
Nafa berjalan keluar rumah dengan mulut menguap. Sudah satu Minggu ini, dia tidak tidur dengan baik. Puncaknya, pagi ini dia benar-benar merasa malas berangkat ke kantor. Tetapi karena sebuah tanggung jawab besar mau tak mau dia harus berangkat juga. Meski mata terasa sangat berat dan enggan terbuka.
Namun, sejurus kemudian, matanya terbuka lebar begitu mendapati sebuah mobil Fortuner berwarna hitam terparkir di depan pagar rumah. Sementara pemiliknya bersandar sembari tersenyum kearahnya.
Perlahan namun pasti, bibirnya Nafa pun membalas senyumnya. Senyum penuh kelegaan setelah berhasil membuat hatinya tak karuan karena menunggu kabar.
Ravi berjalan kearah Nafa, memberikan setangkai bunga mawar dan sebuah paper bag. Lalu berkata,
"Aku rindu," Dia menatap lekat manik hitam Nafa. Sepasang manik yang indah yang selalu membuatnya luluh dan enggan berpaling kini yang juga tengah menatapnya.
'Kemana saja? Kenapa tidak memberi kabar. Kamu pikir hanya kamu yang rindu?' Namun, semua kalimat itu tidak benar-benar keluar dari mulut Nafa. Hanya bisa dia terucap dalam hati. Sebab dia terlalu malu untuk mengakui perasaannya.
"Terimakasih, harusnya nggak perlu bawa apa-apa." Nafa. Menerima hadiah dari Ravi. Lalu menempelkan bunga mawar di hidung. Menghirup dalam-dalam aroma wangi bunga itu.
"Kita berangkat?" Tanya Ravi dengan mengabaikan pertanyaan Nafa. Nafa pun mengangguk dan berjalan menuju mobil bersama Ravi.
Cup!
Sebuah kecupan mendarat di pipi Nafa dengan lembut. Kecupan rindu yang terasa melenakan. Meski singkat namun, terasa sangat melegakan.
"I love you," bisik Ravi dengan kedua mata menatap Nafa lembut.
Nafa tak menjawab, dia terdiam mematung merasakan kecupan singkat tiba-tiba beberapa detik lalu. Menyadarkan diri bahwa ini bukan mimpi.
Kemudian Ravi tersenyum, dan memasangkan sabuk pengaman di tubuh Nafa. Lalu dia berjalan ke arah kemudi dan langsung mengemudikan mobil menuju kantor Nafa.
Seperti biasa, suasana dalam mobil selama perjalanan sangat hening. Baik Ravi maupun Nafa, keduanya diam sibuk dengan pikiran masing-masing.
Pandangan Ravi menatap lurus ke depan, sementara Nafa juga menatap kedepan. Namun sesekali dia mencuri pandang untuk melirik Ravi.
Untuk kesekian kali setelah lima tahun, Nafa kembali mengagumi ketampanan laki-laki itu. Keseluruhan wajahnya masih tetap tampan meski umurnya bertambah. Rahang hingga dagunya di tumbuhi bulu-bulu halus. Meski begitu, sama sekali tidak mengurangi ketampanannya. Bibir Nafa tersenyum menyadari betapa sempurnanya mahluk ciptaan tuhan yang ada di hadapannya saat ini.
__ADS_1
"Hei, kenapa bengong?" Selorohan Ravi membuat kekaguman Nafa padanya terputus seketika. Nafa memalingkan wajah kesamping menyembunyikan rasa malai karena ketahuan mengagumi ketampanan Ravi.
"Ngelamunin apa sih, sampai begitu banget ngelihatnya?" Ravi mengerling kearah Nafa sembari tersenyum. Lalu kembali meluruskan pandangannya menatap jalanan. "Nggak lagi mikirin macem-macem 'kan?"
Pertanyaan Ravi membuatnya Nafa menoleh seketika. Dahinya berkerut demi mencerna kalimat terakhir Ravi.
"Macem-macem yang bagaimana?" Nafa menatap Ravi dengan dahi berkerut bingung. Namun laki-laki itu justru membalas tatapannya dengan senyum jahil.
"Jangan sampai aku putar balik untuk cari hotel."
Seketika Nafa mencubit lengan Ravi yang memegang kemudi. Namun bukannya mengaduh kesakitan, Ravi justeru tertawa. Perlahan Nafa pun ikut larut lama tawa bersama Ravi.
"Sayang, apa kamu tidak merindukan aku?"
Raut wajah Nafa berubah seketika. Tawanya pun berhenti, berganti tatapan penuh tanda tanya. Benarkah dia rindu?
