Penyesalan Suami : Pecah Seribu

Penyesalan Suami : Pecah Seribu
Bab 13. Cemburu 2


__ADS_3

Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas siang, mendekati jam istirahat. Namun, belum ada satu pekerjaan pun disentuh Ravi. Layar komputer di biarkan menyala. Sementara berkas di atas meja di biarkan begitu saja tanpa ada satu pun yang di periksa.


Sejak pagi, Ravi tidak bisa fokus dalam pekerjaannya. Kepalanya terus sibuk memikirkan laki-laki yang bersama Nafa dan hubungan laki-laki itu dengan Nafa.


Tok tok!


Setelah mengetuk, Sella membuka pintu dan melonglongkan kepalanya masuk. "Pak, berkasnya sudah selesai diperiksa?"


Ravi tak menjawab. Matanya menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong. Sella mengerutkan dahi, kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan ravi.


"Pak, saya mau copy berkasnya. Apa sudah selesai diperiksa?" Sella menggoyangkan tangan kanannya di depan Ravi. Namun, Ravi sama sekali tidak merespon. membuat Sella kembali mengulang pertanyaannya dengan menambah volume suara. "Pak, saya mau copy berkasnya. Apa sudah selesai diperiksa!"


"Hah! Apa?" Ravi tersentak memandang Sella bingung. Kedua bola matanya membulat sempurna. Memperlihatkan wajah kebingungannya.


Sella menghela nafas kemudian menggelengkan kepala lemah. "Saya mau copy berkasnya. Setelah jam istirahat, kita harus pergi ke kantor X, untuk membicarakan target pengerjaan." Terang Sella menatap Ravi serius.


"Atur saja," jawab Ravi singkat. Pandangan kini mulai terfokus pada berkas di atas meja kerjanya. Memeriksa berkas yang di maksud Sella lalu menyerahkan padanya setelah selesai di periksa.


Usai jam istirahat, tepatnya pukul dua siang Ravi bersama Sella juga Daniel bersiap pergi ke kantor X. Mereka masuk ke dalam mobil yang di kemudikan oleh Ravi. Kurang lebih satu jam perjalanan, mobil yang mereka tumpangi tiba di kantor tersebut.


Kedatangan mereka di sambut oleh Nafa dan seorang staf yang langsung mempersilahkan mereka masuk keruang rapat.


Sesekali Nafa mencuri pandang ke arah Ravi. Ada perasaan heran, sebab Ravi terlihat sedikit aneh Tak ada senyum yang di perlihatkan seperti biasanya.


Apa dia sedang ada masalah? Tapi baguslah, dia tak perlu berpura-pura membalas senyum Ravi.


Selama kurang lebih satu setengah jam, mereka berada di ruang rapat. Membicarakan tentang kesepakatan tenggang waktu yang di pimpin oleh Ravi dengan serius. Benar-benar serius, tidak ada senyum atau pun tatapan jahil yang ditujukan pada Nafa. Jujur, keseriusan Ravi membuat hati Nafa bertanya-tanya.


Setelah selesai dengan rapat nya, Ravi, Sella dan Daniel, dipersilahkan masuk ke dalam ruang jamuan menikmati hidangan yang sudah di disiapkan.

__ADS_1


"Kalian duluan saja, aku mau ke kamar mandi." Pamit Ravi pada Daniel yang berdiri di sampingnya. Kemudian pergi tanpa menunggu jawaban Daniel.


Sebenarnya, Ravi tidak benar-benar ke kamar mandi. Dia mengedarkan pandangan menatap sekeliling mencari di mana Nafa berada. Sedetik kemudian pandangannya langsung terkunci pada dua sosok yang duduk berhadapan dan saling melempar senyum.


Ravi mengepalkan kedua tangannya kesal. Kemudian berjalan cepat menghampiri Nafa yang duduk bersama Fandi.


Ravi meraih tangan Nafa untuk membawanya pergi dari sana. Namun, Fandi menahan dengan melayangkan tatapan tajam pada Ravi.


"Apa-apaan ini!" Cegah Fandi, membuat Ravi balas menatapnya tajam. Lalu menarik Nafa pergi dari sana. Tak menghiraukan tatapan tak suka yang perlihatkan Fandi padanya.


