
Dua Minggu sudah berlalu dengan damai. Kembalinya Nafa di tengah-tengah keluarga Mahardika membawa warna baru dalam keluarga itu. Terutama pada Ravi.
Meski tatapan sinis dan sindiran masih kerap di lontarkan oleh ibu mertua. Nafa selalu berusaha mengabaikannya. Membiasakan diri untuk berdamai dengan kalimat-kalimat kasar yang kerap terlontar dari bibir pedas sang ibu mertua.
Seperti biasa hari itu Nafa bangun lebih awal. Sejak sepertiga malam dia tidak bisa memejamkan mata kembali. Akhirnya dia memutuskan bangun dan memasak.
"Sarapan dulu, Mas," pinta Nafa begitu melihat Ravi tergesa-gesa menuruni anak tangga dan melewatinya begitu saja.
"Nggak keburu, Sayang." Ravi menghentikan langkahnya sejenak untuk menoleh pada Nafa.
"Nggak keburu? Memang mau kemana? Ini masih pagi lo, Mas." Nafa mengernyit heran. Tidak biasanya Ravi berangkat ke kantor sepagi ini. Sementara jarum jam masih menunju pada angka setengah enam.
"Ada rapat darurat. Sudah ya, aku berangkat dulu." Jawab Ravi dan langsung melangkah pergi. Nafa semakin haran di buatnya. Pasalnya Ravi bukanlah tipe orang yang suka dengan sesuatu hal yang mendadak. Dia selalu menyiapkan segala urusan dengan matang sebelum-sebelumnya.
Nafa hanya bisa menatap punggung Ravi yang semakin menjauh. Lalu mengedikkan bahu dan memilih kembali melanjutkan pekerjaan rumahnya. Tak ingin berpikiran yang tidak-tidak terhadap Ravi. Namun dalam hati dia selalu memanjatkan doa untuk keselamatan dan kelancaran semua urusan Ravi.
Lain halnya dengan Ravi, saat ini dia mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Bahkan beberapa kali dia hampir menyerempet mobil lain karena tidak fokus mengemudi. Apalagi jika ponsel tak berhenti berdering. Membuatnya semakin gugup dan bingung tak karuan. Sudah pasti semua menelponnya memintanya untuk segera datang ke kantor.
"Apa semuanya sudah berkumpul?" Tanya Ravi pada Daniel yang saat ini menelponnya. "Baik, tunggu di ruang rapat. Lima menit lagi aku sampai." Lanjutnya lalu memutuskan sambungan telepon.
Tepat lima menit kemudian, Ravi sudah sampai di kantor. Dia memarkir mobilnya asal dan langsung berlari sambil melempar kunci mobil pada scurity yang sedang berjaga. Bermaksud meminta untuk membetulkan parkir mobilnya. Sementara dia sendiri langsung menuju ruang rapat di mana tiga rekan kerjanya sudah duduk menunggunya.
"Bagaimana selanjutnya?" Ravi langsung menodong pada rekan kerja dengan sebuah pertanyaan yang jawabannya masih akan mereka bicarakan.
"Solusi masih belum ditemukan. Sudah bisa di pastikan, kabar ini akan segera menyebar ke publik siang ini juga." Jawab Daniel memperjelas konsekuensi yang akan di hadapi sebab masalah yang sedang terjadi. Sementara yang lain hanya menganggukkan kepalanya sependapat dengan ucapan Daniel.
__ADS_1
"Apa tidak ada cara lain, untuk mencegah? Tender kita banyak, jika masalah ini sampai menyebar ke publik, sudah pasti kita akan merugi banyak sekali." Wajah Ravi berubah gelisah. Dalam keadaan seperti ini, dia benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih. Tidak hanya khawatir dengan kerugian yang akan di dapat, tetapi dia juga khawatir jika papa mengetahui. Sehingga akan mempengaruhi kesehatannya.
"Jika saya amati, ada kesengajaan dalam kasus ini."
Seketika Ravi menatap Daniel. Berusaha mencerna ucapan yang baru saja keluar dari mulut Daniel.
"Maksud kamu?" Tanya Ravi memasukkan.
