
Albert membeku melihat sorot mata yang begitu dia kenal menatapnya tak terbaca, hanya airmata yang mengalir disana dan membuat hati pria itu merasa nyeri.
Apa yang terjadi selama ini pada Clarisa, apa yang dia alami bersama putri mereka, Alea. Dada pria itu sesak mana kala ia tersungkur di depan wanita dengan kursi roda itu dan menundukan kepalanya dalam-dalam, tak pernah di bayangkan Albert kalau dia akan menemui wanita yang paling dia cintai dulu dalam keadaan seperti ini, apalagi di tambah kenyataan kalau salah satu putri kembarnya telah meninggal, hal itu cukup membuat hatinya hancur dan terpuruk dalam rasa bersalah hingga ia tak kuasa untuk menangis, jadi yang meninggal adalah putrinya.
''Tuan..apakah tuan mengenal nyonya Clarisa, dia adalah ibu kandung dari nona Alea, kami butuh tanda tangan anda sebagai wali untuk memasukan nyonya Clarisa ke rumah sakit untuk di periksa kejiwaannya, lalu mungkin kami akan mengirimnya ke rumah sakit jiwa.''ucap sang petugas hingga membuat Albert menegakan tubuhnya seketika,
''Tidak, dia tidak boleh di bawa kemanapun.''
''Mengapa.''
Albert mengusap matanya yang basah oleh airmata dan menatap sang petugas dengan senyuman getir,
''Dia adalah mantan istriku, dia juga adalah ibu kandung dari anak kembarku, Carissa dan Alea.''
Petugas itu membeku di tempatnya, ia masih terheran-heran dengan kenyataan di depan matanya.
''Tuan.''
''Yah,...aku juga baru tau kenyataan ini, aku sudah mencari mereka bertahun-tahun namun tidak berhasil menemukannya, malah ketika bertemu aku telah kehilangan salah satu putriku.'' ucap Albert melepas kacamatanya.
''Ya ampun tuan, aku minta maaf karna anda mendapatkan kenyataan pahit ini sudah sangat terlambat, aku turut berduka atas segalanya tuan, lalu apakah anda akan merawat nyonya Clarisa dirumah.''
Albert lalu mengalihkan pandangan pada putrinya Carissa yang masih menangis di pinggir tebing di temani oleh Dava, pria itu mengangguk penuh rasa sakit ketika menatap petugas itu.
''Yah..aku akan merawatnya, dia masih punya satu anak kembar jadi, aku harap mantan istriku akan sembuh dan bisa berkumpul dengan anakku.''ucap Albert berusaha bijak.
Albert tau betapa hancurnya Carissa saat ini, dengan di bawa pulang ibu kandungnya Albert hanya bisa berharap kalau luka di hati Carissa akan sembuh. Yah dia berharap itu.
''Kalau begitu aku ikut senang, tuan mari ikut aku untuk tanda tangan berkas.''
'Baiklah.'' balas Albert tersenyum.
*************
Sementara Dava dan Carissa duduk menghadap lautan lepas itu yang sedang bergemuruh dengan begitu besar.
Dava juga tampak terpukul, dengan kenyataan ini hingga dia tak mampu berkata apapun, hanya penyesalan yang menjadi lubang menyakitkan di hatinya.
''Kita berdua adalah orang yang bertanggung jawab atas rasa sakit yang di terima Lea.''bisik Dava dengan suara serak.
__ADS_1
Carissa mengangguk lemah, tatapannya menjadi kosong,
''Aku gadis jahat..aku telah membuatnya menangis Dava, aku telah membuatnya sakit hati dan terpuruk..seharusnya aku tau kalau dia punya hati yang rapuh di balik senyumnya...seharusnya aku tau dia lemah dan perlu perlindunganku...tapi apa yang aku lakukan aku menyakitinya.''isak Carissa sesegukan dalam penyesalan.
Rasa sesak itu juga di rasakan oleh Dava, ia sungguh menyesal telah memilih harta di banding cinta karna ketika dia mendapatkan segalanya, hatinya malah kosong karna cinta sejatinya pergi.
