Penyesalan Suami : Pecah Seribu

Penyesalan Suami : Pecah Seribu
Bab 12. Cemburu


__ADS_3

Nafa menatap pantulan wajahnya di cermin meja rias sembari menghela nafas. Kemudian memijat kedua pelipisnya perlahan. Hampir menjelang pagi dia tidak bisa tidur. Jadilah pagi ini kepalanya terasa pening.


Pertemuan dengan Ravi semalam sungguh membuat hatinya resah dan gelisah. Pertahanannya mulai runtuh, namun sebisa mungkin dia kembali mendirikan benteng untuk tidak termakan dengan bujukan Ravi.


"Aku kehilangan bayangan saat kamu pergi. Bagiku hidup dan mati sama saja. Aku hidup tapi terasa mati. Aku ingin mati, tapi ternyata aku masih hidup. Nafa, aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu. Bahkan sampai saat ini, cintaku semakin dalam dan besar untukmu."


Laki-laki itu telah berhasil memporak-porandakan hatinya. Rasa yang hampir menghilang kini seakan kembali tumbuh dan mulai berkembang. Maaf, yeah Nafa sudah memaafkannya. Dia akhirnya menerima permintaan maaf Ravi. Tapi untuk kembali dia tidak berjanji. Hanya akan mencoba apakah perasaannya masih sama seperti dulu atau sudah benar-benar menghilang.


"Cukup, jangan katakan apa-apa lagi. Aku sudah memaafkan mu." ucap Nafa dengan mata terpejam. Pada akhirnya dia mengalah, saat itu logika dan hatinya sedang berperang. Dia akan coba untuk membuka hati.


Ravi tersenyum, lalu mendekat pada Nafa lalu meraih tangan Nafa agar berdiri berhadapan dengannya.


"Aku tahu, kamu pasti akan melakukannya. Terimakasih sayang, karena kamu mau memberiku kesempatan. Aku berjanji tidak akan pernah kubiarkan hal yang sama terulang lagi. Aku mencintaimu." Ravi meraih Nafa ke dalam pelukannya. Bibir sudah terarah untuk mencium Nafa. Namun Nafa langsung menahan dada Ravi menggunakan kedua tangannya.


"Maaf, aku tidak bisa melakukannya. Aku memaafkan mu, hanya sekedar itu tidak lebih."


"Maafkan aku, aku sangat bahagia. Aku tidak tahu cara mengekspresikan kebahagiaan ku. Hanya itu saja yang terpikir di dalam hatiku." Ravi tersenyum kikuk. Namun akhirnya dia memeluk Nafa erat. Kembali menghirup aroma tubuh wanita tercintanya.


"Tumben jam segini sudah siap?"

__ADS_1


Pertanyaan Ika membangunkan Nafa dari lamunannya. Dia pun menoleh kemudian mengangguk sembari tersenyum. "Mau survei proyek sama Fandi."


"Fandi?" Ika menautkan kedua alis dengan dahi berkerut. Sementara kedua bola matanya bergerak-gerak seperti berusaha mengingat sesuatu. "Fandi orang yang sama bukan?" tanyanya kemudian, memastikan bahwa dia tak salah mengingat.


Nafa mengangguk sambil tersenyum. Lalu kembali menghadap cermin dan memoleskan bedak di wajahnya.


"Bagaimana dengan Ravi?"


"Bagaimana apanya?" Nafa menoleh kearah Ika dengan tatapan bingung.


"Selesaikan dulu masalah dengan Ravi. Jangan buat dia menunggu terlalu lama."


Kalimat Ika membuat Nafa merasa bagai di todong dengan sebutan pisau belati.


"Beri Ravi, keputusan yang jelas. Katakan iya, jika kamu ingin. Dan katakan tidak jika kamu tidak ingin. Dia juga punya hati. Meski dia seorang laki-laki, hatinya juga bisa hancur." Ika kurang setuju dengan sikap sahabatnya itu. Dia memang tidak tahu persis hubungan Fandi dengan Nafa. Tapi dia tahu bahwa Fandi menaruh perasaan pada Nafa. Tak masalah jika perasaan Nafa pun sama. Tapi setidaknya dia harus menyelesaikan hubungannya dengan Ravi terlebih dahulu.


