
Tubuh Monica bergerak liar di atas tubuh Albert mereka sedang bercinta sekarang, namun satu hal yang membuat Monica kesal adalah Albert disini namun pikirannya terbang entah kemana, dia seperti patung hidup meski Monica sudah mengarahkan segalanya untuk memuaskan Albert seperti biasanya, namun tetap saja Albert tidak bernafsu kepadanya,
Ketika Monica ingin mencium, Albert lalu menahan tubuh Monica dengan tatapan malas,
''Sudah cukup, aku sedang tidak bergairah sekarang sayang, aku sedang lelah karna banyak pekerjaanku.''
Monica sangat kesal, mau tak mau turun dari tubuh Albert pria itu bahkan tidak menuntaskan hasratnya, apakah dia menyimpan hasratnya untuk wanita lain.
''Ada apa denganmu sayang, tidak seperti biasanya.''ucap Monica mencoba tersenyum, dia harus merayu sampai Albert menikahinya, karna menjadi selingkuhan bertahun-tahun itu tidak enak.
Albert masih memikirkan Clarisa, keadaannya seperti itu lantas bagaimana jika tak ada yang mengawasinya, Carissa harus kuliah dan tak mungkin mengawasinya 24 jam, tidak mungkin kalau mempercayakan Clarissa pada pelayan saja.
''Putriku sedang mengalami masalah, seharusnya aku selalu ada di sampingnya.''Albert mengenang dengan rasa bersalah di dadanya.
Monica mendekat dan memeluk Albert,
''Dia sudah dewasa kau hanya masih menganggapnya anak kecil.''
''Semua orang tua di dunia akan menganggap anak mereka masih kecil, walau mungkin anaknya telah menikah.''
Wajah Monica mengeras, ia memutar bolamatanya dengan jengah, penghalang terbesarnya untuk menjadi istri Albert adalah putrinya yang bernama Carissa itu tapi dia harus bersikap seperti ibu tiri yang baik.
''Aku mengerti perasaan itu, kita juga punya anak Albert.''
Albert hanya mengangguk patuh,
''Aku dengar mantan istrimu yang gila itu sedang dalam perawatanmu.''
''Dia berada dirumah Carissa sekarang.''
Bahkan rumah besarnya telah di berikan pada Carissa, Monica harus bertindak cepat.
''Aku prihatin padanya Albert...aku sungguh prihatin.''
''Terimakasih sayang.''
''Mungkin suatu saat aku akan menjenguknya kau mengijinkan aku bukan.''
''Aku harus bertanya pada Carissa dulu karna dia sudah mewarisi hampir 100% kekayaanku bisa di bilang aku hanya numpang pada putriku.''ucap Albert tampak pasrah.
''Dan kau tidak meninggalkan apapun untuk putra kita Aldo.'' desis Monica tidak terima.
Albert mengangguk patuh,
''Aku telah mengatakan ini pada Carissa namun dia bersedia membagi sedikit hartanya kalau Aldo bersedia tes DNA denganku.''
Wajah Monica merah padam, beraninya gadis kecil itu mempermalukannya dengan meminta hal itu.
''Apa maksudnya Albert.''
''Sayangku, kita hanya harus memenuhi syarat mengapa kau ragu, dia hanya melakukan tes demi warisanku karna bagaimana pun kita tidak terikat pernikahan.''
''Maka nikahi aku Albert.''
''Aku butuh ijin anak-anakku.''
''Apa maksudmu Anak-anak...kau punya anak lain.''
''Carissa punya saudara kembar.''
''Apa..''jerit Monica histeris.
Menghadapi satu Carisaa saja dia hampir menyerah apalagi ada dua. Wanita itu tampak syok dan hampir jatuh namun Albert berhasil menangkap tubuhnya..
''Sayang, apa yang terjadi denganmu.''
''Hoh...aku akan menjadi gila.'' jerit Monica histeris.
