
Albert tampak syok ketika Amanda meletakan beberapa foto lama yang telah dia sembunyikan sekian lama, yang telah dia tutupi belasan tahun, Albert tak pernah menyangka kalau Carissa akan menemukan kebenarannya sendiri.
Albert mengangkat wajahnya menatap putrinya yang tampak di liputi kemarahan yang nyata, seharusnya Albert menghancurkan bukti itu sejak lama, seharusnya dia bisa memprediksi ini semua.
''Katakan padaku Ayah, siapa mereka dan apa hubungannya dengan kita, aku sebenarnya bisa menebak tapi aku hanya ingin kejujuran dari dirimu Ayah.''
Susah payah Carissa memanggil nama ayahnya lagi usai pertengkaran hebat yang mereka alami beberapa waktu lalu, dan memicu kepergian ayahnya dari rumah, sikap keras kepala mereka sama walau akhirnya sang ayah tak mampu melawannya atas nama cinta.
Albert meraih kursi putar dan duduk disana, ia mulai berpikir, sementara Carissa ikut duduk di depan sang ayah dan menunggu dengan sabar penjelasan ayah kandungnya sendiri.
''Carissa, entah bagaimana menjelaskan padamu semua itu sudah berlalu anakku, ayah dan ibu sudah bercerai.''
''Mengapa kalian bercerai, aku sudah cukup dewasa untuk mengerti masalah kalian bukan.''
Albert membeku,
''Putriku...Ayah ingin mengatakan kepadamu kalau saat itu kami masih muda ketika menikah, ada banyak pertengkaran hingga kami memutuskan untuk bercerai.''
''Apakah karna ayah selingkuh.''tuduh Carissa tanpa jeda.
''Apa maksudmu kau menuduh ayah.''
''Aku hanya menebak, karna tak heran ayah sudah menikah lagi mungkin saja sebenarnya pernikahan kalian sudah lama bahkan sejak ibuku masih ada.''
''Carissa..kau tidak tau apa yang kau takutkan, ibumu sekarang dia tidak bersalah.''
''Dia bukan ibuku, tidak akan pernah menjadi ibuku...jadi ayah sebaiknya katakan padaku dimana ibuku sekarang lalu bagaimana dengan foto ini..apakah ini foto milikku dan seorang anak lagi siapa dia, apakah aku punya saudar kembar.'' jerit Carissa merasa gemas karna ayahnya menjelaskannya dengan cara yang lama.
Albert menggertakan giginya, namun tak punya pilihan lain selain menjelaskan situasinya.
''Carissa, ayah sudah tidak tau dimana ibmu sekarang, dan tentang anak itu benar kalau kau punya saudara kembar perempuan, dan ketika kami bercerai kesepakatan kami adalah membagi masing-masing satu anak, kau mengerit maksud ayah bukan, kau di asuh olehku dan sementara adikmu di asuh oleh ibumu kami lalu berpisah dan ayah tidak tau dimana mereka sekarang.'' ucap pria di depannya berusaha jujur.
Airmata Carissa mengalir deras, betapa entengnya ayah menjelaskan semu itu seolah tanpa beban apapun, yah dia bahkan tidak perduli lagi pada Carrisa sekarang karna sudah punya keluarga baru sementara Carissa kehilangan ibu dan saudara kembarnya dan membuatnya sebatang kara.
Prang!!!!
Albert terkejut ketika Carissa menghancurkan semua pajangan di sana dan memecahkan meja kaca diruanganya.
Crang!!!
Gadis itu berteriak histeris hingga membuat sang ayah cukup terkejut dengan reaksi Carissa yang brutal, tindakan Carissa menginngatkannya dengan sikapnya 18 tahun lalu penuh amarah yang meluap dan Carissa mewarisi sikap pemarahnya.
''Mengapa kau melakukannya, mengapa kau menjauhkan aku dari ibuku dan adikk kembarku selama ini...mengapa kau berbohong padaku.'' tangis Carissa pecah saat itu juga,
__ADS_1
Tangisannya begitu penuh rasa sakit karna dia benar-benar sendirian, Albert mencoba mendekat..
''Carissa tenanglah.''
''Bagaimana bisa kau berdiam diri tanpa perasaan Ayah, kau telah menelantarkan adikku..aku membencimu, sialan.''
''Carissa...''
''Apa....kau pikir aku takut ayah, katakan padaku ceritakan asal usul ibu dan aku akan mencarinya, jika ayah tidak melakukannya maka aku akan menghancurkan anak harammu dengan istri selingkuhanmu.''desis Carissa penuh dendam.
Albert meneteskan airmatanya untuk pertama kalinya, ia benar-benar hancur ketika Carissa menolak untuk di sentuh hingga airmatanya mengalir deras.
''Carissa, ayah mohon maafkan ayah atas masa lalu kita..ayah sungguh minta maaf.''
''Ayah tidak perduli padaku dan hanya perduli pada dirimu sendiri ayah, mengapa kau begitu jahat padaku.''jerit Carissa tersungkur di lantai.
