
Dor!
Kembang api yang kedua kembali dinyalakan. Mata Nafa semakin terpejam erat bersama dengan air mata yang semakin deras mengalir di kedua pipinya.
"Maafkan aku, Sayang ... aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu." Ravi kembali berbisik, bibirnya menempel di ujung telinga Nafa. Kedua tangannya melingkar di pinggang Nafa memeluknya erat. Nafa semakin mengeratkan pejaman matanya kala hembusan nafas Ravi menembus kulit pipinya.
"Aku mati saat kamu meninggalkanku. Dunia tak ada artinya saat kamu tak berada di sisiku. Kembalilah, tetaplah bersamaku. Cukup sekali aku kehilanganmu, aku tak mau kehilanganmu untuk yang kedua kali. Aku mencintaimu." Kini Ravi menempelkan kepalanya di cekeruk leher Nafa. Menghirup dengan rakus aroma tubuh yang sangat dia rindukan selama ini.
"Ada banyak kalimat yang sulit ku rangkai. Entah besok, lusa atau bahkan tidak akan pernah terangkai sama sekali. Seperti halnya maafku. Bahkan hanya memandang mu saja sudah membuatku lupa dengan kalimat maaf yang ingin aku ucapkan." Perlahan pejaman mata Nafa terbuka. Kemudian menyentuh tangan Ravi yang melingkar di pinggangnya untuk melepaskan kaitannya. Lalu memutar tubuh untuk menghadap Ravi yang berada dibelakangnya.
"Aku wanita, hatiku rapuh dan mudah pecah. Meski kamu bisa menambal pecahannya, tapi bekas retaknya akan tetap terlihat." Nafa berusaha tersenyum. Beradu pandang dengan bola mata Ravi yang menatapnya dengan keteduhan. Nafa melihat ada banyak penyesalan di sana. Namun, dia belum yakin dengan kesungguhannya.
"Aku mengerti, aku tidak akan memaksa bekas retak itu segera hilang. Paling tidak, biarkan aku berusaha menyusun retakan itu." Ravi meraih kedua tangan Nafa menggenggamnya erat. Kemudian mencium punggung tangannya berulang kali.
Nafa hanya tersenyum sinis. Dia tak berkata apa-apa. Hanya saja, hatinya selalu menertawai semua sikap Ravi yang perlihatkan padanya. Mungkin bagi orang lain itu adalah sebuah kesungguhan, tapi baginya hanya sebuah sandiwara yang akan berakhir saat semua adegan sudah selesai di mainkan.
"Sayang, aku percaya dengan kekuatan cinta. Sejauh apapun kamu menghindar, pada akhirnya kamu akan tetap kembali." Ucap Ravi yakin. Hatinya terlanjur terpaut satu nama saja. Bahkan dalam setiap do'a dan helaan nafasnya, hanya Nafa yang selalu membuat hati dan bibirnya bergetar.
__ADS_1
"Kenapa kamu se yakin itu? Ada banyak rahasia dari sang pencipta yang tidak kita ketahui. Aku khawatir jika pada akhirnya, tidak ada yang terwujud, kamu akan lebih hancur dariku." Papar Nafa dengan senyum meremehkan.
"Karena matamu yang mengatakan. Dengar sayang, matamu tidak akan pernah bisa berbohong." Ravi menatap Nafa sembari tersenyum. Sebuah senyum paling meneduhkan yang berhasil membuat hati Nafa berdesir. Meski mati-matian dia mengingkari. "Aku melihatnya, aku merasakannya."
Ravi melepas genggaman tangannya untuk meraih sesuatu dalam saku celananya. Sebuah amplop panjang terlipat dua berwarna putih diberikan pada Nafa.
"Malam itu, aku memang lupa dengan hari ulang tahun pernikahan kita. Tapi, asal kamu tahu, aku sudah membeli dua tiket liburan ke luar negeri. Aku menyimpannya di laci meja rias. Beberapa hari aku selalu memeriksanya. Ternyata letaknya masih sama. Sepertinya kamu belum mengetahui. Memang benar malam itu aku lembur, tapi seharian itu aku menunggu telepon darimu. Tetapi kamu tak juga menelpon, akhirnya aku memutuskan pulang untuk memeriksanya lagi. Tapi Marsha datang, dan akhirnya ...,"
"Akhirnya, kalian ber cinta." Nafa memotong kalimat Ravi sembari tersenyum sinis.