**************
__ADS_1
Carissa terkejut pagi ini ketika melihat menu masakan berbeda, terasa lebih enak seingatnya dia tidak mengganti tukang masak lamanya, mengapa masakannya lebih enak, apakah pelayannya diam-diam belajar masak.
Tak lama kemudian, Carissa lalu duduk dan ingin makan, setidaknya makanan ini mampu mengembalikan rasa gairah makannya atas patah hati dan juga duka yang dia terima beberapa waktu belakangan ini.
''Makanlah nona, apakah ini semua enak.''
''Yah...apakah kau belajar masak mengapa ini semua terlihat lezat.'' ucap Carissa mulai melahapnya satu-satu.
''Ini bukan masakanku nona.''
''Apa maksudmu, apa kau memesannya di restoran mahal, katakan padaku restoran apa namanya aku tidak pernah mencicipi masakan seperti ini.'' tanya Carissa terkejut.
''Aku juga tidak memesannya nona Carissa.''
''Lalu.''
Pelayan itu meminta Carissa menatap ke arah pintu yang terbuka, dan seketika dia terbelalak melihat sang ibu melangkah mendekatinya.
Uhug...uhug....
''Ibu.'' jerit Carissa histeris.
Airmatanya langsung menetes, meneguk air dalam gelas, gadis itu berdiri tegak dan menatap mata sang ibu yang terlihat indah, ibu sangat muda dan cantik, hingga Carissa jadi pangling sendiri,
Clarisaa mengulurkan tangannya ke arah putrinya.
''Risa....''desah wanita itu dengan suara yang bergetar.
Carissa langsung menangis dan melangkah cepat dan menghambur memeluk sang ibu dengan begitu erat.
''Ibu.....kau kah ini..ibu.''tangis Carissa pecah di dalam pelukan wanita yang sudah lama dia rindukan di dalam pelukannya, perasaan campur aduk memenuhi hatinya,
''Aku merindukanmu ibu...aku merindukanmu.''tangis Carissa dengan sesegukan.
''Ibu juga merindukanmu, maaf karna membuatmu sedih.''
''Ibu bisa berjalan, itu artinya ibu sudah sembuh.''
''Yah tentu saja.''
Carissa menggenggam tangan sang ibu tak ingin pisah bahkan, Clarisa menyuapi Carissa ketika makan, hingga gadis itu menangis haru..inilah yang dia cari kasih sayang ibunya, dan kini dia telah mendapatkannya.
Clarisaa juga tak berhenti mengusap airmatanya, dia menantikan hari ini sudah sejak lama, dan akhirnya waktu itu tiba baginya.
''Maafkan ibu, karna membiarkanmu hidup lama tanpa kasih sayang dariku, ibu bersalah padamu dan Lea, maafkan ibu nak.''tatap Clarisa sedih.
Carissa mengangguk,
Ia menatap ibunya lekat-lekat, ibu sangat cantik di usia 36 tahun, sudah banyak penderitaan yang di lewati ibunya...
''Jangan mengingat masa lalu ibu, aku tau ini bukan salahmu tapi Monica, dia telah menghancurkan hidup kita.'' jemari Carissa mengepal di tangannya.
Sang ibu hanya mampu mengangguk lega, dia terlihat begitu bahagia.
''Ayahmu hanya terlalu naif dan terjebak dengan masa lalunya.''
''Apakah ibu masih mencintai Ayah.''
''Dia hanya menganggapku wanita gila..''balas Clarisaa sedih.
''Tidak..ibu tidak gila, kau adalah ibuku dan saat ini kau punya aku untuk melindungiku, ayah juga tak bisa melakukan apapun karna dia telah menyerahkan seluruh hartanya padaku.''ucap Carissa dengan mata berbinar.
Clarisaa mengangguk lalu menyentuh pipi Carissa yang cantik,
wanita itu berkali-kali mengecup hampir seluruh wajah putrinya karna ini seperti mimpi dia bisa bertemu kembali dengan Risaa.