Dia hidup tanpa kasih sayang seorang ibu dan menjadi gadis yang egois tanpa tau kalau sebenarnya saudaranya mungkin juga sedang merindukannya. Carissa sungguh merasa sakit, dia tak mampu menahan rasa sesak di dadanya saat ini.
''Baiklah Ayah akan menceritakan segalanya kepadamu Carissa, tapi ayah mohon jangan benci ayah.''bujuk Albert penuh permohonan.
Carissa menoleh dengan bekas airmata yang jatuh, sakit di hatinya menyadari ayah melakukannya karna takut dia menyakiti keluarga barunya.
''Mengapa kau membawaku kedunia kalau hanya ingin menyakitiku.'' desis Carissa yang membuat Albert terdiam seketika.
''Carissa.''
Lea melangkah mengambil tas usang miliknya dan mengangkatnya keluar apartement dia merasa tak ada gunanya lagi dia berada disini, semuanya sudah hancur berantakan memang benar yang di katakan oleh Carissa kalau dia adalah gadis pembawa sial, karna itu dia harus segera menjauh dari kota ini bila perlu keluar dari dunia agar tidak menimbulkan rasa sakit bagi sekelilingnya.
Lea tersenyum lembut ketika melihat Derrell baru saja keluar dari perusahaan miliknya, yah selain memilik beberapa Club malam yang besar, kak Derrell juga mempunyai beberapa perusahaan besar lainnya,menjadikan pria muda ini kaya raya sekaligus berkuasa, langkah pria itu terhenti ketika melihat kedatangan Lea yang tiba-tiba, ia melangkah mendekati Lea, dan mengusap rambut gadis itu perlahan.
''Ada apa, mengapa wajahmu sembab apakah sesuatu terjadi, apakah Carissa menyakitimu lagi.''
''Cih....jangan mulai memfitnah, Carissa adalah gadis yang baik dan satu-satunya temanku yang baik, aku hanya datang untuk memberi kakak kotak makan siang, aku sendiri yang membuatnya loh.''
Derrell mengerutkan kening, berusaha menebak, tak biasanya Lea memberi kotak makan siang untuknya, Derrell menerima kotak makan siang itu dengan wajah penuh senyum, sambil pria itu mengangguk.
''Baiklah kebetulan kakak sedang lapar, ayo masuk ke mobil, kakak akan mengantarmu pulang.''
Lea seketika menggeleng,
''Tidak..aku harus ke kampus untuk mengantarkan tugas, dan sekalian mampir ke kantor kakak.''
''Tapi bukankah jaraknya cukup jauh.''
__ADS_1
Lea seketika berkaca-kaca, ia menatap mata Derrell yang selalu tajam.
''Tak ada salahnya bagi seorang adik menemui kakaknya bukan, aku hanya sedang merindukanmu kak Derrell, makanlah dengan baik juga....carilah seseorang yang mencintaimu, aku melihat kau dan Carissa juga sangat cocok, kakak juga bica menjaganya untukku.''ucap Lea.
Derrell mendekat.
''Ada apa denganmu, kau bicara cukup aneh Lea dan mengenai Carissa, aku memang mengincarnya, kakak senang kau setuju.''
Lea mengangguk
''Carissa gadis yang baik.''
Derrell tersenyum..
''Jangan terlalu memuji sahabatmu dia bisa besar kepala nanti.''
''Dia hanya akan memasang wajah culas.''balas Lea tertawa.
Keduanya saling melemparkan senyum, sembari Lea melirik jam di tangannya,
''Astaga kakak, aku sudah terlambat aku akan pergi sekarang, sampai jumpa..jika bertemu Carissa, sampaikan salamku.''
''Tapi Lea.''
Derrell terlambat menghentikan Lea karna gadis itu sudah masuk ke dalam taxi yang sejak tadi menunggunya, dan pergi. Derrell menatap makan siangnya dengan mata berkaca-kaca, Lea memang anak yang manis.
Derrell segera masuk ke dalam mobil.
*******
Sementara...
Lea mendorong kursi roda ibunya dan mendorongnya ke tepian tebing sembari menatap jurang lautan luas di bawah sana, airmatanya menetes, ibunya menjadi gila sekarang dia di temukan di sebuah panti sosial dan Lea menemukannya beberapa waktu lalu dan rutin mengunjunginya, meski sang ibu tidak ingat padanya dan hanya memanggil nama Risa...
''Rissa...kau mau membawa ibu kemana.''
''Sssttt...ibu, aku akan mengajakmu ke suatu tempat, kita akan bersama selamanya dan tak ada satupun yang bisa menyakiti kita lagi.''bisik Lea dengan suara serak.
Wanita di kuris roda itu menoleh,
''Rissa...putriku.''
''Yah....ini aku Risa, aku akan membawa ibu dalam kedamaian..kau percaya padaku kan.''bisik Lea dengan airmata yang mengalir.
__ADS_1
Ia kembali menatap jurang di depannya dengan tatapan beku.
Selamat tinggal.