Penyesalan Suami : Pecah Seribu

Penyesalan Suami : Pecah Seribu
Bab 30. Menagih janji imbalan


__ADS_3

Ravi menatap Nafa tajam. Kedua bola matanya merah padam seperti sedang menahan amarah. Namun, dia berusaha bersikap normal dan kembali bertanya,


"Darimana kamu?"


Meski begitu, pertanyaan Ravi sukses membuat Nafa gugup hingga menelan ludah saja terasa sangat mencekat di tenggorokan.


"M-mas, sudah pulang? Kok tumben?"


Ravi tersenyum tipis, sangat tipis bahkan tak terlihat.


"Aku siapin makan, dulu," ucap Nafa sambil berlalu melewati Ravi. Tatapan Ravi membuatnya merasa terintimidasi dan serba salah. Namun, dengan gerakan cepat Ravi menahan tangan Nafa. Dan akhirnya langkah Nafa berhenti seketika.


"Kamu belum jawab pertanyaanku," Ravi memandang Nafa penuh selidik. Tatapi bibirnya menyunggingkan senyum. Hal itu justru membuat Nafa merasa bagai tersudut.


"Aku habis dari belanja," jawab Nafa dengan suara terbata. Diangkatnya kantong belanja yang menggantung di ke-dua tangannya.


"Lalu?" Namun nampaknya Ravi belum puas dengan jawaban Nafa. Tatapannya pun kini berubah lebih tajam dan menyelidik.

__ADS_1


Membuat Nafa harus kembali menelan ludahnya perlahan. Berusaha mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan pada Ravi.


"Aku ketemu Fandi saat keluar dari supermarket. Dia menawariku tumpangan. Aku sudah menolak Mas, tapi Fandi tetap memaksa." Papar Nafa. Berusaha menjelaskan yang sebenarnya. Namun Ravi justeru melemparkan senyuman sinis padanya. Entah Ravi percaya atau tidak. Yang jelas Nafa sudah berusaha untuk mengatakan yang sebenarnya.


Sejurus kemudian, Ravi justeru meraih pinggang Nafa dan menariknya kedalam pelukannya. Lalu berbisik,


"Lain kali jangan seperti ini. Telpon aku kapan pun kamu mau. Aku tidak mau melihat yang seperti tadi apapun alasannya."


"Iya," jawab Nafa dengan anggukan pelan.


Di tempat lain, saat ini Fandi dan Marsha sedang duduk berhadapan. Sebetulnya, saat Fandi tak sengaja bertemu Nafa di parkiran supermarket, dia akan bertemu dengan Marsha di cafe supermarket tersebut.


Setelah mengantar Nafa pulang, Fandi segera kembali ke supermarket untuk bertemu Marsha.


"Kemana saja sih! Lama banget!" Sungut Marsha cepat. Sebab sudah bosan menunggu.


"Maaf, ada urusan." Jawab Fandi singkat sambil menarik kursi untuk dia duduki.

__ADS_1


"Mana janji kamu!" ucapa Marsha menuntut.


"Aku beri kamu waktu dua hari, tapi kamu baru melaksanakannya setelah satu bulan." Tak mau kalah Fandi menuntut tanggung jawab Marsha atas molornya waktu yang diberikan.


"Heh! Kamu pikir ngerjain kaya gini tuh gampang!" Marsha tak terima sebab dia sudah berusaha mengerjakan secepat mungkin. Namun dia justru di buat kesal karena ekspresi wajah Fandi yang seolah meremehkannya.


"Sekarang mana janji kamu! Aku sudah kerjakan seperti yang kamu inginkan. Ya ... meski lewat dari waktu yang kamu berikan. Tapi pada akhirnya aku berhasil 'kan," lagi Marsha mengingatkan atas kerja kerasnya.


"Oke, nggak masalah. Tunggu saja kamu akan segera mendapatkan apa yang kamu inginkan." Ucap Fandi sembari tersenyum tipis. Namun, Marsha tidak begitu saja percaya. Sebab Marsha menangkap gelagat aneh dari Fandi. Laki-laki itu memiliki begitu banyak misteri yang bisa kapan saja mengejutkan Marsha.


Hingga beberapa menit, Marsha masih memperhatikan diamnya Fandi. Kemudian di meraih gelas jus yang samasekali belum di minumnya sejak tadi. Namun pandangannya juga masih memperhatikan Fandi. Sungguh laki-laki itu benar-benar menakutkan. Begitu banyak rahasia yang tersirat dari bola matanya.


Setelah menghabiskan isi gelas minumnya, Marsha langsung berpamitan pergi. Tak lupa dia mengingatkan akan janji Fandi sebagai imbalan apa yang telah dia lakukan.


"Ikuti Marsha, segera beri kabar jika ada yang mencurigakan. Wanita itu licik, dia bisa membahayakan kita." Fandi langsung menghubungi seseorang melalui telepon sesaat setelah Marsha pergi.


__ADS_1


__ADS_2