Penyesalan Suami : Pecah Seribu

Penyesalan Suami : Pecah Seribu
Bab 15. Kembali pada orang yang sama


__ADS_3

Nafa mendengus kesal sembari mendudukkan diri di atas sofa. Sikap diktaktor Ravi membuatnya merasa terkekang. Sudah cukup dia tunduk pada Ravi dulu, dan tak akan pernah lagi. Tapi saat berada di hadapan Ravi, keangkuhannya melemah. Dirinya bagai ter remote otomatis untuk selalu patuh laki-laki yang masih berstatus suaminya itu.


"Menurutku yang di katakan Ravi itu benar." Ika mengikuti Nafa duduk di atas sofa panjang. Saat ini sahabatnya itu terlihat sangat marah, jadilah dia bertindak sebagai air dingin yang akan berusaha memadamkan api amarahnya.


"Benar bagaimana? Kamu lihat sendiri 'kan, seenaknya saja dia memaksaku untuk pulang ke rumahnya!" Nafa memalingkan wajahnya. Kesal saat teringat wajah pemaksa Ravi.


Setelah kepergian Fandi, Nafa dan Ravi bertengkar. Ravi memaksa Nafa untuk kembali ke rumah sebab dia tak ingin istrinya pergi bersama laki-laki lain. Nafa jelas menolak, dia mengingatkan kembali kalimatnya. Memaafkan buka berati kembali. Sementara untuk kembali dia masih butuh banyak waktu untuk memikirkannya.


"Bukan memaksa, tapi memang seharusnya kamu kembali ke sana, Fa." Ika menoleh kearah Nafa yang juga tengah menoleh ke arahnya. Karena kalimat yang baru saja diucapkan.


"Kok kamu jadi belain dia sih?" Nafa memandang heran sebab Ika justeru berpihak pada Ravi.


"Aku nggak bela siapa-siapa. Menurutku yang dialkukan Ravi itu sudah benar. Kamu istrinya, dan tempat terbaik bagi seorang istri adalah rumah suami." Meski belum berpengalaman, setidaknya Ika tidak salah dalam berucap. Tujuannya hanya untuk memberi nasihat pada sahabatnya. Dia merasa kasihan melihat Nafa dan Ravi yang terpisah karena keegoisan masing-masing.


"Tapi kalau suami nggak bisa memberi kenyamanan pada istri, apa istri harus tetap tinggal." Nafa balik bertanya. Kedua alisnya bertaut dan dahi pun ikut berkerut.


"Emmm ... kalau yang itu, aku tidak tahu. Yang aku tahu, Ravi sudah berubah. Ravi yang sekarang, bukan Ravi yang aku kenal dulu." Ujar Ika menyakinkan Nafa. "Ravi yang sekarang, lebih terlihat menghargai betapa pentingnya wanita dalam hidupnya." Lanjut Ika dengan memandang jauh ke depan. Seolah dirinya lah yang menjadi objek teristimewa.


Nafa mendengus sembari memalingkan wajah. Masih ada beberapa tali simpul yang belum dapat teruraikan. Benar dia sudah memaafkan, tetapi masih ada rasa yang tidak nyaman untuk benar-benar tulus memaafkan.


"Fa, kesempatan ke dua itu penting. Setiap hubungan pasti akan menemui titik jenuh. Tapi bukan berarti menyerah dan membiarkan hubungan itu menjadi lebih hambar. Lakukan apapun untuk mengembalikan hubungan itu menjadi manis seperti dulu. Jika memang sudah tidak terasa manis, setidaknya kamu sudah berusaha memperbaiki." Papar Ika, sembari menatap Nafa serius. Berharap akan ada sedikit kalimatnya yang tertinggal di dalam kepala Nafa.

__ADS_1


"Aku tahu perasaanmu, aku juga bisa merasakan sakitnya saat Ravi menghempaskan mu. Seandainya aku yang mengalaminya, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Mungkin juga aku tidak akan pernah kembali. Tapi, sepertinya takdir berkata lain. Lihat, Fa sekeras apapun dan sejauh apapun kamu menghindar pada akhirnya kamu tetap berada di sekeliling Ravi."


Nafa membenarkan ucapan Ika kali ini. Pandangannya pun kini berbayang, sebab matanya mulai mengeluarkan air yang memenuhi pelupuknya. Perlahan namun pasti, genangan itu menetes dan membasahi kedua pipinya.


