Penyesalan Suami : Pecah Seribu

Penyesalan Suami : Pecah Seribu
Bab 10. Kesempatan kedua


__ADS_3

Helaan nafas panjang keluar dari bibir Ravi. Masalah dengan Nafa belum usai, tetapi mama justru menambah beban pikiran dengan memintanya bertunangan dengan Marsha. Sungguh Ravi tak habis pikir dengan jalan pikiran ibunya.


Ravi kembali menghela nafas lalu menggeleng kepala perlahan. Kemudian meraih ponsel di dalam saku bajunya untuk menghubungi Nafa.


"Sayang, kamu sudah dirumah? Kita makan malam di luar, aku sudah diperjalanan menuju ke sana."


"Lain kali saja, aku capek malas keluar." Jawab Nafa melalui telepon.


"Bersiaplah, aku tunggu di depan." Tukas Ravi kemudian mematikan sambungan telepon. Tak peduli dengan penolakan Nafa yang tidak ingin keluar dengannya.


Lima belas menit kemudian, Ravi sampai di depan gerbang rumah sewa Nafa. Dia mematikan mesin mobil, lalu bersandar di badan mobil menunggu Nafa.


Namun, hingga beberapa menit menunggu, Nafa tak juga keluar. Ravi kembali menghubungi Nafa.


"Fa, ponsel kamu tuh," Beritahu Ika, sebab Nafa mengabaikan panggilan yang masuk dalam ponselnya. Padahal letak Nafa dan ponselnya tidak berjauhan.


Namun Nafa hanya melirik sekilas dan mengabaikan ponsel yang masih berdering hingga berhenti sendiri.


Dua detik kemudian, ponsel Nafa kembali berdering. Membuat Ika yang saat itu berdiri di depan kompor memasak mie instan, berjalan menuju meja makan untuk melihat siapa yang menelpon.


"Ravi, Fa." Ika memandang Nafa heran. "Angkat, siapa tahu penting."


"Dia ada di luar, mau ngajak makan malam." Jawab Nafa malas.


"Kenapa tak keluar?"


"Malas," Nafa berjalan kearah jendela untuk mengintip Ravi yang masih menunggunya diluar.


"Aku lihat, seperti dia sungguh-sungguh." Seloroh Ika, yang ikut mengintip dari balik jendela rumah. Benar dia melihat kesungguhan Ravi. Selama Nafa pergi Ravi selalu bertanya kabar Nafa padanya. Meski mendapat amanah untuk tidak memberi tahu apapun pada Ravi, dia tetap melakukannya. Sungguh dia tak tega melihat, keadaan Ravi saat itu.

__ADS_1


"Memberi kesempatan itu perlu. Siapa tahu dengan begitu dia benar-benar berubah. Bisa jadi kehidupan setelah kesempatan kedua itu lebih manis." Lanjut Ika, Nafa hanya melirik sekilas ke arah Ika. Mungkin benar, tapi hatinya masing terasa sangat sulit untuk memaafkan.


"Semua terserah kamu, aku hanya mengatakan apa yang aku lihat dan yang ada di pikiranku." Lanjut Ika kemudian pergi. Membuat hati Nafa sedikit terusik karena ucapan Ika.


Yeah, kesempatan kedua. Dia akan berusaha memberikan, tapi dia tak berjanji untuk kembali. Memaafkan tidak harus kembali bukan?


Setelahnya Nafa masuk kedalam kamar dan mengganti pakaian. Kemudian keluar dan menghampiri Ravi yang masih dengan posisi sama sejak tiba di sana.


"Kenapa lama sekali?" Tanya Ravi sembari menatap Nafa. Wajahnya sedikit berubah keruh.


"Maaf, masih di kamar mandi." Jawab Nafa beralasan.


Ravi tersenyum kemudian berjalan ke sisi untuk membukakan pintu untuk Nafa. Nafa pun masuk dan memasang sabuk pengaman.


Cup!


Satu kecupan berhasil mendarat di pipi kiri Nafa. Seketika membuat Nafa melayangkan tatapan tajam karena sikapnya.


Mobil pun melaju dalam kesunyian. Keduanya diam sibuk dengan pikiran masing-masing. Ditambah lagi audio mobil tidak dinyalakan, semakin menambah suasana didalamnya menjadi sunyi.