''Aku sempat berpikir untuk apa ada cinta dalam hidupku aku punya segalanya, jika aku butuh wanita aku tinggal membayar mereka..tapi malam itu dia datang padaku dan...''
Carissa menoleh dengan kerutan di dahinya,
''Dava,....apa yang terjadi kalian.''
''Kami melakukannya, aku menjadi pria pertama yang menyentuhnya setelah itu aku tertidur dan dia pergi..percayalah Carissa aku telah jatuh cinta padanya benar-benar jatuh cinta, aku akan jadi gila mulai dari sekarang.'' Dava tampak emosional ketika mengucapkan kata-katanya.
''Apa...''
Carissa memejamkan matanya sambil berpikir lalu ia membuka matanya, dan menyentuh bahu Dava.
''Mungkinkah Lea sengaja memalsukan kematiannya, agar kita semua melupakannya dan dia pergi jauh.''
Pernyataan itu sanggup memercik pengharapan di mata Dava yang sembab, ia menatap mata Carissa yang sama dengan mata Lea.
''Beberapa dari orang-orang mengangap kami kembar.''balas Carissa terkekeh.
Dava mengangguk wajahnya berubah menjadi serius,
''Carissa, aku ingin minta maaf padamu tentang aku yang pernah merayumu aku sadar perbuatanku salah, aku hanya terkecoh karna kalian begitu mirip namun akhirnya aku sadar kalau yang aku cintai adalah Lea dan bukan Carissa.'
''Aku juga minta maaf bersikap kasar padamu Dava, apakah kau memikirkan kemungkinan Lea.''
''Yah...karna itu aku memikirkan satu kota yang indah di tempat lain, mungkin sajan secara ajaib dia muncul disana.''
''Kau akan menunggunya Dava.''
''Yah...aku akan menunggunya seumur hidupku Carissa.''ucap Dava penuh janji.
Carissa mengangguk patuh, ia tersenyum sedih.
''Mari kita berdoa untuk kemungkinan itu karna aku merasa dia tidak meninggalkan kita.''
__ADS_1
Dava tersenyum..
''Harapanku kian tumbuh Carissa.''
Keduanya saling menggenggam tangan,
''Kapan kau akan berangkat.''
''Mungkin setelah ini semua selesai Carissa, aku akan pergi dari kota ini selamanya.''
Carrissa menganggukan kepalanya,
''Semoga kau berhasil Dava.''
''Tentu, begitu juga denganmu Carissa.''
Mereka masih duduk disana, masing-masing menggenggam kenangan yang tertinggal di dada dengan penuh rasa sesak di dada, sampai akhirnya kerumunan itu memudar dan meninggalkan hanya Carissa dan beberapa petugas juga ayahnya yang sedang berada di ambulans, dan rasa penasaran mulai muncul di dalam benak Carissa melihat ayahnya tampak memberi perhatian lebih kepada ibu dari Lea, langkah Carissa mendekat bagaimana pun dia penasaran awalnya ayah hanya datang mengantarnya namun akhirnya malah terjun langsung untuk menolong, ada senyuman lega di dalam benak Carissa saat ini.
''Aku ingin dia di bawa kerumahku, aku akan memanggil dokter dan perawat untuk melihat keadaannya.''ucap Albert pada petugas ambulans.
''Baik tuan.''
Albert lalu menatap sorot mata Clarisa yang kosong dan menyentuh jemarinya dengan lembut, mereka bertatapan.
''Clarisa, selamat datang kembali mulai sekarang kau akan aman di dalam pelukan keluargamu...aku ingin mengatakan kalau putri pertamamu yang biasa kau panggil Risa ada disini...aku akan mengenalkan kalian.''
Clarisa menoleh dengan isyarat, wanita itu bangkit,
''Risa......Risa.....'' isaknya mulai menggemakan nama itu.
Albert pun terenyuh, meski keadaan Clarisa jauh dari kata sempurna namun tetap saja kecantikannya begitu sempurna di mata Albert.
''Tenanglah...Clarisa.''
''Ayah.''
Suara di belakang Albert membuat pria itu seketika menoleh terkejut, melihat tatapan Carissa yang tidak berkedip.
''Siapa dia ayah.'' desah Carissa dengan mata yang basah.
__ADS_1