
Albert tak dapat menahan rasa terkejutnya menyadari tatapan Carissa yang menuntut jawaban.
''Mengapa Ayah mengenal ibunya Lea, apakah ada hubungannya denganku, lalu siapa Risa.''
Disaat yang sama Clarisa menoleh dan menatap ke arah Carissa, matanya menyipit tajam berusaha mengingat sesuatu meski itu tak mudah, Carissa pun akhirnya menoleh ke arah yang sama dimana, wanita itu mengarahkan pandangan kepadanya.
Sesuatu di hati Carissa bergetar,...
''Cepat bawa dia pergi sekarang.''titah Albert seraya menarik Carissa menjauh,pandangannya terputus ketika wanita itu di masukan ke dalam ambulans dan membawa tubuhnya pergi meninggalkan lokasi tebing yang tentu tidak baik untuk kesehatannya.
''Mengapa ayah membawanya pergi.''tanya Carissa protes.
''Ayah akan menjelaskan segalanya, tanpa ada yang tersisa Carissa....percayalah.''
Untuk saat ini Carissa mengalah dia juga sudah lelah menangisi Lea hatinya masih terluka, jadi dia tak ingin berdebat.
''Apakah ayah akan pulang kerumah Monica.''tanya Carissa dengan tatapan rapuh.
Albert menggeleng seraya mengelus rambut Carissa dengan lembut.
''Mulai sekarang ayah akan kembali tinggal dirumah, apakah kau sebagai pemilik rumah yang sah menerima ayah kembali.''
Carissa mengangguk patuh dengan tangisan bahagia, menghambur memeluk tubuh Albert dengan rasa lega, di saat seperti ini dia butuh ayah di sisihnya, untuk memeluknya.
''Baiklah...aku senang sekali Ayah.''bisik Carissa dengan isakan sedih.
Albert mengecup puncak kepala putrinya, hatinya bergetar ketika memikirkan Clarisa yang telah kembali, mengapa ia seolah kembali ke masa lalu.?
Clarisa.
*************
Carissa bangun pagi ini dengan tubuh yang sudah lebih baik, yah dia sudah minum vitamin yang cukup jadi ia merasa segar sekarang.
Gadis itu menghela nafas, mulai sekarang pencariannya adalah Lea, karna dia masih yakin Lea tidak bunuh diri melaikan berada di suatu tempat, Carissa segera turun dari ranjang dan membersihkan dirinya, lalu mengecek ponselnya dan membeku ketika ada pesan masuk dari Derrell, pria itu ingin bertemu apakah dia sudah tau tentang apa yang terjadi pada Lea, lalu bagaimana dia menerima semua ini? Carissa lalu membalas pesan kalau ia akan menemui Derrell saat ini juga.
Carissa lalu keluar dari kamar, dan sedikit terkejut melihat beberapa pelayan lalu lalang dari kamar milik ayahnya ada apa, juga ada seorang dokter dan asistennya masuk ke dalam kamar, kerutan di dahi Carissa semakin dalam, dirinya di hinggapi rasa penasaran apa yang sebenarnya terjadi di kamar, apakah ayah sakit.
''Om Teddy.''sapa Carissa pada sang dokter yang baru saja akan masuk.
Pria yang sudah menjadi dokter keluarganya bertahun-tahun bahkan menemani persalinan sang ibu untuk melahirkannya ke dunia itu menoleh kepadanya,
''Carissa.''dia tersenyum lebar.
''Apa ayah sakit.''
Pria itu menggeleng,
''Selamat Carissa, akhirnya setelah sekian lama kau menemukan ibumu kembali.''
''Ibu.''ulang Carissa dengan jantung yang berdebar, ayah tidak bilang menemukan ibu apakah belum sempat mengatakannya.
Wajah Carissa di penuhi senyumaan haru,
''Aku baru tau, apakah ibu kandungku apa dokter yakin.''
''Ya...dokter kemari karna ayahmu yang menelfon.''
''Benarkah, mungkin ayah mau memberi kejutan.''
''Mungkin, bagaimana kalau kita masuk saja.''
__ADS_1
''Yah..''
