
Hati yang hancur perlahan sudah membaik. Kembali dan mencoba hidup bersama akhirnya menjadi keputusan akhir. Namun, sebelum semua itu benar-benar terwujud, hatinya kembali goyah. Bukan karena cinta atau keyakinannya, tetapi pada bayangan yang akan terus bersama jika dia kembali pada Ravi.
Ibu Ravi dan Marsha, adalah gangguan terbesar dalam hubungannya dengan Ravi. Mereka terus menempel seperti benalu yang kapan saja bisa menjerat Ravi maupun Nafa.
Sementara menyingkirkan mereka dalam hidup Ravi sangat tidak mungkin. Nafa bisa saja menyingkirkan Marsha, tetapi dengan ibunya sangat tidak mungkin.
Bukan Nafa tak mampu, hanya saja sebagai satu-satunya anak laki-laki Ravi adalah kesayangan dan kebanggaan bagi orang tua terutama ibunya.
Tok tok.
"Fa, kamu mikirin apa?" Fandi mengetukkan jari di meja Nafa. Ditatapnya wanita yang sedang melamun itu dengan dahi berkerut. Sudah hampir sepuluh menit dia berdiri di depan Nafa. Namun, Nafa tak menyadarinya keberadaannya.
"Fa, kamu sakit?" Lagi, Fandi memanggil Nafa. Namun, Nafa sama sekali tidak merespon. Justru semakin tenggelam dalam dunianya.
"Nafa!" Kali ini Fandi mengeraskan suaranya. Hingga membuat Nafa terjingkat lalu menatapnya bingung.
"Ada apa?" Tanya Nafa kemudian.
"Kamu sakit? Dari tadi aku panggil, kamu nggak jawab."
Nafa menggeleng, sembari tersenyum kaku.
"Aku nggak pa-pa kok. Ada apa?" Pertanyaan Fandi di balas dengan pertanyaan. Nafa tak ingin kembali melibatkan Fandi dalam masalahnya. Sudah cukup Nafa merepotkan Fandi selama ini.
__ADS_1
"Tolong, proyek ini kamu pegang." Fandi meletakkan sebuah map di depan meja kerja Nafa.
Nafa memandang sebentar kearah Fandi, lalu membuka map tersebut dan membaca isinya.
"Ini proyek besar. Kenapa kamu percayakan padaku?" Nafa sedikit ragu untuk menghandle proyek besar yang akan di kerjakan. Dia takut jika proyek itu gagal. Perusahaan pasti akan merugi besar.
"Hanya kamu orang yang bisa aku percaya." Ucap Fandi sembari mendudukkan dirinya dihadapan Nafa. "Kenapa? Tidak biasanya kamu seperti ini?" Fandi menatap Nafa serius. Wanita yang dikenal penuh ambisi dan dendam saat ini terlihat rapuh.
Nafa membuang nafas lalu menyandarkan punggungnya ke belakang.
"Aku akan kembali pada Ravi," ucapannya lemah. Sementara Fandi langsung menatap Nafa dengan tatapan tak biasa.
"Kenapa? Kamu sudah berubah pikiran? Rencana yang kamu susun selama lima tahun akan kamu lupakan begitu saja?" Fandi mengingatkan Nafa akan sumpah dan janji yang pernah dia ucapkan saat malam kejadian kelam itu.
"Lalu, kenapa tidak kembali?" Fandi menegaskan.
"Masalah terbesar ada pada Marini dan Marsha. Aku melupakan cara untuk mengalahkan mereka." Nafa menggeleng lemah. Sungguh, Nafa sama sekali tidak terpikirkan hal itu.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan pada mereka?"
"Aku belum tahu, mereka sangat licik. Mereka bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan yang mereka inginkan." Papar Nafa teringat akan kelicikan Marsha dan ibu mertuanya.
"Mungkin semua bukan urusanku, tapi aku tidak bisa menutup mata dari sesuatu yang aku ketahui." Fandi menghela napas panjang lalu menyanyi punggung ke sandaran kursi. Sementara Nafa, memandang Fandi dengan alis bertaut penuh tanya. Sepertinya saat ini Fandi menyembunyikan sesuatu dari dalam.
__ADS_1
"Apa yang kamu ketahui?" Tanya Nafa pada akhirnya.
Membuat Fandi kembali menghela napas panjang. Kemudian menegakkan posisi duduknya tepat menatap Nafa. Sedetik kemudian dia tersenyum sinis dengan tangan merogoh kantong kemejanya.
"Percaya atau tidak, keputusan ada di tangan kamu. Semoga bukti ini bisa membantu kamu menentukan pilihan yang terbaik. Aku permisi," Fandi bangkit kemudian pergi.
Nafa masih terdiam menatap punggung Fandi yang mulai menghilang di balik pintu ruangannya. Perlahan namun pasti tangannya meraih lembaran yang di taruh Fandi di atas mejanya. Tangannya pun berputar untuk melihat gambarnya.
Sedetik kemudian, mata Nafa membelalak sempurna. Tangannya sibuk menggeser lembaran foto hingga semua gambar dilihat olehnya.
Air matanya jatuh, sementara sebelum tangannya di gunakan untuk menutup mulut agar suara isakannya tak keluar.
"Kenapa? Kenapa kamu tega melakukan ini padaku ... aku baru saja akan menerimamu kembali. Tapi kamu justeru menghancurkan cinta dan kepercayaanku lagi." Nafa meraung sembari menatap gambar mesra Ravi dan Marsha di sebuah kamar hotel.
Kini, hati Nafa telah benar-benar hancur. Sudah payah dia menata hati untuk menerima dan kembali membina hubungan bersama Ravi, tapi nyatanya Ravi telah dulu menghancurkannya.
"Kamu tega ... kamu keterlaluan." Nafa merobek-robek lembaran foto itu hingga hancur tak berbentuk. Lalu melemparnya ke udara hingga potongannya berserakan kemana-mana.
"Kamu mempermainkan hatiku. Aku juga akan mempermainkan hatimu. Lihatlah siapa yang paling hancur di antara kita berdua.
Seharian itu, Nafa tidak bisa berpikir jernih. Isi kepalanya di penuhi dengan rencana menghancurkan Ravi. Rencana yang sudah hampir dia lupakan, kini kembali di susun. Dengan tujuan sama, menghancurkan Ravi dan seluruh keluarganya hingga hancur se hancur-hancurnya.
__ADS_1