
Nafa langsung bangkit dari tempat tidur saat mendapati Ravi sudah tidak berada di sampingnya. Diliriknya jam digital di atas nakas. Angka jam digital tersebut masih menunjukkan pukul setengah enam pagi.
"Mas," panggil Nafa dengan suara serak. Pandangannya tertuju pada pintu kamar mandi. Namun, hingga beberapa saat tak ada jawaban dan tidak terdengar suara dari dalam kamar mandi. Lalu dia turun kelantai bawah. Mengira Ravi berada di dapur. Namun suasana dapur sepi bahkan lampu saja masih mati.
"Kemana dia?" Gumamnya pelan. Kemudian berjalan ke arah jendela untuk mengintip mobil Ravi dari balik tirai. Dan sekali lagi, Nafa harus menelan rasa kecewa sebab mobil Ravi sudah tidak berada di garasi.
"Pergi kemana sampai nggak bangunin aku. Apa ada sesuatu yang dia sembunyikan?" pikir Nafa bermonolog. "Apa mungkin ada hubungannya dengan telepon semalam." Beberapa kecurigaan kini berputar-putar di kepalanya. Tak mau di buat gelisah lebih lama akhirnya Nafa memutus untuk pergi ke kantor Ravi. Setelah sebelumnya dia mencoba menghubungi nomor ponsel Ravi. Karena panggilannya di abaikan, akhirnya dia benar-benar pergi kekantor.
Sementara itu, Marsha sudah berdandan rapi. Dipolesnya bibir menggunakan lipstik sekali lagi untuk lebih menyakinkan. Kemudian dia memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan memastikan tidak ada yang salah dengan penampilannya. Setelah di rasa sempurna, dia meraih tas jinjing di atas meja rias lalu pergi.
Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya dia memperbaiki penampilan melalui kaca spion yang tergantung di dalam mobil. Hingga akhirnya mobil telah sampai di kantor Mahardika. Bibirnya langsung tersenyum lebar begitu mendapati mobil Ravi sudah berbaris di parkiran. Tanpa menunggu lama, Marsha keluar dari mobil dan langsung berjalan menuju ruangan Ravi.
__ADS_1
"Selamat pagi ...," Sapa Marsha, ketika membuka pintu ruangan Ravi. Tanpa persetujuan dia langsung melangkah masuk tak peduli dengan tatapan dari beberapa pasang mata yang berada di sana.
"Kita lanjutkan nanti," ucap Ravi menutup rapatnya. Sebab kedatangan Marsha mengganggu konsentrasi rapat. Peserta rapat pun mengangguk, kemudian membereskan berkas masing-masing dan pergi.
"Ngapain kamu kesini!" Pekik Ravi sambil berjalan menuju kursi kebesarannya. Lalu menyalakan komputer mengabaikan Marsha yang masih memasang senyum manis padanya.
"Ih ... kamu kok gitu sih! Kita 'kan sudah lama nggak ketemu." Marsha menghentakkan kakinya kesal sambil berjalan mendekat pada Ravi. lalu duduk di tepian meja kerja Ravi.
Keberadaan Marsha seolah tak berarti apa-apa untuk Ravi. Pasalnya pandangan Ravi tetap fokus menatap layar komputernya.
"Aku sibuk! Cepat katakan, ada perlu apa!" Ucap Ravi dengan pandangan masih fokus. Membuat Marsha seketika turun dari tepian meja sambil menghentakkan kaki kesal. Kemudian, berjalan mendekat pada Ravi dan duduk di sandaran tangan kursi kebesaran Ravi. Lalu sebelah tangan dilingkarkan ke pundak dan sebelahnya lagi di gunakan untuk bertumpu pada pundak sebelah Ravi.
__ADS_1
"Apa-apa sih! Pergi nggak." Ravi mengibaskan tangan Marsha dari pundaknya. Lalu menatap Marsha tak suka. "Pergi sana! Aku nggak ada waktu ngladenin kamu!" Pekiknya sambil mendorong tubuh Marsha. Hingga tubuh Marsha limbung dan turun dari kursi.
"Iiihhj ... kamu jahat banget sih!" Marsha kesal karena mendapat perlakuan kasar dari Ravi. Namun Marsha tak habis akal. Dia langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Ravi dari belakang.
"Jangan kurang ajar ya! Lepasin nggak!" Ravi berteriak sambil berusaha melepaskan tangan Marsha dari lehernya.
"Enggak! Aku nggak akan lepas." Ucapa Marsha semakin mengeratkan tautan kedua tangannya.
Sedangkan Nafa, langsung berjalan cepat ruangan Ravi begitu sampai di parkiran. Bahkan sapaan dari beberapa karyawan yang berpapasan dengannya hanya di jawab dengan anggukan kepala.
Hatinya merasa sangat gelisah saat ini. Seolah ada yang memintanya untuk segera sampai keruangan Ravi. Tak menunggu lama, Nafa langsung mendorong pintu ruangan Ravi.
__ADS_1
"Nafa," Ravi menoleh ke arah pintu di mana Nafa menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.