
Sejak Marsha mengakhiri obrolan melalui telepon, Marini menjadi gelisah. Berjalan mondar-mandir dengan bergumam tidak jelas. Khawatir jika tak berhasil membujuk Ravi, Marsha akan benar-benar membocorkan rahasia yang susah payah dikubur selama dua puluh lima tahun.
"Terus awasi, wanita itu. Dan cari tahu dimana putra wanita itu sekarang." Perintahnya pada seseorang kala itu. "Buat mereka kesulitan dan bergantung pada bantuan kita. Dengan begitu akan mudah mengendalikan mereka." Perintahnya lagi yang langsung diangguki oleh dua orang berbaju serba hitam.
Sebuah misi yang disembunyikan dari semua orang bahkan suaminya, justeru terungkap di depan Marsha. Marini tidak akan masalah jika rahasia itu terungkap dihadapan Nafa. Dia bisa saja mengancam wanita itu dengan mudah. Tapi lain halnya dengan Marsha, dia begitu licik dan sulit untuk taklukan.
Awalnya Marini tak terlalu khawatir, Marsha tidak akan tahu rahasianya. Tapi ternyata salah, Marsha telah mencari tahu rahasia yang sembunyikan. Dan mengetahui rahasianya secara detail.
"Aku nggak nyangka Tante, orang yang licik. Menyingkirkan orang lain demi kebahagiaan sendiri." Ucap Marsha sembari tersenyum licik. "Seandainya, aku mengatakan pada om Fery atau Ravi, kira-kira apa yang akan mereka lakukan ya?" Saat itu, Marini hanya bisa menatap Marsha dengan perasaan khawatir.
"Tapi tenang ... aku bisa jamin rahasia itu aman di tanganku." Seketika Marini menatap tajam ke arah Marsha yang masih tersenyum mengejeknya. Tahu bahwa saat ini Marsha memperdaya dengan menggunakan kelemahannya.
"Apa yang kamu ketahui!" Tanya Marini pada akhirnya.
"Semuanya. Mulai dari kecelakaan dan berakhir pada sebuah pengusiran. Aku tahu semua itu."
Marini semakin bergetar. Bagaimana mungkin Marsha bisa tahu semuanya dengan detail. Selama ini dia tidak pernah buka mulut pada semua orang. Apa mungkin Marsha membuntutinya?
"Aku bisa tutup mulut. Tapi ada syaratnya." Kata Marsha dengan senyum miring. Sebuah jalan lebar untuk mendapatkan Ravi sekarang terbuka lebar. Dengan kelemahan Marini dia yakin jalannya akan semakin mulus.
__ADS_1
"Syarat? Apa syaratnya?" Marini memilih mengalah. Lebih baik menuruti keinginan Marsha sampai dia berhasil menjalankan misinya.
"Mudah, cukup dengan nikahkan aku dengan Ravi."
"Apa!" Pekik Marini terkejut. "Lalu Nafa bagaimana?" Tanyanya tak paham dengan permintaan Marsha. Dia memang tak terlalu suka dengan Nafa karena perbedaan kasta dan status sosial. Tapi Nafa wanita yang cukup pintar dan mengerti batas. Tidak pernah mencampuri urusan orang lain.
"Masa, harus aku kasih tahu sih! Tante 'kan orang cerdas." Marsha melipat kedua tangan dengan sombongnya. "Tante pikiran caranya, aku tunggu hasilnya." Ucapannya tanpa menjelaskan kemudian melangkah pergi.
Marini frustasi, misi belum berhasil dijalankan dan kini dia harus tertekan dengan ancaman Marsha. Menikahkan Marsha dengan Ravi? Itu mustahil. Tapi juga mustahil untuk tidak dilakukan. Marsha bisa menjadi penghalang terbesar untuk misinya.
"Sial an! Kenapa harus terdengar oleh Marsha!" Gumamnya dengan menahan amarah. Kedua tangannya mengepal sebab gelisah dan bingung.
Satu jalan sudah terbuka. Karena jebakannya berhasil. Nafa pergi dan meninggalkan Ravi. Meski pada akhirnya Ravi mengetahui bahwa kepergian Nafa karena permainannya. Tetapi itu tidak jadi masalah besar. Namun sekarang, kepalanya harus kembali berpikir keras karena Nafa telah kembali.
Dari pintu balkon kamarnya, Marini melihat mobil Ravi baru saja tiba. Dia segera turun dan duduk di sofa ruang tengah menonton televisi. Menunggu Ravi masuk kedalam rumah.
Beberapa saat kemudian Ravi masuk dan langsung menuju kamarnya. Tak lama kemudian Ravi keluar lagi dari kamarnya dengan pakaian lebih santai tapi tetap rapi.
"Ravi, kamu mau kemana?" Tanyanya memandang heran pada Ravi yang terlihat lebih bahagia saat itu. Mungkinkah itu karena kembalinya Nafa?
__ADS_1
"Mau keluar?"
"Keluar kemana?" Masih tak puas dengan jawaban Ravi.
"Ma, aku bukan ABG yang setiap keluar harus mama tanya tempat dan tujuannya." Ravi menjawab malas pertanyaan ibunya. Kemudian melangkah pergi.
"Iya, maksud mama bukan begitu. Ada yang ingin mama bicarakan sama kamu." Serunya menghentikan langkah Ravi. Lalu berjalan mendekat ke arah Ravi.
"Mama mau bicara apa?" Ravi memandang ibunya malas lalu melirik pada jam di pergelangan tangannya.
"Tentang pertunangan kamu sama Marsha." Kata Marini kemudian.
"Mama ini apa-apaan sih! Aku sudah menikah, Ma! Mana mungkin aku bisa tunangan dengan wanita lain!" Pekik Ravi kesal. Heran dengan jalan pikiran ibunya. Bagaimana mungkin bisa membahas soal pertunangan sedangkan dia sudah menikah.
"Tapi Nafa sudah ninggalin kamu, buat apa kamu menunggu wanita yang tidak menginginkan kamu! Lagian, Marsha lebih baik dari pada Nafa!"
"Aku atau mama yang tidak menyukai Nafa! Dengar, Ma. Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkan Nafa. Bahkan matipun aku rela asal tetap bersama Nafa." Tukas Ravi kemudian melangkah pergi.
"Ravi! Tunggu Vi, mama belum selesai bicara!" Teriak Marini berusaha menghentikan langkah putranya. Namun, Ravi tak peduli dan tetap melangkah pergi.
__ADS_1