Nafa menghela nafas panjang dan memandang senja yang mulai tenggelam dari jendela samping. Sebenarnya dia enggan pergi, tapi karena bujukan Ika dan rasa hormat terhadap hubungannya dengan Ravi, dia pun akhirnya pergi. Kesempatan kedua? Mungkinkah akan diberikan? Sementara puing-puing hatinya masih berserakan dan sulit untuk rangkai lagi.


"Sebenarnya kita mau kemana?" Nafa tak tahan untuk tidak bertanya. Apalagi arah jalan yang dilewati saat ini sangat dikenalnya.


Namun Ravi hanya menoleh sembari tersenyum. Lalu kembali fokus menatap jalanan hingga akhirnya mobil memasuki area kompleks perumahan.


"Buat apa ke sini!" Nafa menatap Ravi dengan tatapan tajam penuh amarah. Dia baru saja akan membuka hati, tetapi Ravi justeru membuat pintu hatinya kembali tertutup dengan sikap semena-menanya.


"Kenapa marah? Aku hanya mengajakmu mengunjungi rumah kita. Memang salah?" Ravi balas menatap Nafa, tanpa merasa bersalah.

__ADS_1


"Salah, sebab kamu tidak meminta persetujuan dulu padaku." Sungguh, Nafa benar-benar kesal dengan sikap pemaksa Ravi.


"Haruskah meminta izin untuk datang ke rumah sendiri?" Lagi, Ravi berkata seakan dirinya benar. Sementara Nafa semakin kesal dan bahkan ingin marah saat itu juga.


"Masuk, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan." Ravi tersenyum sambil membuka kaitan sabuk pengamannya. Kemudian keluar dan dan berjalan ke sisi mobil membukakan pintu untuk Nafa. Namun Nafa justeru membuang muka dan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Mau turun sendiri apa ku gendong?"


Nafa berdecak kesal. Kemudian melepas tali sabuk pengaman lalu turun dari mobil. Ravi pun tersenyum dan meraih tangan Nafa menggandengnya berjalan masuk kedalam rumah.


Genggamannya semakin erat saat Nafa berusaha melepaskan tangan dari dalam genggaman Ravi. Ravi benar-benar mengunci tangganya seolah takut akan terlepas.


"Aku bisa jalan sendiri, tidak perlu seperti ini," protes Nafa, karena tak bisa lepas dari genggaman Ravi.


"Tapi aku ingin seperti ini," Dan kini Ravi justeru merengkuh bahu Nafa. Berjalan seperti itu hingga masuk kedalam rumah. Mengabaikan suara berisik Nafa yang minta dilepaskan.


"Ini sudah di dalam rumah, kenapa masih saja berjalan." Protes Nafa lagi, karena Ravi mengajaknya berjalan masuk kedalam kamar.


"Kamu jangan kurang ajar! Aku ikut bukan berarti aku mau kembali. Aku memaafkan mu bukan berarti juga aku kembali." Sungguh Nafa benar-benar kesal dibuatnya.


"Kenapa marah-marah sih! Memang aku ngelakuin apa sama kamu? Aku bilang mau nunjukin sesuatu sama kamu 'kan?" Ravi menatap heran pada Nafa. Dimana salahnya, hingga Nafa terus menerus memarahinya.


Nafa menghela nafas, akhirnya memilih diam dan menurut kemana pun Ravi membawanya. Namun sesampainya di kamar, tidak ada sesuatu yang berbeda. Letak dan posisi barang masih sama tidak ada yang bergeser sedikit pun.


"Apa yang ingin kamu tunjukkan!" Todong Nafa, karena merasa Ravi telah membohonginya. Ravi tak menjawab, justeru malah berjalan kearah balkon lalu membuka pintunya.


Perlahan namun pasti, Nafa berjalan ke arah balkon dan menyandarkan kedua tangannya pada pagar besi pembatas. Dia menghela nafas panjang kemudian memejamkan mata. Begitu banyak kenangan yang dia tinggalkan di sana. Bahkan sejak pertama kakinya melangkah, dia langsung teringat saat paling membahagiakan di dalam kamar itu.


Dor ...

__ADS_1


Sebuah kembang api terbang ke udara dan menimbun percikan api indah di atas awan. Mata Nafa, terbuka seketika dan langsung memandang takjub pada pemandangan yang tersaji.


"Happy anniversary, Sayang ...," bisik Ravi ditelinga Nafa. Air mata Nafa luruh seketika. "Maafkan aku, karena pernah memberikan kejutan paling menyakitkan di hari ulang tahun pernikahan kita."


__ADS_2