Penyesalan Si Kembar

Penyesalan Si Kembar
Pulang


__ADS_3

Carissa mengendarai mobilnya dengan sangat pelan di malam hari setelah pulang dari apartement Derrel, airmatanya mengalir sepanjang jalan menangisi nasibnya yang begitu buruk, yah dia telah kehilangan segalanya atas nama hukuman, bagaimana dia bisa bertahan kali ini, airmata Carissa terus dan terus mengalir deras membasahi wajahnya yang sembab.


Sampai ia melewati sebuah taman yang sepi, Amanda tak mampu menahan perasaannya, gadis itu keluar dari mobil dan melangkah menuju taman yang sepi itu dan menjerit keras,


''Aaaaaarrrgghhhh.'' tubuhnya goyah hingga tersungkur di rerumputan, hatinya sakit sekali menyadari kalau dia telah kehilangan segalanya.


''Apakah ini sudah cukup, aku akan menerimanya..aku akan terima.'' tangis Amanda dengan rasa sesak di hatinya.


Masih menangis disana, Amanda menenangkan diri, tak mungkin pulang dalam keadaannya yang seperti ini, ada ibunya yang sakit dirumah, Carissa tak ingin menambah beban untuk sang ayah. lama masih duduk di rerumputan, gadis itu menyepi dalam keheningannya, sendiri dengan tatapan kosong sampai dia lelah dan akhirnya pulang.


*******


Albert menatap putrinya yang tampak kacau dan pucat,


''Apa yang terjadi sayang.''


Carissa mencoba tersenyum,


''Aku lelah mencari Lea..bagaimana keadaan ibu.'' tanya Carissa mengalihkan perhatiannya agar ayah tidak terlalu curiga kepadanya.


Albert tersenyum,


''Untuk kesehatannya semua stabil tapi Clarissa ibumu sangat pendiam dia tak ingin bicara apapun, jadi Carissa mungkin ini saatnya kau menemui ibumu.''ucap Albert memohon.


Albert merasa sedih luar biasa dengan keadaan Clarisa, wanita itu hanya menatapnya dengan airmata ketika mereka berdua di dalam kamar, walau Albert berusaha mengajaknya bicara Clarisa hanya diam membisu, Albert tau masih ada kemarahan dan dendam dari dalam diri Clarissa kepadanya.


''Aku.''


''Yah..kau tau Carissa, di antara kau dan Alea, ibu paling mencintaimu dia selalu memanggilmu Rissa agar nama kalian sama ketika di panggil, Ayah yakin kalau kau yang menemuinya mungkin saja ibumu akan sembuh.''


''Aku tak yakin ayah.''

__ADS_1


''Tak ada salahnya mencoba, dia ibu kandungmu sayang..bukankah kau sudah merindukan pelukannya.''


''Pelukan.''ulang Carissa dengan rasa asing yang menguar di dadanya, dia tak pernah merasakan pelukan seorang ibu hingga matanya berkaca-kaca saat itu juga.


''Baiklah, aku akan menemuinya Ayah...lalu ayah mau kemana.''tanya Carissa curiga.


''Monica menelfon dan meminta ayah pulang sudah lama ayah tidak pulang bukan, dia sedikit kesal.''


''Kapan ayah kembali.'' Carissa merasa tidak rela.


''Mungkin minggu depan.''


''Lama sekali ayah.''


''Kau harus mengerti ayah sayang, ayah butuh Monica.''


''Baiklah, aku menunggu minggu depan bersama ibu.''


Carissa sedikit jengkel pada Monica, wanita yang sama yang telah menghancurkan pernikahan ayah dan ibunya, Carissa mengepalkan tangannya, lihat saja dia akan mengembalikan keluarganya, meski sedikit mustahil ibu sakit.


*******


Pintu kamar terbuka perlahan, dan Carissa melangkah masuk ke kamar ibunya langkahnya terhenti ketika melihat ibu sedang berbaring dengan mata yang tertutup, dia cantik sekali karna sudah di rawat, Carissa yakin ibu dulunya seperti bidadari tentu saja. usia ibu baru 36 tahun, masih sangat muda.


Carissa mendekati tepi ranjang, dan tanpa di duga di saat yang sama, wanita itu membuka mata seolah dia merasakan kehadiran Carissa di sisihnya, mereka bertatapan.


