
Gurat amarah dan kecewa nampak jelas di wajah Fandi. kedua tangannya mengepal erat dia atas meja, sementara pandangannya kosong namun tajam penuh amarah.
Segera menghancurkan keluarga Mahardika, itulah satu-satunya yang ada dalam isi kepalanya saat ini.
Jika cara baik-baik tidak dapat menghancurkan keluarga Mahardika, maka cara buruk terpaksa dilakukan untuk mencapai tujuannya.
Setelah menimbang dan memikirkan, Fandi menghubungi anak buahnya untuk segera melaksanakan rencana yang sudah dia susun dan sempat terhenti karena kehadiran Nafa.
"Bawa Marsha kehadapan ku sekarang juga!" Begitulah perintah Fandi pada seorang anak buahnya melalui telepon.
Benar saja, tak lama kemudian Marsha diapit oleh dua anak buah Fandi masuk kedalam ruangannya. Lalu meninggalkan Marsha berdua bersama Fandi di dalam ruangan itu.
Marsha berdecak kesal, lalu melirik kearah Fandi sekilas. Jika sudah seperti ini, pasti Fandi akan menyuruhnya melakukan sesuatu hal yang gila. Sebenarnya dia sangat enggan menuruti keinginan Fandi. Bahkan Marsha pernah berusaha lari dari Fandi. Tapi usahanya selalu gagal. Di manapun dia bersembunyi, Fandi pasti menemukannya.
"Apa kabar?" Sapa Fandi dengan senyum mengejek.
"Buruk!" Marsha duduk di berhadapan dengan Fandi. Kemudian melipat kedua tangannya di dada lalu membuang muka.
__ADS_1
"Lama bertemu, kamu banyak berubah," Fandi masih tersenyum sinis pada Marsha.
"Katakan! Apa yang kamu inginkan!" Malas melayani basa-basi Fandi, Marsha langsung bertanya tujuan Fandi membawanya.
"Yup! Itulah yang paling aku suka dari seorang Marsha. Langsung pada maksud dan tujuannya." Fandi menjentikkan jarinya. Lalu menegakkan posisi duduk menghadap serius kearah Marsha.
"Katakan, aku sangat sibuk hari ini!" Ucap Marsha masih bertahan dalam posisi buang muka.
"Buat Marini terlibat dalam kasus ini," Fandi, menyodokkan beberapa lembar foto yang di tumpuk. "Aku mau kabar baiknya dua tiga hari dari sekarang." Tekan Fandi, memerintahkan.
"Kamu gila? Mana bisa kasus sebesar ini bisa di lakukan hanya dalam waktu tiga hari?" Marsha membelalak tak percaya.
"Aku pikir kamu wanita cerdik. Kasus sekecil itu pasti sangat mudah kamu lakukan. Tapi ternyata salah, kamu tak berbeda jauh dengan SAMPAH!" Fandi menekankan kata terakhirnya. Bermaksud mengingat Marsha tentang dirinya, yang pernah memohon-mohon belas kasihan padanya.
Marsha tak bisa berkutik. Dia terdiam sambil menelan ludah perlahan. "Apa jaminan yang aku dapat kalau berhasil melakukannya?" Tanya Marsha pada akhirnya. Dia menyerah lagi kali ini.
"Apapun yang kamu inginkan." Jawab Fandi dengan senyum penuh kemenangan.
__ADS_1
"Aku ingin Ravi Mahardika menjadi milikku. Sebelum rencana ini berjalan, aku ingin memastikan kamu benar-benar menepati janji."
Namun, Fandi justru tertawa terbahak mendengar permintaan Marsha. Bahkan dia sampai memutar kursi kebesarannya, sebab merasa sangat lucu.
"Hanya itu?" Tanya Ravi memastikan. Bahkan dahinya sedikit mengernyit. Heran dengan imbalan yang di minta oleh Marsha. "Hanya untuk seorang pecundang seperti Ravi Mahardika?" Lalu kembali tertawa. Kali ini dengan menggelengkan kepalanya.
Marsha hanya mengatupkan kedua bibirnya sambil melirik malas pada Fandi yang masih menertawai dirinya.
"Oke, oke. Aku pastikan Ravi akan menjadi milikmu. Satu-satunya milikmu." Ravi mengiyakan permintaan Marsha. Namun, dia benar-benar tidak bisa menahan tawanya. Sesekali tawa masih keluar dari bibirnya.
"Kapan aku bisa memiliki Ravi," Marsha masih berusaha untuk memastikan. Tak mau jika pada akhirnya dia hanya digunakan untuk kepentingan Fandi. " Kamu ingin aku segera melaksanakan, dan aku juga ingin segera mendapatkan imbalan dari pekerjaanku." Tekan Marsha sebelum dia benar-benar diperalat oleh Fandi.
"Segera setelah kamu berhasil melaksanakan tugasmu!"
Tanpa berkata apa-apa lagi, Marsha segera pergi dari ruangan itu setelah mendengarkan ucapan Fandi.
__ADS_1