
Hari ini adalah pertama kalinya Nafa dan Ravi berkunjung ke rumah besar Mahardika, setelah seminggu Nafa kembali pada suaminya.
Mendengar kabar bahagia itu, Iwan Mahardika, ayah Ravi menelpon meminta Ravi dan Nafa datang ke kediamannya. Beliau mengatakan, rindu pada putranya. Tak berlama-lama, saat itu juga Ravi mengajak Nafa pergi kerumah orang tuanya. Apalagi keadaan Iwan saat itu sedang tidak sehat. Ravi sangat mengkhawatirkan keadaan ayahnya. Terlebih Ravi dan ayahnya sangat dekat.
Mobil yang dikendarai Ravi berhenti di sebuah bangunan megah bergaya klasik di sebuah kawasan perumahan elit. Kedatangannya di sambut oleh seorang penjaga yang selalu setia menjaga keamanan rumah mewah itu.
"Tumben, lama nggak kesini, Mas?" Sapa pak penjaga setelah membukakan pintu gerbang untuk mobil Ravi masuk. "Eh, ada mba Nafa. Apa kabar, Mba? Lama tak jumpa. Makin cantik aja." Pak penjaga itu beralih memandang Nafa dengan senyum terkejut. Dia bukannya tak tahu masalah yang terjadi pada kedua majikannya itu. Tapi kali ini dia bisa tersenyum lega. Akhirnya kedua majikannya itu dipersatukan kembali.
"Baik. Bapak sendiri bagaimana?" Nafa balik bertanya dengan senyum ramah.
"Baik juga mbak. Pantas saja jarang ke sini, ternyata mba Nafa sudah pulang to," pak penjaga mengangguk-anggukan kepalanya sambil menahan senyum.
"Bapak bisa saja. Papah ada?" Sahut Ravi dan langsung bertanya. Tak mau meladeni ledekan pak penjaga lebih lama lagi.
"Ada, ada. Monggo silahkan masuk." Pak penjaga mudur beberapa langkah untuk mempersilahkan mobil Ravi masuk.
Sementara itu, papa Iwan ternyata sudah menunggu kedatangan Ravi sejak tadi. Bibirnya langsung tersenyum, begitu melihat Nafa keluar dari dalam mobil.
Senyum kelegaan jelas tergambar dari raut wajah laki-laki paruh baya itu. Melihat putranya yang selama lima tahun terakhir ini selalu terlihat patah dan hilang semangat.
"Akhirnya datang juga," Beliau langsung berdiri dan menepuk pundak Ravi saat sudah berada di hadapannya.
"Papah, apa kabar?" Nafa meraih tangan ayah mertuanya lalu mencium punggung tangannya.
"Baik. Kamu sendiri bagaimana?" Papa Iwan bertanya balik sembari melempar senyum pada Nafa.
"Baik juga, pah." Jawab Nafa, dengan balas tersenyum.
__ADS_1
Setelah puas bertanya kabar, mereka masuk kedalam rumah. Marini yang saat itu sedang duduk menonton TV terkejut melihat kedatangan Nafa di sana. Bahkan kedua bola matanya membelalak sempurna, seakan-akan keluar dari tempatnya.
"Mamah kenapa? Ngeliat Nafa kaya ngeliat hantu begitu." Seloroh papa, ketika tatapan mata istrinya tak terlepas dari Nafa.
"Ngapain kamu kesini!" Namun, Marini justeru bertanya ketus.
"Mama nanya sama siapa?" Ravi menautkan cepat. Di tahu pertanyaan ibunya itu ditujukan pada Nafa. Tapi dia tak mau papahnya tahu bahwa hubungan antara ibu dan istrinya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Mamah ini bagaimana? Anaknya datang malah ditanya ngapain kesini," Papa menggelengkan kepalanya heran. Lalu berjalan kearah istrinya dan duduk di sampingnya.
Begitu juga dengan Ravi dan Nafa, mereka juga duduk di sofa yang bersebelahan dengan kedua orangtuanya.
Hingga beberapa saat Marini masih menatap Nafa. Membuat Iwa menghela nafas panjang lagi mengusap pundak istrinya.
"Sekarang mending mama siapin makan siang buat kita. Kita bikin acara menyambut kedatangan Nafa." Pinta Iwan yang langsung mendapat tatapan tajam dari istrinya.