''Ibu..''


Hening...


Clarissa hany diam sembari mengerutkan keningnya, dia masih memindai siapa di depannya karna rasa depresi yang dia alami.

__ADS_1


Carissa tersenyum dengan airmata yang menetes,


''Aku adalah Carissa, putri pertamamu ibu..apa kau ingat.''


Hening, wanita itu hanya menatap dengan kosong. Namun Carissa tak menyerah, dia mulai menundukan kepalanya sambil menggenggam tangan ibunya,


''Ibu....apa kau tau apa yang aku alami selama ini, aku merindukanmu setengah mati dan kesepian, aku berusaha mencari sesuatu tentangmu agar aku bisa lebih kuat tapi sekuat apapun aku tak menemukan dirimu, airmata Carissa berubah menjadi tangisan, Aku merindukan pelukanmu, aku selalu iri pada temanku yang punya ibu..kau tau menderitanya aku.'' tatap Carissa dengan sedih.


Karna sang ibu tetaplah diam, namun Carissa tidak menyerah..dia ingin keluarganya kembali dia ingin, ibunya sembuh karna dokter Teddy bilang secara medis ibu sudah sembuh tapi ibu tak mau kembali ke masa lalunya, hal itulah yang membuat sulit.


''Ibu..apa kau mendengarku, mengapa ibu tak mau kembali ke masa lalu dan mengingat semuanya ibu, aku adalah anakmu apa ibu tidak sayang padaku.''isak Carissa sesegukan,


''Aku sedang hancur sekarang dan aku membutuhkanmu ibu, haruskah aku mengalami hal yang sama dengan Alea, apakah ibu ingin kehilangan Rissa lagi ibu.''


''Ibu...jika ibu tidak ingat maka mungkin, ayah akan menikahi wanita bernama Monica dan kita akan kehilangan ayah, jadi ibu bisakah aku berharap kali ini ibu mengingatku, aku mohon.''rintih Carissa sedih sekali.


Carissa tak mampu menahan perasaannya, gadis itu menjauh dari ranjang dan menangis membelakangi sang ibu, sakit yang dia rasakan saat ini tak mampu dia hadapi sendirian, rasanya jika waktu dapat di putar, Carissa tak ingin mengenal siapapun, ia tak ingin terlibat dengan orang lain kalau akhirnya dia akan mendapatkan masalah,


Yah..cepat atau lambat ayah pasti menikahi Monica karna wanita itu sangat licik, bahkan Carissa sudah menyelidiki kalau sebenarnya Monica sudah punya kekasih lain walau masih bersama ayahnya, mereka rutin bertemu setiap bulan dengan membawa anaknya hingga Carissa yakin ayah tidak pernah memiliki anak dengan Monica namun wanita itu menjebak ayah dengan kejam.


''Ibu istirahatlah sekarang, aku akan pergi mungkin kita akan bicara lagi nanti.'' ucap Carissa tanpa membalikan tubuhnya.


Meninggalkan kamar milik sang ibu Clarissa yang menatapnya dengan pandangan yang dalam, Clarisa memejamkan matanya, wanita yang masih sangat cantik itu bangkit dari ranjangnya dan turun dari sana, Clarisaa berdiri dengan tegak, ketika airmatanya mengalir..ia menatap cermin yang menampilkan wajahnya sendiri, yah...dia sudah mengingat semuanya kecuali bertemu Risa putrinya, Clarissa tak akan pernah mengalah lagi, kedua putrinya harus menjadi miliknya kembali dan Albert harus sujud dan memohon ampunnya atas semua rasa sakit yang dia rasakan 18 tahun yang lalu, Clarissa akan membalas.


''Risaa..tadi itu adalah Rissa putriku.''


Clarissa memeluk tubuhnya sendiri, rasanya sesak sekali tidak dapat memeluk anaknya saat ini padahal dia ingin sekali. Clarissa menyipitkan matanya dengan tajam, menatap sekeliling kamar dengan ingatan masa lalu yang tertinggal, sebenarnya dia sudah sembuh dan bisa mengingat kembali hanya saja, dia ingin semua ini menjadi kejutan yang indah, putrinya harus bangga siapa ibunya.


Clarissa.


Wanita itu mengambil ponselnya dan menelfon.

__ADS_1


''Alea.''


__ADS_2