"Aku tahu, kamu masih bimbang. Pikirkan saja pelan-pelan. Seiring berjalannya waktu semua pasti baik-baik saja. Asal kamu ikhlas menerimanya." Ika mengusap pundak Nafa, memberi dukungan pada sahabatnya yang saat ini tengah gelisah.


"Jalani saja pelan-pelan. Suatu saat nanti, semua pasti kembali seperti semula. Aku yakin itu." Lanjut Nafa sembari tersenyum yakin.


Nafa memandang kearah Ika. Menatap matanya, untuk mencari kekuatan. Perlahan keraguan hatinya mulai memudar. Bersama senyum yang terbit di bibirnya.


***


Dalam diam Nafa merenungi kembali semua kalimat Ika. Memperbaiki hubungan, dan menumbuhkan rasa hambar dalam hubungan rumah tangganya, dia akan coba. Segala keraguan dalam hati berusaha ditepis. Agar dia benar-benar siap menjalani hubungan yang kedua bersama orang yang sama.


Tadinya dia ingin menghubungi Ravi bermaksud meminta maaf padanya. Tapi dia terlalu malu untuk menghubungi lebih dulu. Sejak tadi dia hanya membuka aplikasi pesan berwarna hijau, lalu keluar lagi.


"Apa yang akan Ravi pikirkan jika aku menghuninya lebih dulu?" Gumamnya pelan. Sedangkan menunggu Ravi menelpon, dia sudah tidak sabar. Tak sabar. untuk mengatakan bersedia kembali ke rumah. Beberapa kalimat pun sudah dia ketikkan di layar ponsel tapi langsung di hapus kembali.


"Aaarrrggghhh!" Nafa berteriak frustasi, lalu melempar ponselnya ke atas kasur. Terlalu sulit untuknya memulai terlebih dahulu.


"Ada apa, Fa?" tanya Ika dengan wajah khawatir. Saat itu dia sudah tertidur. Tapi langsung terjaga dan berlari ke kamar Nafa yang tidak tertutup rapat saat mendengar suara Nafa berteriak. Namun, sahabatnya itu justru memandang kearahnya bingung.

__ADS_1


"Aku nggak pa-pa, maaf naku bangunin kamu." Jawab Nafa dengan meringis malu.


"Kamu, bikin kaget saja. Aku pikir kamu kenapa-kenapa." Ika mendengus kesal. Ternyata yang di khawatirkan cuma sedang bimbang. Kemudian menghela napas panjang lalu menutup pintu kamar Nafa dan pergi.


Entah apa yang terjadi, pagi itu Nafa sangat bersemangat untuk berangkat bekerja. Jarum jam baru menunjuk angka enam pagi, tapi Nafa sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Dia duduk di sofa ruang tamu dengan kepala beberapa kali melihat kearah depan.


"Kenapa, Fa? Kayaknya gelisah gitu." Seloroh Ika yang baru saja keluar dari kamar. Lalu berjalan mendekat ke arah Nafa sambil menguap.


"Enggak kok, siapa yang gelisah?" Nafa mengelak. Sebenarnya dia sangat gelisah, menunggu kedatangan Ravi.


"Lah, tumben jam segini sudah siap. Biasanya juga baru bangun." Ika memandang heran ke arah Nafa. Membuat Nafa salah tingkah dan menelan ludah gugupnya.


"Siapa bilang aku baru bangun. Biasanya jam segini aku juga sudah siap. Kamu kali yang baru bangun." Elak Nafa tak terima. Namun, Ika justeru memandang dengan tersenyum.


"Kenapa senyum-senyum?" Sungguh tidak ada yang lebih membuatnya gugup dengan tatapan penuh arti dari Ika. Setelah tatapan Ravi tentunya.


"Sudahlah, apapun alasannya. Aku berharap semoga berjalan sesuai rencana. Dan semoga di kesempatan ke dua ini kalian selalu dilimpahkan dengan kebahagiaan." Ucap Ika sambil berdiri kemudian pergi.


Sementara Nafa berjalan keluar rumah karena tak kunjung melihat mobil Ravi. Lagipula, waktu sudah lewat jam di mana biasa Ravi menjemputnya.


Nafa mulai kesal dan bergumam tidak karuan. Mempertanyakan kesungguhan Ravi dengan hubungan mereka. Apa mungkin Ravi sudah lelah dan menyerah?

__ADS_1



__ADS_2