Penyesalan Suami : Pecah Seribu

Penyesalan Suami : Pecah Seribu
Bab 14. Masih cemburu


__ADS_3

"Maaf ya, karena Ravi, meeting i kita jadi terganggu." Nafa menundukkan kepala meminta maaf karena acara meeting proyek yang pernah di kerjakan di luar negeri dulu terganggu karena salah paham Ravi.


"Nggak masalah, aku bisa mengerti. Tapi kamu nggak pa-pa 'kan?" Fandi menatap Nafa khawatir. Nafa menggeleng sembari tersenyum.


"Katakan padaku, jika laki-laki itu menyakiti mu." Fandi menatap Nafa serius. Dia tak akan biarkan Nafa terluka untuk yang kedua kali. Apalagi dengan laki-laki yang sama.


"Kamu tidak perlu khawatir. Dia tidak akan berani melakukannya."


"Apa kamu akan kembali pada Ravi?" Pertanyaan Fandi hanya dijawab Nafa dengan senyuman. Tapi cukup membuat Fandi mengerti bahwa Nafa sudah mulai luluh dengan Ravi.


Tak ingin Ravi membahas masalah itu lagi, Nafa mengalihkan perhatian Fandi untuk kembali fokus pada meeting yang sempat tertunda tadi.


Sementara itu, Ravi dibuat uring-uringan karena tak bisa menghubungi Nafa. Bahkan dia mengomel sambil berjalan mondar-mandir. Entahlah, sekarang ini dia merasa sangat marah dan juga khawatir karena Nafa tak menghubunginya. Begitu pula sebaliknya.


Lalu Ravi memutuskan pergi kerumah sewa Nafa untuk memastikan istrinya itu baik-baik saja. Namun hingga beberapa saat menunggu Nafa juga keluar. Padahal dia sudah beberapa kali membunyikan klakson. Berharap Nafa keluar dan menemuinya. Dengan begitu, dia bisa lebih tenang.


Lagi, Ravi mencoba menghubungi Nafa, tapi hasilnya tetap sama. Nomor Nafa tidak bisa dihubungi. Kesal dengan semua itu, Ravi kembali membunyikan klakson mobil. Namun, bukan Nafa yang keluar. Justru Ika yang keluar dari dalam rumah dengan wajah kesal.


"Kamu ini apa-apaan sih! ganggu orang tidur aja. Mau, di keroyok sama warga komplek?" Ancam Ika dengan mata melotot marah. Dia sangat kesal karena waktu istirahat nya terganggu. Apalagi saat melihat jam dinding, masih menunjukkan pukul sebelas malam. Yang artinya dia baru terlelap tiga puluh menit yang lalu.

__ADS_1


"Nafa mana?" Tak peduli dengan keluhan Ika, Ravi menjawabnya dengan bertanya balik.


"Nggak tahu, dia belum pulang!" Kata Ika kesal.


"Belum pulang bagaimana? Biasanya kan juga sudah pulang?" Ravi membelalak tak percaya. Seketika hatinya menjadi khawatir dengan Nafa.


"Mana aku tahu ...," Ika mengedikkan bahunya. Sebenarnya dia juga merasa khawatir. Tidak biasanya Nafa pulang larut. "Kamu apakan dia?" Tuduh Nafa menatap tajam Ravi. Tidak mungkin Nafa belum pulang sampai selarut ini, jika tidak terjadi apa-apa.


"Apa? Memang aku ngelakuin apa?" Ravi merasa risih dengan tatapan Ika yang menuduhnya melakukan sesuatu pada Nafa.


"Nggak mungkin nggak ada apa-apa! Awas aja sampai terjadi sesuatu sama Nafa. Gue pastiin Lo, benar-benar menyesal seumur hidup!" Ucap Ika dengan penuh penekanan.


Tapi semua itu salah, benar Nafa yang duduk di sana dengan laki-laki sama yang dilihatnya pagi dan siang tadi.


"Makasih ya, sudah repot-repot nganterin aku." Ucap Nafa sembari tersenyum pada Fandi.


Fandi mengangguk dan balas tersenyum pada Nafa. "Nggak repot kok. Cepat masuk, jangan sampai kamu terlambat besok." Ucap Fandi mengingat. Karena besok masih ada jadwal diskusi lanjutan dengan staf yang berada di luar negeri.


"Iya, kamu juga cepat istirahat." Ucap Nafa balas Fandi. Fandi pun mengangguk kemudian masuk kembali ke dalam mobilnya. "Hati-hati ya, sampai jumpa besok." Nafa melambaikan tangan hingga mobil Fandi menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


Sedangkan Ravi hanya diam menyaksikan seluruh adegan perpisahan antara Nafa dan Fandi. Lalu beralih menatap tajam pada Nafa saa mobil Fandi sudah benar-benar pergi.


"Apa?" tanya Nafa tak suka mendapatkan tatapan mengintimidasi dari Ravi.


"Bagus ya, aku di sini nungguin kamu dan mengkhawatirkan keadaan kamu. Tapi kamu malah seneng-seneng sama laki-laki itu!"


"Maksud kamu apa sih! Siapa yang seneng-seneng." Nafa meninggikan suaranya. Menghadapi laki-laki yang sedang dilanda cemburu buta seperti Ravi butuh tenaga lebih.


"Masih nggak mau ngaku!"


Tapi Ravi justeru semakin membuatnya kesal karena salah pahamnya.


"Sudah deh, Vi! Aku capek, nggak mau debat." Tukas Nafa sambil mengibaskan tangannya kesal. Kemudian melangkah pergi. Namun tangannya di tangan oleh Ravi. Dan akhirnya mau tak mau dia harus berhenti untuk meladeni salah paham Ravi.


"Aku sama Fandi tu nggak ada apa-apa! Aku pulang jam segini juga gara-gara kamu! Kalau kamu nggak bawa aku siang tadi, sudah pasti meeting akan selesai sebelum magrib!" Ujar Nafa menatap kesal pada Ravi.


"Ada telepon 'kan? Kamu bisa kasih kabar, biar aku jemput kamu."


"Baterai ponselku drop." Jawab Nafa sikat. Kedua tangannya terlipat ke depan dada.

__ADS_1


"Kalau kamu tetap seperti ini, aku akan paksa kamu tinggal di rumah kita. Kali tidak ada penolakan!" Ucap Ravi penuh penekanan.


__ADS_2