Penyesalan Suami : Pecah Seribu

Penyesalan Suami : Pecah Seribu
Bab 6. Membaik atau tetap sama


__ADS_3

Nafa membaringkan tubuhnya di atas kasur rumah kontrakan Ika. Ada dua kamar di sana. Satu kamar Ika dan satu lagi kosong dan di tempati Nafa sekarang. Sementara barang-barangnya dibiarkan tergeletak di lantai. Matanya terasa sangat berat dan ingin di istirahatkan sebentar.


"Aku tidak pernah berencana mencintaimu. Tapi aku bahagia telah melakukannya." Ravi menatap Nafa sembari tersenyum. Kemudian membelai pipi Nafa lembut lalu mengecup bibirnya singkat.


"Selama hidup, aku tidak pernah bermimpi punya harta berharga. Tapi kamu datang dan menjadi harta yang paling berharga dalam hidupku." Nafa balas menatap Ravi sambil tersenyum. Impian semua wanita adalah memiliki pasangan hidup yang mengerti dan menyayangi.


"Seandainya aku tidak tampan dan gagah lagi, apa kamu tetap akan bersamaku?"


Namun pertanyaannya justeru membuat Nafa tertawa lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Ravi.


"Meski kamu tidak tampan, bahkan miskin sekalipun, aku akan tetap mencintaimu. Sekarang atau nanti, cintaku tetap sama besarnya. Bahkan lebih besar."


Mereka pun terlalu dalam bualan kalimat indah yang entah mereka sendiri tak paham.


Suara dering ponsel mengagetkan Nafa. Membuatnya seketika bangun sambil meraup wajahnya pelan. Huft! Ternyata cuma mimpi.


Dering ponsel itu masih belum berhenti. Nafa pun meraih ponsel yang diletakkan di atas nakas. Di lihatnya nama Ravi yang bergerak naik turun dilayar ponselnya.


"Ada apa?" Tanyanya malas. Sungguh saat ini jantungnya masih berdebar hebat akibat mimpinya. Apalagi saat ini dia justru mendengar suara orang itu.


"Kemana saja? Dari tadi aku telpon nggak di angkat?" Ravi bertanya balik. Suaranya agak meninggi karena mengkhawatirkan Nafa.


"Aku ketiduran, nggak dengar suara telepon." Nafa bangkit dari pembaringan kemudian melirik pada jam yang menempel di dinding kamar. Sudah jam dua siang, artinya dia tertidur selama 4 jam. Pantas saja,


perutnya terasa sangat perih.


"Cepat buka pintu, aku tunggu di depan." Ucap Ravi dan langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban Nafa.


Nafa menghela napas pasrah sambil berjalan kearah pintu lalu membukanya. "Ada apa?"


"Belum makan 'kan? Kita makan bareng." Ravi mengangkat kantong kresek di tangannya yang berisi dua kotak foam. Kemudian melangkah masuk kedalam rumah. Melewati Nafa yang masih menatapnya kesal.


"Ini rumah orang, jangan masuk sembarangan. Kita bisa digrebek warga." Ucap Nafa memperingatkan. Sedang dia masih berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Memang kenapa? Digerebek pun sama suami sendiri."


Yeah, Nafa melupakan statusnya masih sebagai istri Ravi. Dengan cara apapun dia mengusir nya, pada akhirnya justru dialah yang terjebak dalam kebohongannya sendiri.


"Kenapa masih diam di situ? Ayo masuk!" Pinta Ravi sambil menatap Nafa heran.


Tidak adalagi yang bisa dilakukan Nafa. Meski enggan akhirnya dia melangkah masuk dan duduk di sebelah Ravi. Tidak ada tempat selain di sebelah Ravi. Karena ruangan itu hanya dilengkapi dengan satu sofa panjang dan meja sebagai pelengkap.


Ravi mengulurkan kotak makanan yang sudah dibukakan pada Nafa sembari tersenyum. Tanpa membalas senyum Ravi, Nafa menerima dan langsung melahapnya.


"Berangkat jam berapa besok?" Tanya Ravi ditengah keheningan makannya.


"Jam tujuh. Jangan bilang kamu mau jemput!" Jawab Nafa menatap Ravi curiga. Ravi tak menjawab dia hanya tersenyum dan terus makan hingga makanan dalam foam itu habis.


