terjadi? Kenapa anda setakut itu? Apakah anda takut mereka mengatakan sesuatu?” Sambung pangeran pertama yang membuatku terkejut.


“Hahaha, anda pasti takut para pelayan menghujat anda.” Balas pangeran pertama yang membuat kaisar mengerti dan diriku cukup lega.


Aku masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan pangeran pertama tadi. Mungkin dia mengetahui sesuatu yang aku sembunyikan atau rencanaku sangat terbaca olehnya. Aku benar-benar tidak dapat menebak isi pikiran pangeran pertama. Segalanya penuh tanda tanya sekarang.


“Baik…kalian boleh pergi sekarang.” Ucap pangeran pertama dengan nada kesal.


Para pelayan langsung berdiri dan memberi hormat. Pelayan yang aku ajak kerjasama, kini tubuhnya terlihat bergetar. Keringat terkucur dari keningnya dan bibirnya terlihat begitu pucat. “Heii, ada apa denganmu.” Ucap pangeran pertama dengan tangan menuju pada pelayan itu.


Pelayan itu terdiam, tubuhnya semakin gemetar ketakutan. Hatiku yang semula lega kembali tegang. “Ma-aaf pa-ange-rannn… ham-ba ke-taku-tan…” Jawab pelayan itu dengan terbata-bata.


Pangeran pertama melihat pelayan itu dari atas hingga bawah, seakan sedang memeriksa sesuatu. Aku khawatir jika pangeran pertama yang masih kecil ini sudah mampu mengerti sesuatu. 

__ADS_1


“Pangeran…sudah lepaskan dia. Kasihan dia merasa sangat ketakutan.” Ucapku untuk membuat pelayan itu segera pergi.


Pangeran pertama menghembuskan nafas berat. Kemudian membiarkan pelayan itu keluar dengan sebuah isyarat tangan. Kaisar yang sedari tadi terdiam, terlihat sebuah ekspresi senang dari wajahnya. “Pertahankan dirimu.” Ucap kaisar seraya menepuk pundak pangeran pertama, kemudian pergi meninggalkan ruangan itu. 


Setelah semuanya tenang, aku mulai bangun dan duduk di sofa yang berada tak jauh dariku. Pangeran menatapku dengan tatapan dingin. “Aku bisa menaklukkan apapun, karena aku memiliki dara kaisar.” Ucapnya dengan tersenyum sini, kemudian pergi.


.


.


“Jangan meremehkan pangeran pertama. Ingat dia juga merupakan keturunan kaisar.” Ucapku kepada menteri keuanga.


“Beberapa hari yang lalu saya mendengar bahwa nona Aurelia Lawrence sedang berkunjung ke daerah barat bersama kepala keluarga Lawrence.” Jelas menteri keuangan yang membuatku mengerutkan kening. 


“Kenapa mereka kesana?” Tanyaku penasaran.


“Kurang tahu yang mulia, saya tidak mendapatkan info apapun. Namun saya dengan mereka bertemu dengan keluarga Gudytha” Ucap menteri keuangan bingung. 


“Keluarga Gudytha…..” Gumamku merasakan ada sesuatu yang aneh.


“Iyaa, bagi saya itu adalah hal yang wajar. Karena kepala keluarga Gudytha dengan kepala keluarga Lawrence adalah sahabat sejak di akademi kekaisaran.” Jelas menteri keuangan berusaha untuk menjawab kebingungan. 


“Tapi, mungkin tidak sesederhana itu. Gudytha merupakan keluarga dari yang mulia ratu sebelumnya. Bagaimana jika mereka sedang merencanakan sesuatu.” Ucapku merasa curiga dengan pertemuan keluarga tersebut.


“Melihat latar belakang keluarga Lawrence seharusnya tidak yang mulia ratu. Saya harap anda tidak memikirkan hal yang buruk-buruk..” Ujar menteri keuangan berusaha menenangkanku.


“Baiklah, kamu boleh pergi sekarang.” Ucapku meminta menteri keuangan segera keluar.


Ketika menteri keuangan telah keluar, kini hanya tersisa aku dengan pelayan pribadiku. Aku meneguk minuman di hadapanku untuk menenangkan diri. “Apakah persiapan perdana menteri sudah matang?” Tanyaku penasaran.


“Sudah yang mulia ratu, semau sesuai dengan arahan anda.” Jawab pelayan pribadiku dengan yakin.

__ADS_1


“Saya tidak mau ada kesalahan sedikitpun pada rencana ini.” Ucapku dengan serius.


“Siap yang mulia ratu.” Sahut pelayan itu mengerti.


__ADS_2