"Beberapa lembar foto membuat harga diriku sebagai laki-laki bagai di banting dari ketinggian. Aku sangat marah dan kecewa. Apa lagi kata-kata Marsha terdengar sangat menjatuhkan harga diriku. Entah bagaimana bagaimana jadinya, saat aku menyadari, aku sudah berada di atas tubuh Marsha. Sialnya saat itu kamu yang melihat." Papar Ravi mengingat kejadian paling memilukan lima tahun silam.
Ravi jongkok dan bertumpu pada satu lutut. Kepalanya mendongak menatap Nafa. " Maafkan aku, saat itu aku hanya termakan bisikan yang meminta untuk membalas perbuatanmu. Tanpa mengetahui kebenarannya, aku justru menuduh dan menghinamu. Sayang maafkan aku. Aku tahu pasti sangat sulit untukmu memaafkan aku. Kamu berhak marah,"
Nafa menelan ludahnya sambil memejamkan mata. Kemudian menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Sungguh dadanya terasa sesak dan sulit untuk bernafas.
"Sayang, aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan kan mu lagi. Aku menyesal karena pernah menyia-nyiakan mu." Dikecupnya punggung tangan Nafa berulang kali. Lalu meraih sebuah kotak beludru berwarna merah dalam saku bajunya kemudian di genggam kan kedalam tangan Nafa. "Ini, hadiah ulang tahun pernikahan kita yang empat." Ucapnya sembari membuka kotak yang masih berada dalam genggaman Nafa lalu memakaikannya. "Aku membelinya saat perjalanan bisnis ke Lombok." Ravi memandang cincin mutiara yang tersemat di jari manis Nafa sembari tersenyum.
__ADS_1
"Aku rasa semua ini tidak perlu. Aku tidak membutuhkannya." Nafa menarik tangannya dari genggaman Ravi dan berusaha melepas cincin di jari terpasang di jarinya.
"Tidak jangan di lepas! Ini milikmu." Ravi menahan pergerakan tangan Nafa yang akan melepas cincin ditangannya lalu menyatukan jari tangannya dengan jari tangan Nafa.
Sejurus kemudian, Ravi berjalan dengan jari tangan masih bertaut. Tautannya mengerat seolah enggan terlepas. Hingga berhenti di kolam renang yang berada di halaman belakang rumah.
"Percuma kamu menyiapkan semua ini. Tidak akan merubah keadaan." Ucapa Nafa saat melihat sebuah meja dengan dua kursi saling berhadapan. Di atas meja itu hanya ada sebuah tangkai bunga mawar merah dan dua lilin yang menyala.
Namun Ravi tak bergeming dan tetap berjalan kearah meja tersebut kemudian menarik salah satu kursi untuk Nafa duduki. Meski malas, Nafa mendekat dan duduk di kursi tersebut. Dengan wajah yang sudah berubah keruh.
"Ini hadiah ulang tahun pernikahan kita yang ke lima." Ravi memakaikan sebuah kalung berlian dari belakang. Nafa tersentak dan langsung menoleh ke belakang di mana Ravi sedang berdiri menatapnya sembari tersenyum.
"Sungguh, aku rasa ini tidak perlu." Nafa menahan kalung yang hampir menyentuh lehernya. "Aku bukan orang yang seharusnya menerima semua ini." Lalu menggeleng lemah. Jujur perlakuan Ravi telah berhasil menghidupkan kembali rasa yang sudah hampir mati.
"Tidak ada orang lain yang lebih berhak selain kamu." Akhirnya kalung itu terpasang sempurna di leher Nafa. Ravi merapikan rambut Nafa sembari tersenyum. Kemudian duduk berhadapan dengan Nafa.
"Apa akan ada hadiah ulang tahun pernikahan yang ke enam, tujuh dan seterusnya?" Nafa memandang Ravi dengan senyum sinis. Dia sudah merasa malas dan muak dengan semua pembualan Ravi.
__ADS_1
Namun, Ravi justeru tersenyum kepadanya. Dan benar saja sesaat saja Nafa memalingkan wajahnya sebuah paper bag berwarna merah sudah ada di atas meja.
"Jangan pernah berpikir aku akan merubah pikiran hanya karena semua hadiah ini." Tekan Nafa dengan tatapan penuh amarah.