"Kamu ngomong apa sih? Aku dan Fandi, tidak ada hubungan apa-apa. Hanya sebatas atasan dan bawahan. Aku bekerja untuknya untuk berterimakasih. Kerena dia telah membantuku hingga aku bisa sendiri sendiri seperti sekarang ini."


Yeah, benar Fandi. Nafa bertemu dengannya saat setelah malam kelam itu terjadi. Laki-laki itu mengulurkan sebuah tissue pada Nafa yang menangis di halte bus seorang diri. Fandi menemaninya hingga akhirnya tangisan Nafa berhenti.

__ADS_1


Awalnya Nafa takut karena tak mengenal Fandi. Khawatir Fandi akan melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya. Namun lama-lama Nafa merasa nyaman dengan kehadiran Fandi. Hingga akhirnya dia menceritakan kejadian yang menimpa dirinya.


Bagai gayung bersambut, Fandi menawarinya untuk bekerja di perusahaannya. Namun Fandi membutuhkan pendidikan tinggi untuk masuk ke dalam pekerjaan itu. Nafa yang tidak memiliki pengalaman pendidikan seperti yang Fandi inginkan pun mengurungkan niat. Tapi sekali lagi, Fandi memberinya solusi. Dia bersedia membiayai pendidikan Nafa hingga Nafa mendapatkan gelar seperti yang diinginkan.


Tanpa berpikir panjang, Nafa bersedia. Lagipula saat itu dia memang ingin pergi jauh untuk melupakan Ravi.


Dengan bantuan Fandi, Nafa pergi dan akhirnya kembali dengan gelar dan pengalaman baru.. Semua itu berkat bantuan Fandi.


"Mungkin kamu tidak memiliki perasaan pada Fandi, tapi Fandi? Aku nggak bisa jamin, dia tidak memiliki perasaan sama kamu. Dengar Nafa, tidak ada hubungan pertemanan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Pasti akan ada perasaan yang berbeda. Entah itu Fandi atau kamu, pasti akan ada perasaan lebih di salah satunya." Papar Ika serius. Dia hanya bermaksud mengingatkan Nafa untuk tidak memberi harapan pada kedua laki-laki itu.


Nafa terdiam mendengar semua ucapan Ika. Bersama dengan itu, ponselnya berdering. Dia mengeluarkan ponsel yang yang sudah di masukkan ke dalam tasnya. Untuk menerima panggilan masuk saat.


"Iya, aku sudah siap." Jawabnya pada seseorang yang menelpon. Kemudian meraih tasnya lalu pergi meninggalkan Ika yang masih menatapnya bingung.


Sementara itu, Ravi sedang dibuat kesal. Pasalnya, sejak tadi dia berusaha menghubungi Nafa namun panggilan selalu dialihkan.


Begitu hampir sampai di depan rumah sewa Nafa, mobil Ravi melaju lambat, karena melihat sebuah mobil mewah yang berhenti di depan rumah sewa Nafa. Tak lama kemudian, Nafa keluar dari dalam rumah kemudian tersenyum pada laki-laki yang telah menunggunya.


Ravi, baru saja matikan mesin mobil, berniat menghampiri mobil tersebut dan meminta Nafa untuk berangkat bersama, tapi mobil itu sudah melaju terlebih dahulu.

__ADS_1


"Nafa!" Ravi berteriak menyerukan nama Nafa sambil membunyikan klakson mobil. Tapi tentu saja Nafa tidak akan mendengar seruannya. Dia pun berteriak kesal sambil memukul kemudi lalu mengepalkan tangan meninju ke udara.


Siapa laki-laki itu? Ada hubungan apa Nafa dengannya?


__ADS_2