"Sudah selesai 'kan? Kamu bisa pulang sekarang." Ucap Nafa, berusaha mengusir Ravi agar segera keluar dari rumahnya. Namun, Ravi tak bergeming. Justru menyandarkan punggung kebelakang dengan kepala menengadah ke atas.


"Sayang, aku mau kopi."


Membuat Nafa seketika melayangkan tatapan tajam kearah.


"Aku hanya minta kopi, kenapa kamu marah-marah?" Ravi menghela napas kemudian menegakkan posisi duduknya lalu merogoh kantong kemeja untuk mengambil ponsel.


"Tidak ada! Kalau mau kopi, Kamu bisa beli di warung!"


"Apapun akan aku beli, termasuk tidur dengan mu." Sahut Ravi dengan senyum sinis.


"Kamu ...,"


Belum sempat Nafa menyelesaikan kalimatnya, Ravi menarik lalu mencium bibirnya. Bersamaan dengan itu, Ika masuk ke dalam rumah sambil mengucapkan salam. Namun, dia langsung membalikkan badan saat melihat Ravi mencium Nafa.


"Lanjutkan, aku belum lihat kok," seloroh Ika sambil menahan senyum.


Ravi melepas ciumannya, kemudian berdiri dan langsung pergi tanpa berkata apa-apa.

__ADS_1


***


"Sekarang bagaimana?" Ika menatap Nafa penuh tanya. Dia sangat ingin tahu, perkembangan hubungan Sahabatnya itu.


Nafa menghela napas panjang kemudian menggeleng lemah. Dia masih belum tahu bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Ravi. Sungguh dia benar-benar ingin lepas dari Ravi, tapi laki-laki itu enggan melepasnya. Dia biasa saja mengurus perpisahannya sendiri. Tapi Ravi pasti akan lebih mempersulitnya.


"Tetap pergi atau kembali?" Tanya Ika lagi. Namun jawaban Nafa tetap sama. Hanya menghela napas panjang.


"Maaf, yang tadi aku lihat ... apa sudah membaik?" Ucap Ika hati-hati. Adegan mesra Nafa dan Ravi yang sempat dilihatnya tadi, mungkinkah mengartikan hubungan mereka sudah lebih baik?


"Aku bingung, Ik. Aku sangat membencinya, tapi aku juga kasihan padanya. Saat aku ingin marah padanya, hati ini bergetar. Seolah memintaku untuk melihatnya dari sudut yang berbeda." Nafa gelisah dengan perasaannya sendiri. Logikanya ingin meninggalkan. Tapi hatinya justru menahan dan memintanya untuk tetap tinggal.


"It's oke. Aku bisa mengerti. Apapun yang kamu lakukan, aku akan tetap mendukung." Ika menepuk pundak Nafa. Memberi kekuatan pada Sahabatnya itu.


***


Tepat pukul setengah tujuh pagi, Ravi sudah berdiri bersandar pada badan mobil menunggu Nafa di depan pagar rumah sewa.


Namun, Nafa justeru menghela napas panjang saat mengintipnya dari balik jendela rumah. Laki-laki itu benar-benar keras kepala. Bahkan otaknya terasa buntu memikirkan cara agar bisa menghindarinya.


"Pergilah, kasihan dia sudah menunggu." Seloroh Ika yang ikut mengintip dibelakang Nafa.


Terpaksa Nafa melangkah keluar dan menghampiri Ravi yang masih bersandar pada badan mobil sambil memainkan ponsel.


"Hei, sudah siap?" Sapa Ravi sembari tersenyum begitu menyadari kehadiran Nafa. Tanpa menunggu dia berjalan ke samping kiri membukakan pintu agar Nafa masuk ke dalam mobil.


Mobil sudah melaju hampir setengah perjalanan. Tapi keduanya masih bertahan dalam kebisuan. Hanya terdengar beberapa kali helaan napas dari mulut Ravi.


"Aku rasa kamu nggak perlu jemput aku kaya gini." Ucap Nafa pada akhirnya.


"Tapi, aku rasa perlu," sahut Ravi singkat. Pandangannya tetap menatap lurus ke depan.


"Aku sudah terbiasa sendiri, lima tahun aku menjalani kehidupanku sendiri. Jadi jangan buat aku bergantung padamu." ujar Nafa dengan nada kesal.

__ADS_1


"Apapun akan aku lakukan, untuk bisa kembali bersamamu. Membuatmu bergantung padaku, akan aku lakukan jika itu bisa membuatmu kembali padaku."


__ADS_2