
Setelah mengantar Nafa ke kantor, Ravi langsung berbalik arah menuju kantornya. Dia menambah laju kendaraannya sebab pagi itu akan ada pertemuan dengan perusahaan yang akan menyewa jasa kontraktornya. Apalagi dia belum sempat membaca surat kontrak yang akan di sepakati.
Begitu sampai, Ravi langsung berjalan cepat menuju ruang rapat. Di sana sudah ada tiga orang yang sudah menunggu dan siap melaksanakan tugas masing-masing.
"Maaf, saya terlambat." Ravi langsung duduk di kursi paling ujung dekat dengan layar monitor.
"Ini surat perjanjiannya, silahkan diperiksa." Sella menyerah surat perjanjian kontrak sebelum di tandatangani nantinya.
"Apa mereka setuju dengan persyaratan yang kita berikan?" Tanya Ravi dengan mata fokus membaca lembar demi lembar surat berjanji kontrak. Meneliti dengan seksama setiap baris kalimat dalam surat perjanjian. Tak ingin ada kesalahan sedikitpun yang bisa merugikan perusahaannya.
Sementara itu, setelah kepergiaan Ravi, Nafa bergegas masuk kedalam mobil perusahaan yang akan mengantarnya ke sebuah kantor kontraktor yang disewa.
Beberapa kali dia membuang napas untuk meredakan kegugupan. Hari pertama dipindahkan ke cabang tanah air, dia justeru harus menjalin kerja sama dengan Ravi. Mati-matian dia menghindari dan membuktikan kemampuannya, namun pada akhirnya dia justeru kembali didekatkan pada Ravi.
Kedatangan Nafa di sambut oleh seorang resepsionis yang memang sudah disiapkan secara khusus menjemput klien dari perusahaan besar itu.
"Bu Nafa?" gumam seorang resepsionis yang menyambut Nafa. Dia terlihat bingung. Bukankah tadi dia ditugaskan untuk menjemput klien? Tetapi kenapa justru istri bosnya yang keluar dari mobil klien? Apa mungkin salah orang?
"Kamu masih ingat?" Nafa tersenyum pada resepsionis itu. Kepergian selama lima tahun tak membuat orang lupa dengan dirinya.
"Tentu saja. Ibu mau bertemu pak Ravi?" Tanya resepsionis itu. 'bertemu' dalam artian bertemu biasa.
"Iya, saya ada rapat penting dengan Ravi. Bisa antarkan saya ke ruang rapat?"
Namun, jawaban Nafa justeru membuat resepsionis itu membelalakan mata tak percaya. Tapi pada akhirnya resepsionis itu mengangguk dan berjalan dua langkah di depan Nafa menuju ruang rapat.
Suara detak sepatu wanita semakin terdengar hingga keruang rapat. Semakin lama, semakin terdengar mendekat. Membuat semua orang yang berada di ruang rapat menoleh ke arah pintu ruangan itu.
"Sepertinya mereka sudah datang," seloroh Daniel, sambil mengarahkan pandangan ke arah pintu dan langsung diikuti oleh tiga orang lainnya termasuk Ravi.
__ADS_1
Namun sejurus kemudian, semua mata justru membelalak tak percaya dengan apa yang dilihat. Seorang wanita yang mereka ketahui sebagai istri dari atasannya, saat ini berdiri di diambang pintu depan anggun dan penuh wibawa.
"Nafa," gumam semua orang. Pun dengan Ravi, dia langsung berdiri menatap Nafa tak percaya.
"Maaf, saya terlambat." Namun, Nafa tak menghiraukan tatapan Ravi. Bahkan menganggap Ravi tak ada didalam ruangan itu. Kemudian melangkah masuk dan mengambil duduk diantara dua karyawan Ravi. Tepatnya, duduk berhadapan langsung dengan Ravi. Ravi pun duduk kembali.
Hingga beberapa menit berlalu, mereka masih terdiam. Seolah tak percaya dengan yang terjadi saat itu. Membuat mulai merasa tak nyaman dengan tatapan mereka. Apalagi dengan tatapan intens Ravi.
"Ehem! Bisa kita mulai?" Akhirnya Nafa memutus tatapan mereka darinya. Namun, sepertinya perintah itu tidak berlaku untuk Ravi. Nyatanya sampai rapat dimulai tatapannya tak sekali pun berpindah darinya.
Dua jam berlalu penuh ketidak nyamanan. Akhirnya Nafa bernapas lega karena bisa bebas dari tatapan intens Ravi. Setelah menandatangani kesepakatan dan berjabat dengan semua orang peserta rapat, Nafa berpamitan kemudian pergi.