"Aneh saja, unit yang kita kirim ke perusahaan ini hampir delapan puluh persen baru. Tapi kenapa bisa ada kecelakaan? Unit terguling, okelah, keteledoran dari operator. Tapi yang terjadi ini sebuah kebakaran. Sedangkan yang terbakar adalah unit baru. Dan perusahaan mereka menuntut ganti rugi pada kita. Sedangkan yang seharusnya menuntut ganti rugi adalah kita, apa ini tidak aneh?" Daniel memaparkan mendapatkannya.
Ravi mengangguk-anggukan kepalanya pelan. Dia sependapat dengan yang ucapakan Daniel.
"Mungkinkah, ada dendam pribadi?" Sella menyela, ditatapnya Ravi dengan dahi berkerut. "Mengingat, ibu Nafa bekerja di perusahaan itu," lanjutnya dengan suara pelan.
Kini pandangan Ravi beralih menatap Sella. Masalah pribadi? Benarkah seperti itu?
***
Sementara itu, papa Iwan yang sudah mengetahui kabar tersebut melalui televisi langsung bergegas menuju kantor. Beliau langsung menemui Ravi di ruangannya dan menanyakan yang sebenarnya terjadi.
"Papa tidak usah khawatir, Ravi sudah mengirim orang untuk menyelidiki kasus ini. Secepatnya kita akan mendapatkan kabar baiknya." Ucap Ravi menenangkan. Namun, sepertinya tak membuat papa Iwan lega. Sebab raut kegelisahan masih tampak jelas di wajahnya.
"Kenapa bisa seperti ini, sih,?" Gumam papa Iwan frustasi.
"Yang terjadi bukan murni kecelakaan, Pa." Papar Ravi menatap papanya serius. Tadinya dia tak ingin memberi tahu, tapi pada akhirnya dia mulai mengatakannya.
__ADS_1
"Maksud kamu?" Papa Iwan balas menatap Ravi penasaran.
"Hampir semua yang kita kirim ke perusahaan itu unit baru. Selama ini belum pernah ada kasus kebakaran unit seperti ini. Kita semua bisa memaklumi jika ada yang gagal di operasikan. Yang jadi masalah di sini, kenapa mereka yang menuntut ganti rugi? Sementara unit itu milik kita. Seharusnya kita yang menuntut karena dirugikan. Tapi ini tidak, justeru mereka yang menuntut. Apa menurut papa ini tidak aneh?" Terang Ravi panjang lebar. Lalu bertanya di akhir penjelasannya.
Papa Iwan diam menyimak ucapan Ravi. Lalu mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Setuju dengan persepsinya Ravi.
"Lalu langkah apa yang akan kamu lakukan selanjutnya."
"Belum tahu, sementara masih menyelidiki penyebab yang pasti." Jawab Ravi dengan raut wajah pasrah. Tak yakin dengan bukti yang akan ditemukan nantinya.
"Proyek yang lain bagaimana?" Tanya papa Iwan lagi. Sudah di pastikan masalah ini akan berpengaruh pada hubungan kerjasama dengan perusahaan lain.
"Sepanjang siang ini masih baik-baik saja, Pa. Tapi Ravi tidak yakin dengan besok." Akhirnya Ravi menyerah. Dia sudah siap jika para relasi memutuskan hubungan kerja dengan perusahaannya.
"Papa, serahkan semua ini sama kamu. Papa percaya kamu bisa mengatasinya dengan baik." Papa Iwan menepuk pundak Ravi. Memberi semangat pada putranya.
***
Lelah menghadapi masalah di kantor, Ravi memutuskan untuk pulang ke rumah. Namun sesampainya di rumah, dia tak menemukan keberadaan Nafa. Bahkan beberapa kali dia berteriak memanggil Nafa. Tapi tidak ada tanda-tanda Nafa berada di rumah itu.
Tak lama setelah itu, terdengar suara mobil berhenti di depan rumahnya. Ravi pun bangkit dan mengintip dari balik gorden jendela rumahnya.
Sedetik kemudian, matanya membelalak terkejut melihat Nafa keluar dari dalam mobil Fandi. Mobil itu langsung melesat pergi begitu Nafa turun. Membuat Ravi mengepalkan kedua tangannya marah. Kemudian buru-buru berlari kearah pintu lalu membukanya.
"Dari mana kamu!"
__ADS_1