Dengan tidak sabar, Carissa melangkah bersama dokter masuk ke dalam ruangan, dan pemandangan setelah dia menatap wanita yang di sebut ibunya itu membuat Carissa sungguh terkejut, pandangan Carissa berpindah padan ayahnya yang sedang menggenggam tangan ibu dari Lea.
Carissa sungguh tak bisa mengatakan apapun selain dia sangat terkejut, mengapa ibu Lea menjadi ibu kandungnya, jika benar itu artinya dia dan Lea adalah, saudara kembar.
''Selamat pagi dokter.''sapa Albert bangkit dan mendekat dokter Teddy dan saling berjabat tangan, Albert lantas menatap wajah syok dari Carissa yang tak dapat di sembunyikan.
''Ayah akan menjelaskan semuanya kepadamu Carissa sekarang juga.''ucap Albert dengan wajah serius.
Carissa mengangguk tanpa suara lalu kembali memandang wanita yang saat ini sedang menatapnya tajam. Dokter Teddy langsung mengambil alih untuk memeriksa Clarisa sang ibu. sementara Albert membawa Carissa keluar ruangan.
*************
Ruang Keluarga yang sepi,
Albert duduk berhadapan dengan Carissa yang menatapnya meminta jawaban,
''Apa yang kau lihat sekarang ini adalah benar Carissa, kau dan Alea adalah saudara kembar yang di lahirkan wanita di dalam sana, namanya Clarisa dialah ibu kandungmu.''
Deg!!!!!
Betapa terkejutnya Carissa mendengar kebenaran yang ada di depan matanya dengan hati yang begitu menyakitkan, Carrissa sontak menyentuh dadanya yang bergemuruh,
airmatanya mengalir deras, memenuhi wajahnya.
''Tidak mungkin, Lea bukan adik kembarku tidak.''
Albert hanya menundukan kepalanya ketika Carissa kembali menangis keras, dia meraung dan tak berhenti menyalahkan dirinya,
''Tidak dia bukan adikku, itu tidak mungkin aku telah menyakitinya ayah..aku menyakitinya.''tangis Carissa sesegukan.
Albert juga menangisi putrinya Alea yang tidak pernah dia temui, dadanya begitu nyeri dan terpukul.
Carissa tak mampu menahan rasa sedihnya,
''Lea adalah gadis paling cantik dan sederhana, dia juga pintar ayah dia tak ingin memanfaatkan kecantikannya untuk uang, dia benar-benar istimewa.''ucap Carissa dengan mata yang basah.
''Carissa,tak ada yang bisa kita lakukan selain menerima kenyataan, saat ini ibumu mengalami depresi dan hilang tentang memory masa lalunya, ayah harap kau bisa membantunya.''
Carisaa mengangguk pasti, ia sudah merindukan ibunya selama bertahun-tahun dan tentu saja Carissa akan dengan segenap hati merawat dan mengembalikan ingatan sang ibu yang hilang, sembari terus mencari kemungkinan Lea masih hidup.
''Aku yakin Lea masih hidup di suatu tempat, dia adalah gadis yang tidak tega, dia pasti sengaja mengubur dirinya dari dunia dalam kesendiriannya tapi aku akan tetap mencairnya sampai kapanpun ayah.''
Albert menatap putrinya yang sedikit lebih dewasa, dan menerima.
''Baiklah ayah juga tak akan berhenti mencari Alea sampai kita menemukan bukti kalau dia benar-benar meninggal.''
Carissa mengangguk penuh senyum,
''Ayah...mengapa ayah tampan sekali.''
''Kau baru menyadarinya setelah hampir 18 tahun.''
Keduanya tertawa,
''Ayah dan ibu apakah mungkin akan kembali menikah demi aku.''tanya Carissa penuh harap.
Soal itu Albert memijit pelipisnya,
''Ayah tidak bisa menebak masa depan, cinta itu sudah hilang sayang namun ayah akan tetap merawat Clarisa sampai sembuh demi kau dan juga Alea.''janji Albert pada putrinya hingga Carissa tak bisa berbuat apapun.
__ADS_1
''Baiklah ayah...tapi terimakasih telah bersedia merawat ibuku.''