Baru saja keluar dari ruang rapat, Nafa berlari sempoyongan karena tangannya di tarik oleh Ravi, masuk ke dalam ruangannya.
"Apa-apaan sih!" Pekiknya sambil mengibaskan genggaman tangan Ravi dari lengannya.
"Kenapa nggak bilang, perwakilannya kamu?" Ravi menatap Nafa penuh tanya. Namun, batinnya juga tersenyum karena bisa bersama Nafa. Setidaknya, dia akan menahan Nafa sampai jam pulang kantor.
"Ya, kamu benar. Baguslah, kamu di sini aku tidak perlu jauh-jauh menjemputmu untuk makan siang." Ravi tersenyum, kemudian duduk di kursi kebesarannya.
"Terimakasih tawarannya. Tapi maaf, aku harus kembali. Masih banyak yang harus aku kerjakan." Nafa berbalik dan berjalan menuju pintu. Namun langkahnya kalah cepat dengan Ravi. Karena saat ini laki-laki itu sudah berdiri di depan pintu dan menguncinya.
"Apa-apaan kamu! Buka pintunya! Aku harus kembali ke kantor!" Nafa berteriak marah pada Ravi.
Namun, Ravi justeru tersenyum dan berjalan mendekat pada Nafa. "Tidak akan ku buka. Jadi, duduk tenang bersamaku di sini."
"Jangan ke kekanak-kanakan! Buka pintunya! Atau aku akan teriak!" Ancamnya dan bahkan sudah bersiap mengambil suara untuk berteriak.
"Berteriak untuk apa? Minta tolong? Tidak ada yang akan menolong istri berteriak karena diperkosa suaminya," ucapa Ravi sambil terkekeh. Kemudian kembali duduk di kursinya.
__ADS_1
Mau tak mau Nafa akhirnya duduk di sofa ruangan itu. Ruangan yang mengingatkannya pada kejadian paling menjijikkan yang pernah dilihatnya lima tahun silam. Kejadian yang pada akhirnya membuatnya memutuskan pergi dan hidup mandiri.
Sakit, perih dan kecewa itulah yang dia rasakan itu. Sebuah kenyataan yang membuat hatinya hancur berkeping-keping. Di ruangan ini dan di atas kursi ini dia menyaksikan bagaimana suaminya bergelung mesra bersama wanita lain.
Ingin sekali dia menjerit keras saat ini. Namun, hanya isakan yang mampu keluar dari mulutnya. Bersama dengan air mata kecewa yang kembali mengoyak hatinya.
"Nafa, ada apa?" Ravi berlari menghampiri Nafa. Kemudian berjongkok di hadapannya dengan tatapan khawatir.
"Pergi kamu! Pergi!" Pekik Nafa sambil berusaha mendorong tubuh Ravi agar menjauh darinya.
"Katakan, Sayang ... ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba menangis?" Khawatir, bingung. Itulah perasaan Ravi saat ini sebab Nafa tiba-tiba menangis.
"Jika kamu tidak ingin pergi, biarkan aku pergi." Nafa tak menjawab pertanyaan Ravi. Dia meraung dalam tangisannya. Luka hatinya kembali terasa perih.
"Sayang, katakan. Ada apa? Jangan membuatku bingung."
"Aku benci tempat ini! Biarkan aku pergi dari sini!"
Tubuh Ravi bergetar, seketika ingatannya kembali pada kejadian lima tahun lalu. Di mana dia menuduh dan memaki Nafa. Perlahan namun pasti, matanya berair dan setitik cairan bening menetes dari sudut matanya.
"Maafkan aku sayang. Maafkan aku, aku khilaf. Hukum aku, jika itu bisa menebus semua kesalahanku."
"Tinggalkan aku! Aku rasa hanya itu hukuman yang tepat untuk menebus kesalahanmu." Perlahan mata Nafa terbuka Kemudian dia bangkit dari duduknya.
"Tidak! Meskipun langit akan runtuh aku akan tetap mempertahankan mu!"
Nafa menggeleng lemah. Sudah habis akal membuat Ravi mau meninggalkannya.
"Jika kamu tidak mau, biarkan aku yang meninggalkanmu." Ucap Nafa kemudian melangkah pergi. Dia memutar kunci untuk membukanya.
__ADS_1
Namun, Ravi kembali menarik Nafa hingga berbalik menghadapnya. Kemudian langsung menciumnya. Membuat Nafa, semakin murka dan menampar Ravi hingga kepala Ravi menoleh sebab kerasnya tamparan.