Penyesalan Si Kembar

Penyesalan Si Kembar
Dendam


__ADS_3


Ketika langkah kaki Clarisa menuruni mobil dia terkejut ketika melihat Albert berdiri di hadapannya dengan tatapan tak terbaca, pria itu terang saja syok melihat sang istri masih sangat cantik berdiri di depannya dan lebih dari pada itu semua adalah Clarisa baik-baik saja, dia tidak gila atau depresi seperti di awal perjumpaan mereka beberapa hari lalu, hal ini tentu membuat Albert sungguh terkejut luar biasa, mantan istrinya masih berusia 36 tahun dan itu sangat cantik, senyumnya masih sama seperti dulu namun sedikit lebih dewasa, hal itu membuat Albert ternganga ketika ingatannya kembali ke masa lalu.


''Ayah...hey...''Carissa melambaikan tatapannya ke arah sang ayah yang sedang terpukau, gadis itu tak berhenti senang membayangkan ayahnya masih terlihat mencintai ibu.


Albert berusaha menguasai dirinya kembali ketika ia di sadarkan kembali dari kenyataan, pria itu menoleh ke arah Carissa sekaligus memutus pandangan dari Clarisa yang membuatnya panas.


''Apa kalian baik-baik saja.''


''Yah..ibu sudah sehat, ayo dekat ibu.''bisik Carisaa membawa genggaman ayahnya melangkah menuju sang ibu yang menatap Albert dengan berjuta perasaan di dadanya, mengingat penghianatan Albert dulu membuat Clarissa seketika mendendam, namun dia berusaha mengendalikan diri menyadari ada putrinya yang senang melihat mereka bertemu kembali.


Albert mengangkat wajahnya, rasa gugup mulai terselip di dalam hatinya ketika dia mendapatkan tatapan yang menusuk itu dari dekat, Clarisaa sangat cantik kulitnya bening dia sempurna dilengkapi tubuh yang tinggi sejajar dengannya, dia benar-benar sangat cantik di wajah dewasanya.


''Clarisa.....apa kau benar-benar baik-baik saja.''


''Ayo pegangan tangan.'' pinta Carissa memaksa.


''Carissa.'' jerit Clarisa dan Albert bersamaan yang membuat Carissa merasa lucu, mengapa dia yang salah tingkah, matanya berkaca-kaca saat ini menyadari kalau ini bukanlah mimpi melihat kedua orang tuanya berdiri di depan matanya.


''Ayo...sudah lama ayah dan ibu tidak bertemu ayo pegangan.''suara Carissa sedikit meninggi.


Carissa adalah seorang tuan putri dirumah itu artinya ayahnya tak bisa berkutik juga ibunya.


''Yah baiklah Carissa.''


''Aku akan pergi dan meninggalkan kalian berdua, bicaralah dari hati ke hati..jangan saling membunuh disini jika kalian masih ingat aku dan Lea.''desis Carissa memberi peringatan, lalu dia dan pelayan meninggalkan halaman.


Tinggalah Albert dan Clarisa sendirian, mereka saling menatap.


Albert berdehem, entah mengapa dia merasa gugup saat ini bagaimana pun ini adalah hal yang paling mendebarkan untuknya, sudah lama sekali hampir 16 tahun mereka tidak bertemu.


Pria itu mengulurkan tangannya dan Clarisa memberikan tangannya untuk di genggam oleh mantan suami yang benar-benar dia benci, yah mengingat masa dulu ingin rasanya Clarisaa menangis lagi, dia di pisahkan dari salah satu putri kembarnya dan itu sangat menyakitkan untuknya.


''Apa kau sungguh baik-baik saja Clarisa.''


Albert menggenggam tangan Clarisa seolah menggenggam kembali kehidupannya, pria itu memejamkan matanya ketika perasaan rindu itu mulai mengalir dalam dirinya.


Hening...

__ADS_1


Clarisa tidak menjawab satu katapun, sampai Albert mengangkat wajahnya dan menemukan tatapan paling dingin Clarisa kepadanya, hingga pria itu menghela nafas berat.


Clarisa menaikan sudut bibirnya,


''Kau tadi bertanya tentang kabarku, apakah aku baik-baik saja bukan..yah,...aku baik-baik saja setelah mati dan bangkit dari rasa sakit karna dirimu Albert, terimakasih pada Tuhan aku masih hidup.''