''Bagaimana pun dia adalah mantan istriku...ayah tak bisa menelantarkannya begitu saja.''
Carissa pun tersenyum lega.
**********
Carissa melangkah mendekati sebuah apartement dan membuka pintu kamar Derrell karna sesuai janjinya Derrell memintanya datang, Carissa membuka pintu dan langsung masuk, melepas sepatunya Carissa melintasi ruang tamu Derrell yang sepi dan terus melangkah mencari Derrell, namun tidak bertemu sampai akhirnya Carissa mendekati pintu kamar dan menghentikan langkahnya tak lama kemudian pintu terbuka dan seorang gadis muda keluar dari kamar Derrell dan menatapnya dengan tajam.
Carissa cukup terkejut melihat pemandangan di depan matanya ketika Derrell keluar dari toilet dengan menggunakan handuk miliknya pandangannya mengeras.
''Derrell, siapa ini.''
Derrell pun melangkah mendekati Carissa, membuat gadis itu bergerak mundur ke belakang.
''Dia wanitaku yang baru karna aku sudah bosan kepadamu Carissa.''
''Benarkah.''ulang Carissa dengan mata berkaca-kaca.
''Yah...kau adalah wanita yang aku benci sekarang karna, kau telah menyebabkan kematian Lea adik angkatku..kau wanita mengerikam yang tak berharga lagi bagiku Carissa.''
Sementara gadis yang bersama Derrell tadi langsung meninggalkan kamar itu setelah berganti pakaiannya, meninggalkan Derrell dan Carissa dengan tatapan tajam.
Sial sekali, mengapa Carissa harus menangis kali ini mengapa, memang benar kan kalau dia dan Derrell tidak terikat hubungan, bahwa pria ini hanya menghukumnya memberi noda padanya dan saat ini akan meninggalkannya dengan setumpuk luka, seharusnya Carissa tidak merasa sakit karna dia tau akhirnya akan seperti ini.
''Yah..aku gadis jahat, akulah yang menyebabkan semua penderitaan pada Lea, akulah penyebabnya memutuskan bunuh diri aku Derrell dan aku tak akan pernah mengabaikan itu semua tidak, aku mengerti kau membenciku.'' Carissa mengusap airmatanya yang mengalir deras di wajahnya.
Sementara Derrell terdiam di tempatnya, mendengar ucapan Carissa yang sama terluka karna kehilangan. Pria itu memalingkan wajahnya.
''Aku senang kalau kau sudah menemukan wanita lain, dan itu artinya kita tak perlu lagi bertemu.'' isak Carissa dengan wajah sendu.
''Yah..itu benar Carissa, aku benar-benar membencimu ingin sekali aku menghancurkanmu tapi..''
''Mengapa kau tidak melakukannya.''tanya Carissa menatap Derrell dengan tajam.
Derrell tersenyum dingin, ia mencengkram leher Carissa sedikit kuat dengan sinar mata membunuh yang begitu kentara, sementara Carissa tidak menghindar namun justru pasrah.
''Kau pikir aku takut melenyapkanmu Carissa.''
''Ayo lakukan saja dengan begini kau akan puas, dendammu akan terbalas bukan.''jerit Carisa dengan airmata yang mengalir.
Seketika itu cengkraman di leher Derrell melemah dia lemah di depan Carissa hingga pria itu memalingkan wajahnya membelakangi Carisa,
''Kau beruntung karna wajahmu mirip dengan Lea,dan ingat satu hal jika kita bertemu anggap saja kita tidak saling mengenal.'' ancam Derrell dengan suara tajam.
Carissa menghela nafas, rasanya sesak di dada menyadari kalau pria ini mencampakkannya, namun Carissa tidak mengeluh.
Mengapa ini menyakitkan untuknya.?
gadis itu berbalik ingin pergi namun lengannya di tarik cukup keras hingga tenggelam dari rengkuhan kasar Derrell.
''Mengapa kau menahanku Derrell.''
Pria itu tersenyum kejam, sambil mendekatkan wajahnya.
''Bukankah kau harus melakukan tugas terakhir.''desis Derrell menyentuh atasannya.
Wajah Carissa memucat.
''Jangan....aku mohon.''
__ADS_1
Srak!!!!!