''Ibu merasa seperti mimpi bisa melihatmu Risaa..maafkan ibu.''bisik Clarisaa emosional.
Mereka kembali berpelukan erat, tangisan kedua wanita itu pecah,
__ADS_1
''Ibu...tidak penting perasaan kehilanganku dulu karna sekarang ibu ada disini...aku berjanji akan menyatukan kalian kembali.''bisik Carissa penuh tekat.
''Ibu tidak perduli dengan ayahmu, ibu hanya ingin bersama kau dan Alea.''
''Tapi Lea sudah meninggal ibu dan ini salahku juga.''
''Tidak putriku, Alea masih hidup.''bisik Clarissa dengan tegas.
''Apa maksud ibu jangan mempermainkan perasaanku.''
''Ibu benar sayang, Alea masih hidup...dan kau akan bertemu dengannya jika waktunya sudah tiba, dia tak ingin di temui.''
Carissa mengangguk patuh, ia tersenyum lebar dan kembali mendekap sang ibu, ia begitu senang hari ini.
''Ibu aku tak akan memaksanya, tapi jika saudara kembarku masih hidup maka aku lega dan bahagia.''
Clarissa mencium kening Carissa dengan lembut,
''Bayiku sudah dewasa mengapa kau cantik sekali.''bisik Clarissa menciumi wajah Carissa karna gemas,
Carissa menikmati kasih sayang sang ibu yang memang dia butuhkan dan rindukan.
''Karna aku mirip Ibu.''bisik Carissa tertawa dalam pelukan Clarissa.
''Ibu sudah tua kecantikan tidak perlu.''
''Eiit..... siapa bilang, ikut aku sekarang ibu.''bisik Carissa tak sabar.
''Hey,...kau mau membawa ibu kemana sayang.''bisik Carissa menyerah mengikuti langkah cepat sang putri.
''Aku ingin membuat ibu semakin cantik.''
''Apa.''
*********
Albert akhirnya pulang kembali kerumah meski baru 3 hari dia pergi, yah dia cemas dengan kondisi Clarissa yang sedang sakit lalu dengan kenyataan kalau dia mungkin butuh bantuan, mantan istrinya di kursi roda sekarang.
Namun rumah tampak sepi, dimanakah semua orang bahkan para pelayan tak ada di dapur seperti biasanya,
Seorang penjaga gerbang segera berlari ke arahnya dan membungkuk.
''Dimana semua pelayan, juga putriku apakah mereka tidak menjaga nyonya Clarisa.'' suara Albert meninggi di dalam ruangan.
''Maaf tuan, tapi nyonya dan nona sudah pergi bersama semua pelayan sejak pagi.''
''Apa maksudmu...istriku sakit.''
Kata-kata Albert terputus ketika beberapa iringan mobil masuk dari gerbang, sampai berhenti di depannya.
Carissa keluar dengan tawa yang pecah bersama para pelayan yang menjadi kesayangannya sekarang, mereka membawa banyak barang belanjaan.
''Ayah...''jerit Carissa melompat dan memeluk ayahnya.
''Sayangku....apa yang kau lakukan, kau dari mana dengan semua pelayan apalagi membawa ibu.''
''Yah aku membawa ibu jalan-jalan.''
''Carissa dengan kondisi ibu.'' Albert tak terima, jelas kondisi mantan istrinya tidak memungkinkan untuk jalan-jalan.
''Eiitt..tutup mata ayah sekarang.''
Carissa membantu untuk menutup mata Albert dan membuat pria itu semakin bingung.
''Tarraaa.........''
Mata Albert di buka dan ia membeku ketika melihat sosok mantan istrinya keluar dari mobil dengan aura nya yang cantik dan mahal, kulitnya mulus dan bersinar.
Albert begitu terkejut hingga mulutnya terbuka..
__ADS_1
''Clarissa.''