''Apa maksudmu Clarisa..tentang masa lalu kau tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan...bahwa aku dan Monica.'


''Nikahilah Monica sekarang karna kau sudah menyimpannya begitu lama Albert, terlalu lama dia menunggu.''


Clarisa lalu melangkah melewati Albert namun, langkahnya kembali di cekal oleh mantan suaminya dan menariknya mendekat setengah memeluknya, pria itu menggertakan gigi.


''Clarisa tentang masa lalu aku minta maaf, aku sudah mencarimu selama bertahun-tahun tapi kau menghilang.''


''Oya..kau mencariku atau kau sedang asyik bersama Monica.''


''Apa maksudmu.''


''Dengarkan aku Albert, aku disini karna putriku..kalau tidak aku akan memilih ujung dunia agar kita tidak bertemu lagi.''


''Apa...'' Albert tidak terima.


''Lepaskan aku.''


''Tidak, sebelum kau mendengarkan aku.''


''Aku tidak butuh mendengarmu Albert.''


''Kau butuh Clarisa, kau butuh penjelasanku agar kau bisa berhenti membenci.''


''Lepaskan aku...aku tak akan memaafkanmu Albert, kau telah memberikan aku luka dalam karna memisahkan aku dari anak-anakku.''


''Aku tau Clarisa, mata Albert basah...Tuhan telah menghukumku juga, tapi aku benar-benar menjaga Carissa dengan jiwaku.''


''Yah..itu tanggung jawab seorang ayah, lalu bagaimana dengan Lea..dia tumbuh tanpa dirimu dia menjadi liar dan penyendiri, dia tak mau bertemu denganku lagi karna marah, semua ini karna salahmu.''


''Alea...''


''Yah...dia masih hidup tapi tidak ingin kembali.''isak Clarissa di wajah putus asanya,

__ADS_1


Albert meneteskan airmatanya ketika dadanya sesak, Alea masih hidup.?


''Dimana Alea sekarang.'


''Dia tidak mau memberitahuku dimana dia tinggal,dia hanya ingin sendirian tanpa siapapun.''


''Apa.''


Albert sungguh terluka mendengar ucapan Clarisaa, yah..ini semua sepenuhnya karna kesalahannya, kalau saja dia tidak tergoda mungkin saja keluarganya tidak akan sehancur ini.


''Aku minta maaf Clarisa...aku akan mencari putri kita.''


''Yah..itu tanggung jawabmu Albert, aku hanya perlu anak-anakku berkumpul kembali dan saat itu aku akan pergi.''ucap Clarissa dengan tajam, wanita itu melangkah meninggalkan Albert sendiri.


''Aku tidak mengijinkan Clarisa.''teriak Albert menggertakan gigi.


Clarisa menaikan sudut bibirnya, jemarinya terkepal.


**************


Dava duduk di sebuah Bar yang cukup ramai, pandangan matanya kosong dia sangat terluka dan bersalah, bagaimana tidak sejak kepergian Lea dia sungguh merasa hancur, sudah mencoba bangkit tapi tetap saja, bayangan Lea selalu datang mengintai tidurnya.


''Alea...aku mencintaimu, seharusnya aku mengatakan itu kan.''desis Dava kembali meneguk minuman beralkohol tinggi itu sampai habis.


Hidupnya berubah sejak kematian Lea, Bisnisnya menjadi kacau, dia sering mabuk hingga orang tuanya menjadi cemas, bagaimana pun juga Dava seorang putra tunggal.


''Ahh...Sialan...kau bodoh Dava.''racau pria itu mengumpat diri sendiri.


Tak lama kemudian terdengar bunyi pecahan gelas dalam jumlah banyak. lalu terdengar suara yang ribut.


''Apa kau buta, kau hanya pelayan rendahan..Lea.''


Mendengar nama Lea membuat Dava seketika bangkit, dengan cepat tubuhnya yang tinggi membelah kerumunan, hingga matanya jatuh pada sosok gadis yang terjatuh di lantai dengan luka tergores di tangan.


Dava bergetar ketika dia benar-benar syok melihat gadis itu.


''Alea.'' teriak Dava benar-benar terkejut.


Gadis itu menoleh dengan wajah pucat..

__ADS_1



__ADS_2