
"Sayang, kamu nggak lagi sakit kan?" Tanya Ravi, mengerling kearah Nafa yang duduk mematung di kursi penumpang. Namun, pertanyaannya tidak dihiraukan. Nafa tetap diam tenggelam dalam dunianya sendiri.
"Sayang, kamu sakit?" Lagi, Ravi mengulang pertanyaannya. Tapi lagi-lagi tak ada jawaban. Hingga akhirnya Ravi menepikan mobilnya lalu mengusap pundak Nafa pelan. "Sayang, kamu sakit? Dari tadi aku perhatikan diam saja."
"Hah! Eemmm, kamu ngomong apa tadi?" Nafa tersentak tersadar dari lamunannya.
"Kamu kenapa? Dari tadi aku tanya nggak jawab. Aku perhatikan diam saja." Ravi menatap Nafa dengan persahabatan khawatir.
"Aku nggak pa-pa, kita langsung pulang saja." Nafa tersenyum lalu menegakkan tubuhnya menghadap lurus ke depan.
"Bener, nggak pa-pa? Atau mau kemana dulu?" Tanya Ravi memastikan. Khawatir dengan keadaan Nafa saat ini.
"Iya, kita pulang." Nafa mengangguk yakin. "Tapi sebelumnya ada yang ingin aku bicarakan." Kini Nafa menatap serius kearah Ravi. Sementara Ravi hanya mengerutkan dahi menunggu Nafa berbicara.
__ADS_1
"Aku rasa, aku nggak bisa kembali sama kamu." Ucapannya kemudian.
"Kenapa? Ada masalah yang membuat kamu tiba-tiba berubah pikiran?" Ravi memandang heran, pasalnya tadi pagi Nafa baik-baik saja. Dan sorenya kenapa Nafa berubah pikiran?
"Tidak, tidak ada. Hanya saja, aku belum siap dengan semua konsekuensi."
"Konsekuensi apa? Masalah apa yang membuat kamu sampai takut dengan konsekuensinya?"
Nafa menggeleng lemah. Tak mungkin dia menceritakan semuanya pada Ravi. Dan pengkhianatan Ravi, sungguh dia tidak bisa terima dengan mudah. Bukan yang pertama, tapi untuk yang kedua kalinya.
"Tidak ada apa-apa."
"Ada seseorang yang merubah pikiranmu?" Ravi menatap curiga. Dugaannya Nafa di pengaruhi seseorang agar tidak kembali padanya. Siapa itu, dia harus tahu.
__ADS_1
"Tidak, ini murni keputusanku. Aku mohon kamu mengerti," kilah Nafa sembari menggeleng lemah.
"Aku nggak percaya tidak ada orang yang mencuci kepala kamu." Tatapan Ravi berubah tajam dan menuntut. Dia tak percaya dengan alasan Nafa yang mudah berubah pikiran hanya dalam waktu sehari saja.
Nafa menghela napas panjang sambil memejamkan matanya. Sejujurnya dia tak ingin percaya tapi hatinya terlebih dulu sakit. Ketimbang menerima dan mendengarkan pembelaan Ravi.
"Urus perpisahan kita. Atau paling tidak berikan surat persetujuan kamu aku akan urus semuanya." Nafa menoleh kearah Ravi. Di tatapnya laki-laki yang kini juga tengah menatapnya itu. Ada setitik cairan bening di sudut mata Ravi. Namun, semua itu tidak akan pernah bisa merubah keadaan. Hati yang terlanjur kecewa kini kembali terluka. Ada banyak luka kecil di dalamnya.
"Tidak! Sampai kapanpun pun aku tidak akan pernah melakukan itu. Meski kamu memaksa aku akan membuatnya semakin rumit. Hingga pada akhirnya kamu menyerah dan kembali padaku." Ucap Ravi yakin. Cukup satu kali dia kehilangan Nafa. Ravi sudah berjanji pada diri sendiri akan kembali mendapatkan Nafa dan memperbaiki hubungannya.
"Untuk apa kita perbaiki hubungan yang memang sudah tidak bisa dipertahankan. Untuk apa kamu memintaku aku kembali kalau pada akhirnya kamu hanya akan menyakitiku." Nafa tak tahan lagi untuk menyimpan rasa sakit hatinya. Sungguh saat ini dia ingin memaki. Sementara hatinya berdebar tidak karuan. Ada rasa gelisah bercampur kecewa Keduanya beradu tanpa menemukan titik dimana akan berhenti.
"Katakan apa yang terjadi? Jangan buat aku semakin bingung." Desak Ravi menatap Nafa serius. Siapapun orang yang membuatnya Nafa seperti ini akan dia hancurkan. Lebih hancur dari hidupnya sekarang.
__ADS_1