
"Tampar aku, pukul aku! Lakukan apapun yang kamu mau, asal kamu memaafkan aku." Ravi menatap pias Nafa yang semakin terisak. Kemudian menariknya kedalam pelukan. "Maafkan aku, sayang." Dikecupnya ujung kepala Nafa pelan dan lama. Setetes air mata laki-lakinya jatuh. Tak tergambar betapa kejinya kekhilafan yang pernah dia lakukan. Sampai Nafa sangat membenci dan sulit memaafkannya.
"Pergi kamu ... pergi! Aku benci kamu," Nafa meraung dalam dekapan Ravi. Luka di hatinya semakin bertambah perih ketika Ravi berulang kali mengucapkan kata maaf.
"Sungguh, maafkan aku. Maafkan kekhilafan ku. Beri aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku." Ravi berbisik pelan. Bertubi-tubi dia menciumi ujung kepala Nafa. Begitu besar penyesalan yang dia rasakan.
Perlahan namun pasti, isakan Nafa mereda. Dia pun mulai tenang dan melepaskan diri dari pelukan Ravi.
"Duduk dulu," Ravi menuntun Nafa duduk di atas sofa itu kembali. Nafa pun menurut dan duduk di sebelah Ravi dengan kepala menunduk. Sementara tangannya menghapus sisa air mata di sudut matanya. "Minum," Ravi mengulurkan segelas air mineral yang langsung di terima oleh Nafa.
"Sayang, aku tahu ini sangat menyakitkan. Tapi kamu juga harus tahu aku sangat mencintaimu. Maafkan aku karena telah meragukan kesetiaan mu. Aku benar-benar bodoh karena termakan hasutan yang belum terbukti kebenarannya." Ucap Ravi penuh sesal. Tak ada kata yang lebih baik dari permintaan maaf dan penyesalan yang keluar dari mulutnya saat ini.
Nafa diam, entahlah apa yang dirasakan saat ini. Terlihat jelas penyesalan di kedua bola mata Ravi. Tapi di sisi lain ada luka yang sangat sulit untuk ditembus dan diobati.
"Beri aku satu kesempatan sekali lagi. Aku berjanji akan memperbaiki hubungan kita. Jika aku gagal kamu boleh pergi, aku tidak akan menghalangi." Ravi menggenggam tangan Nafa erat seolah tak ingin lepas. Sorot matanya menggambarkan keseriusan dari setiap kata yang diucapkan.
"Entahlah, aku tidak tahu. Sulit bagiku membuka hati. Aku takut kejadian yang sama kembali terulang. Aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati ini jika itu benar terjadi." Nafa balas menatap Ravi. Dibiarkannya tangan dalam genggaman Ravi. Dia ingin tahu, masih adakah rasa yang tertinggal untuk Ravi. Semakin lama menatap dia justru semakin mengangumi ketampanan mahkluk dihadapannya itu. Paras tampan yang selalu diidamkan oleh semua wanita. Dulu dia sangat kesal karena ketampanan yang miliki ravi. Senyum ramahnya pada semua wanita tak jarang mengundang kecemburuan dan berhasil membuatnya mengomel tak karuan.
"Sayang ... kamu melamun?" Ravi mengusap bahu Nafa. Membuat kekaguman Nafa pada Ravi terputus seketika. "Ngelamunin kita di dalam kamar?" Ravi menatap Nafa dengan senyum menggoda.
"Mana sempat melamunkan hal tidak penting seperti itu."
"Masak? Tapi pipi kamu merah," lagi, Ravi menggoda Nafa dan berhasil membuat pipi Nafa benar-benar memerah. Kemudian memukul pundak Ravi karena terus menatapnya dengan tatapan menggoda. Akhirnya gelak tawa keluar dari bibir keduanya.
__ADS_1
"Aku berjanji, akan selalu mencintai dan menjagamu." Ucapa Ravi serius. Matanya menatap teduh pada Nafa yang juga menatapnya.
Nafa tersenyum tipis, kemudian menundukkan kepalanya sebentar lalu menatap Ravi. "Aku butuh waktu." kata Nafa pada akhirnya.
"Sampai kapanpun, aku akan menunggu." Ravi balas tersenyum. Satu gerbang sudah terbuka, tinggal bagaimana dia masuk dan menembus hati yang sudah hancur itu.
