Penyesalan Suami : Pecah Seribu

Penyesalan Suami : Pecah Seribu
Bab 21. Tidak bisakah kita hidup normal seperti dulu?


__ADS_3

Tanpa persetujuan Nafa, Ravi mengemudikan mobilnya menuju rumah. Tak peduli dengan teriakan dan ancaman Nafa yang meminta agar dia menurunkannya. Ravi tetap mengemudikan mobil dengan tenang.


Kurang lebih setengah jam perjalanan, mobil yang dikemudikan Ravi masuk ke dalam komplek perumahan asri. Lalu berhenti di gang ke dua unit nomor empat.


"Turun," Ravi membukakan pintu mobil agar Nafa turun dan masuk ke dalam rumah.


"Aku tidak mau," Nafa melipat kedua tangannya kedepan dada sambil membuang muka. Dengan gerakan cepat Ravi menggendong Nafa berjalan masuk kedalam rumah.


"Aaaa ... Ravi! Apa-apaan sih! Turunin nggak!" Pekik Nafa sambil memukul-mukul dada Ravi agar dia menurunkannya. Namun Ravi tak peduli tetap berjalan masuk kedalam rumah. Sementara pintu mobil dia biarkan terbuka.


"Selamat datang di rumah kita," Ravi merentangkan kedua tangan menyambut kedatangan Nafa dengan senyum lebar.


Sementara Nafa hanya mendengus kesal. Dan kembali membuang muka. Namun ekor matanya melirik setiap sudut rumah itu. Kenangan indah hidup bersama Ravi kembali terbayang. Perlahan namun pasti, Nafa memejamkan matanya. Kenangan-kenangan itu begitu sangat mengusik relung hatinya.


"Aku mencintaimu," Ravi berbisik di telinga Nafa, dengan memeluknya dari belakang.


Mata Nafa, terbuka lalu berusaha melepaskan kaitan tangan Ravi dari perutnya. "Tidak seharusnya kita seperti ini Ravi."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Kita akan berpisah, kita harus terbiasa terpisah." Nafa membalikkan tubuhnya menghadap Ravi setelah berhasil melepaskan kaitan tangan Ravi dari perutnya.


"Siapa bilang kita akan berpisah. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskan mu."


Malam itu dengan terpaksa, Nafa bermalam di sana. Dan berada dalam satu ranjang. Mati-matian Nafa menolak, tapi Ravi justeru mengunci dalam kamar.


"Ravi, jangan bersikap seperti anak kecil." Nafa menatap berang kearah Ravi. Emosinya kini benar-benar memuncak karena paksaan Ravi. Dan Nafa tak menyukai semua itu.


"Terkadang kekanak-kanakan itu perlu. Saat semua cara tidak bisa lagi di gunakan." Ravi menanggapinya dengan senyuman. Lalu meraih pinggang Nafa, menariknya kedalam pelukan.


Nafa mendorong dada Ravi agar tidak berada dekat dengannya. Namun Ravi justeru semakin mengatakan pelukannya. Mendekatkan wajahnya pada Nafa, lalu dengan gerakan cepat dia mencium bibir Nafa lembut. Satu detik, dua detik, tiga detik tidak ada penolakan. Ravi menyesapnya dan memainkan lidahnya di dalam mulut Nafa.


"Aku harap ini akan jadi ciuman terakhir kita." Nafa tersenyum setelahnya.


***


Suara dengkuran halus dan teratur terdengar sangat dekat di telinga Nafa. Dan juga, hembusan nafas berulang-ulang terasa dingin menembus ujung kepalanya.


Dengan gerakan pelan Nafa menggeliat untuk merubah posisi tidurnya. Namun rengkuhan erat justeru terasa mengunci tubuhnya. Perlahan namun pasti, Nafa membuka mata dan langsung mendapati dirinya berada dalam dekapan dada bidang Ravi.

__ADS_1


Untuk beberapa saat, Nafa menatap lekat wajah Ravi. Dadanya kembali bergetar lengkap dengan desiran yang tiba-tiba membuatnya semakin gelisah. Tak ingin lebih lama dalam keadaan itu, Nafa memalingkan wajah dan berusaha melepaskan diri dari dekapan Ravi.


Namun, pergerakan Nafa,justru membuat Ravi Semaki menariknya kedalam pelukan. Hingga bibir Ravi menempel pada ubun-ubun kepala Nafa. Sekuat tenaga Nafa mendorongku dada Ravi agar di terbangun dan melepaskannya.


"Sayang, ada apa?" Ravi menyipitkan mata saat merasakan dorongan kuat di dadanya.


"Lepaskan,"


"Oh, sudah pagi, ya?" Ravi memandang kearah jendela yang masih tertutup gorden. Terlihat jelas cahaya matahari menembus gorden dan masuk kedalam kamar dari sela-sela gorden yang tidak tertutup rapat.


"Sayang, aku ingin sarapan nasi goreng buatanmu." Sambil tersenyum, Ravi menatap Nafa dengan penuh permohonan.


"Oh, jadi kamu bawa aku ke sini hanya untuk membuatkan mu nasi goreng?" Nafa balas menatapnya Ravi dengan senyum sinis.


"Tidak, bukan seperti itu. Aku sangat merindukanmu. Apapun yang ada pada dirimu, aku merindukannya."


Nafa kembali tersenyum sinis sambil membuang muka.


"Nafa, tidak bisakah kita hidup normal seperti dulu?"

__ADS_1



__ADS_2