"Lepasin! Kamu ini kenapa sih!" Pekik Nafa berusaha melepaskan genggaman tangannya. Namun Ravi tak menghiraukan dan justru semakin mengeratkan genggamannya hingga tiba di parkiran.


"Masuk!" Ucapnya dengan nada sedikit membentak. Pintu mobil sudah dibuka, tetapi Nafa tetap berdiri tak mau masuk.


"Aku bilang, masuk!" Lagi, Ravi memerintah dengan nada suara sedikit di tekan.


"Jangan buat aku memaksa kamu!" Ucap Ravi dengan nada penuh emosional.


"Yang kamu lakukan sekarang ini sudah termasuk pemaksaan." Pekik Nafa tak terima. Sejenak saja memerintah.


"Masuk sendiri, atau aku akan membuatmu masuk dengan terpaksa."


"Lakukan saja!" Tantang Nafa. Dia tak takut dengan ancaman Ravi. Memang apa yang bisa Ravi lakukan? Menggendongnya? Atau ...


Dan benar saja, belum selesai Nafa bermonolog, Ravi menangkup wajah Nafa. Kemudian langsung menarik dan melu mat bibir Nafa. Bahkan Ravi mendorong tengkuk Nafa untuk menciumnya lebih dalam.


Benar saja, yang mereka lakukan saat ini, sontak menjadi tontonan gratis bagi karyawan yang sedang berada di tempat itu. Pasalnya tempat itu, bukan hanya digunakan untuk sekedar tempat parkir. Ada beberapa gazebo yang di gunakan sebagai tempat merokok. Juga ruang petinggi perusahaan yang menghadap langsung ke area tersebut.


Menyadari semua itu, Nafa memukul-mukul dada Ravi agar Ravi melepaskannya. Begitu Ravi melepas tautan bibirnya, Nafa langsung bergegas masuk ke dalam mobil. Dia menarik gagang pintu mobil lalu membantingnya keras. Seolah menunjukkan bahwa dia sedang marah saat itu.

__ADS_1


Ravi tersenyum menang, lalu berjalan kearah kemudi dan melajukan mobil meninggalkan area parkir kantor Nafa.


Hening. Seperti itulah suasana di dalam mobil saat itu. Baik Nafa mau pun Ravi tidak ada yang membuka suara. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


Mobil terus melaju, bagai tak menemukan tujuan. Berkali-kali Nafa menghela nafas jenuh. Namun, dia enggan bertanya kemana Ravi akan membawanya. Sesekali Nafa menoleh ke arah Ravi ketika mobil melewati papan petunjuk jalan. Namun, Ravi sama sekali tidak menunjukkan sikap akan memberi tahu kemana tujuannya. Pandangannya fokus menatap lurus kedepan hingga akhirnya berhenti di sebuah pantai.


Nafa menoleh ke arah Ravi, menatapnya dengan penuh tanya. Namun Ravi hanya tersenyum lalu meraih tangan Nafa untuk di kecup.


"Jangan dekat dengan laki-laki manapun, aku cemburu." Ucap Ravi dengan tatapan pias.


Nafa berdecak lalu memutar bola matanya jengah.


"Laki-laki mana yang kamu maksud?"


"Yang menjemputmu tadi pagi, juga yang mengobrol denganmu tadi."


"Dia atasanku, kamu nggak perlu repot-repot cemburu sama dia." Nafa melirik Ravi malas.


"Mulai sekarang, aku minta kamu mengatakan apapun padaku,"


"Apapun bagaimana maksudnya?" Nafa memotong kalimat Ravi. Dia tahu maksudnya, pada akhirnya Ravi akan menjadi diktator untuknya.


"Sedang apa, ada di mana dan dengan siapa. Semua aku harus tahu." Tegas Ravi pada akhirnya.


Namun, Nafa justeru tertawa sambil menggelengkan kepala pelan.


"Tuan Ravi, kamu pikir aku ini apa? Sampai kamu harus tahu semua yang aku lakukan. Dengar aku ingin menikmati hidup, aku tidak suka hidupku di atur oleh siapapun."


"Termasuk suamimu?" Ravi menyahut dengan mata menatap serius. Membuat Nafa terdiam karena tak bisa membantah ucapan Ravi.

__ADS_1


__ADS_2