"Tidak! Jangan menunggu. Pergilah, jika kamu merasa jengah."
"Tidak akan! Aku tidak akan pernah pergi meski ribuan kali kamu mengusirku."
Nafa menghela nafas panjang lalu menggeleng lemah. "Terserah apapun yang ingin kamu lakukan. Aku harus kembali ke kantor." Dia pun bangkit dan memandang Ravi ramah. Seolah mengerti maksud Nafa, Ravi pun berdiri kemudian berjalan membukakan pintu untuk Nafa.
"Terimakasih," ucap Nafa sebelum melangkah keluar.
Cup!
"Kembali kasih ... hati-hati ya, maaf aku nggak bisa nganter." Ucap Ravi tanpa merasa bersalah. Bahkan tatapan tajam Nafa seolah menjadi tatapan penuh cinta dimatanya.
Nafa langsung pergi tanpa berkata apa-apa. Dia mengomel dalam hati dan menghapus jejak bibir Ravi dari pipinya.
"N-Nafa,"
Seruan nama itu sontak menghentikan langkah kaki Nafa yang sudah hampir sampai di parkiran mobil. Kemudian berbalik dan langsung mendapati Marsha berdiri dengan menatapnya terkejut. Bahkan saking terkejutnya, kedua bola mata Marsha seakan hampir keluar dari tempatnya.
__ADS_1
Sebenarnya Nafa pun juga terkejut. Namun, adegan paling menjijikkan yang pernah dia lihat kembali muncul dalam ingatannya. Membuatnya tersenyum sinis kemudian. Sedetik kemudian dia berjalan mendekat ke arah Marsha, yang semakin gugup menatapnya.
"Apa kabar?" Sapanya dalam suara ramah dan tenang. Tapi percayalah, di dalam hatinya tidak ada kalimat se ramah itu untuk wanita licik seperti Marsha.
"K-kamu sudah kembali?" Tanya Marsha gugup. Namun dalam hati dia mengumpat marah. Sebab kembalinya Nafa akan semakin mempersulit rencana pernikahannya dengan Ravi.
"Kenapa kamu gugup? Ada yang salah?" Tanya Nafa balik dengan senyum mengejek. Menghadapi wanita licik seperti Marsha, dia harus terlihat kuat dan tenang. Dengan begitu tidak akan mudah untuk dikalahkan.
"Enggak, kata siapa?" Marsha menyangkal, dengan tersenyum kaku.
"Ya, sudah aku pergi dulu. Senang bertemu denganmu." Ucap Nafa kemudian berbalik dan pergi.
Sedangkan Marsha langsung menghubungi Marini, ketika mobil Nafa sudah hilang dari pandangannya. Dia mengumpat kesal saat panggilan pertamanya tidak terjawab. Kemudian mencobanya lagi.
"Tante tahu, Nafa sudah kembali?" Tanpa menyapa Marsha langsung memberi tahu.
"Kata siapa?" Tanya Marini dari dalam telepon.
"Iya, Tan. Dia sudah kembali. Aku baru saja bertemu dengannya." Pekiknya kesal. Kepalanya terasa mau pecah. Menyakinkan Ravi untuk menikah dengannya saja sudah sangat sulit. Sekarang justeru Nafa kembali.
"Dimana?" Tanya Marini lagi, masih tak percaya dengan berita yang disampaikan oleh Marsha.
"Di kantornya Ravi." Marsha meraup wajahnya frustasi. "Tante masih ingat sama janji Tante 'kan? Aku nggak mau ya, kalau sampai Ravi berubah pikiran dan kembali pada wanita itu. Kalau sampai itu terjadi, aku akan bocorkan rahasia Tante ke publik." Marsha mengancam.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, Tante pastikan Ravi akan menikah dengan kamu secepatnya." Sebenarnya, Marini khawatir, Marsha akan benar-benar membocorkan rahasia yang telah di sembunyikan selama puluhan tahun. "Sekarang kamu tenang, kita pikirkan cara untuk membuat wanita itu membenci Ravi. Sementara itu, kita buat Ravi menyesal bertemu dengan wanita itu lagi." Ucap Marini pada akhirnya.
"Baik, aku setuju." Marsha mengakhiri sambungan teleponnya kemudian pergi. Niat untuk bertemu dan merayu Ravi urung sebab terlanjur khawatir.