"Sayang, sebaiknya kamu saja yang siapkan makan siang." Tak mau terjadi perdebatan lebih panjang. Ravi meminta istrinya untuk melaksanakan apa yang papa katakan pada ibunya.
"Iya, mas. Aku ke dapur dulu." Nafa mengangguk, lalu berjalan menuju dapur. Sementara Marini menatap sinis punggung Nafa yang semakin jauh masuk ke dalam dapur rumahnya.
***
"Jangan mentang-mentang suami saya berpihak pada kamu, kamu bisa seenaknya di rumah ini." Ucapa Marini ketus. Dia berjalan semakin mendekat pada Nafa yang saat itu berdiri menghadap kompor. Mengaduk-aduk bahan masakan yang sudah dia masukkan ke dalam wajan.
Nafa menoleh sembari tersenyum. "Ini rumah orang tua suami saya. itu artinya rumah ini juga ruma saya. Terserah mama suka atau tidak, itu urusan Mama." Ucap Nafa lalu kembali menghadap pada kompor.
Ucapan Nafa membuat Marini mengepalkan kedua tangannya. Giginya mengerat dengan kedua rahangnya mengeras.
__ADS_1
"Hei! Kamu lupa siapa nyonya di rumah ini?" Tanya Marini geram.
Namun Nafa justeru tersenyum dan melanjutkan mengaduk - masakan di dalam wajan.
"Kamu dengar nggak sih!" Marini menarik pundak Nafa agar menghadapnya. Dia semakin kesal karena Nafa mengabaikannya.
"Aku lagi nggak mau ribut ya, Ma. Jadi tolong, jangan pancing-pancing Nafa. Percuma, Nafa nggak akan terpengaruh. Siapapun nyonya di rumah ini, tidak akan berpengaruh padaku sedikit pun. Meskipun itu Mama!" Ucapa Nafa kemudian berbalik menghadap kembali pada kompor.
"Wanita nggak tahu diri! Jangan harap kamu bisa tinggal lebih lama dengan anakku. Aku tidak akan biarkan itu terjadi. Tunggu saja, suatu saat nanti kamu akan memohon padaku untuk melepaskan mu." Ucap Marini dengan nada penuh emosional.
"Nafa benar Ma. Sudahlah, mama terima saja kenyataannya." Ucap Ravi, sambil berjalan mendekat pada ibu dan juga Nafa. Membuat kedua wanita itu menoleh ke belakang di mana Ravi sedang berdiri.
"Mama tahu 'kan, kebahagiaan Ravi hanya Nafa. Jadi please jangan pisahkan Ravi dari kebahagiaan Ravi lagi." Ravi memandang ibunya dengan tatapan memohon. Sudah cukup dia percaya pada ibunya selama ini. Karena kepercayaannya itu justru menutup mata dan telinga dari kebenaran.
"Kebahagiaan yang mana? Lihat Vi, kamu justeru di buat menderita oleh wanita ini. Kamu sadar nggak sih!" Marini mulai kesal karena di kalah telak dalam perdebatan kali ini.
"Mama, Ravi tahu mama menginginkan yang terbaik untuk Ravi. Tapi mama juga harus tahu, bahwa Ravi tahu apa yang terbaik untuk Ravi." Ucap Ravi sambil menatap Mariani serius. Membuat Marini kesal lalu pergi karena tak bisa membalas ucapan Ravi.
"Kamu nggak pa-pa 'kan?" Tanya Ravi menatap istrinya sesaat setelah ibunya pergi.
Nafa tersenyum sambil menggelengkan kepala pelan. "Aku nggak pa-pa, kamu nggak usah khawatir."
Ravi balas tersenyum lalu menarik Nafa kedalam pelukannya. "Mulai sekarang aku akan menjadi pelindungmu. Aku akan menjadi orang pertama yang akan melawan siapapun yang menyakitimu. Termasuk ibuku sendiri." Lalu mengecup kening Nafa pelan. Nafa mengangguk pelan dalam dekapan Ravi.
Harapan Nafa saat ini hanya kembali hidup bahagia bersama Ravi. Perjalanan panjang penuh kebencian telah memberikan pelajaran berharga baginya. Bahwa hidup tidak hanya tentang cinta. Tetapi juga perjuangan dan pengorbanan.
__ADS_1