"Sayang, kok bengong lagi? Ayo jawab," Lagi Ravi mengulang pertanyaannya. Kini kepalanya menoleh sebentar untuk melihat Nafa yang masih terdiam dalam keterkejutannya.
"Tak apa kalau tak mau mengaku. Tapi ketahuilah aku bisa merasakannya." Ravi meraih salah satu tangan Nafa. Lalu menciumnya lembut. "Aku mencintaimu dan kamu juga mencintaiku." Lanjutnya yakin. Ditatapnya wajah istrinya itu dengan penuh cinta. Lalu tangannya terulur mengusap pipi Nafa lembut.
"Eemm, aku harus segera masuk. Ada rapat penting." Pertanyaan Nafa menghentikan uluran tangan Ravi dari wajahnya. Lalu menenteng tasnya dan langsung keluar.
"Nanti aku jemput, tunggu sampai aku datang." Pesan Ravi saat Nafa sudah menutup pintu mobil. Dia pun mengangguk dan langsung pergi.
***
Tepat pukul empat sore Ravi sudah menunggu Nafa di depan kantornya. Mesin mobil tidak dimatikan sebab Nafa sudah berjalan kearahnya ketika dia baru saja sampai.
Tanpa berkata apa-apa, Nafa membuka pintu mobil dan langsung duduk di kursi penumpang.
"Capek?" Ucap Ravi sembari tersenyum kearahnya. Rasa kasihan, membelenggu saat melihat wajah lelah sang istri. Karena dialah Nafa harus bekerja memeras otak. Seandainya dia percaya pada Nafa, tentu saja semua ini tidak akan terjadi. Seandainya semua itu tidak pernah terjadi, pasti saat ini Nafa sedang menunggunya bersama anak-anaknya di rumah.
__ADS_1
"Sudah biasa. Bekerja seperti ini tidak butuh tenaga, Hanya sedikit menguras otak saja." Jawab Nafa. Dia balas tersenyum.
"Baiklah, sekarang kita pergi." Ravi melajukan mobil menuju sebuah restoran favoritnya bersama Nafa. Sejak lima tahun lalu, hari ini adalah hari pertama datang ke sini, sejak Nafa pulang.
"Masih sama, tidak banyak yang berubah." Gumam Nafa menatap sekeliling restoran.
"Kamu benar, memang tidak banyak yang berubah. Semoga rasa masakannya tidak banyak yang berubah." Sambung Ravi ikut menatap sekeliling restoran itu. Lalu kedua turun dari mobil.
"Tetap ramai di jam seperti ini." Lagi, Nafa bergumam. Matanya menatap ke dalam restoran. Hampir semua meja penuh dan pengunjung yang ingin menikmati makanan setelah lelah bekerja seharian.
"Yuk masuk, jangan sampai kita kehabisan tempat." Ravi merangkul bahu Nafa dan berjalan masuk kedalam restoran.
Nafa memandang tangan Ravi yang bertumpu di atas pundaknya. Ada perasaan aneh dan juga senang saat Ravi melakukannya. Namun, dia sengaja membiarkannya, sebagai bentuk usahanya menumbuhkan kembali perasaannya pada Ravi.
Benar saja mereka harus jeli melihat tempat kosong untuk mereka duduk . Ramai, benar-benar ramai. Tidak hanya Nafa dan Ravi, ada beberapa pasangan yang juga tengah mencari tempat seperti dirinya.
"Tunggu sebentar ya, sayang. Sepertinya mereka sudah mau selesai." Ravi berbisik di telinga Nafa. Hembusan nafas Ravi menyentuh kulit telinganya. Membuatnya langsung mengangguk patuh bagai terhipnotis oleh suara lembut Ravi yang menyapa telinganya.
Akhirnya kesabaran mereka membuahkan hasil. Tak lama menunggu ada sebuah meja kosong. Tak mau berebut dengan pengunjung lain, Ravi langsung berjalan ke sana dengan Nafa yang masih berada dalam rengkuhannya.
"Kamu tidak mu bertanya kemana aku pergi?" Ravi memandang Nafa. Alisnya bertaut tak sabar menunggu jawaban Nafa.
"Apa pentingnya untukku?" Jawaban Nafa sangat berbanding terbalik dengan jawaban hati yang sesungguhnya.
"Benar tidak mau tahu aku kemana?" lagi Ravi mengulang pertanyaannya. Kali ini pandangannya berubah serius.
"Memang kamu kemana?"
Sejurus kemudian Ravi tersenyum dan meraih tangan untuk di kecup.
__ADS_1