
"Maaf, tidak semoga mengabari. Malam itu aku harus berangkat ke keluar negeri. Ada kecelakaan kerja di sana. Pihak keluarga dan pemilik proyek meminta ganti rugi. Mereka tidak mau karena masalah itu pekerjaan terhenti. Sedangkan pekerja banyak yang terluka. Ada beberapa juga yang meninggal." Ujar Ravi menceritakan keadaannya saat itu.
"Astaga, kenapa bisa begitu? Lalu bagaimana sekarang? Apa urusanmu sudah selesai?" Nafa menatap Ravi dengan tatapan pias. Kasihan sekali laki-laki itu pasti sangat gelisah karena kejadian ini. "Tapi kenapa kamu kamu tidak memberi tahu aku. Setidaknya berkabar 'lah. Supaya aku tidak kha ...," Nafa menghentikan kalimatnya. Sebab senyum di bibir Ravi menyadarkan atas kalimat yang diucapkan.
"Teruskan, kenapa berhenti? Ka ... apa? Jangan buat aku penasaran."
"Sudahlah jangan di pikirin." Nafa memalingkan wajahnya sesaat kemudian kembali menatap Ravi. "Lalu sekarang bagaimana?" Tanyanya pelan.
"Sekarang kita makan, lalu pulang ke rumah. Aku sudah sangat rindu?" Bisik Ravi dengan mata balas menatap Nafa.
"Aku serius." Nafa mengangkat kedua alisnya. Memperlihatkan bahwa saat ini dia sedang bicara serius.
"Aku juga serius."
Nafa berdecak mendengar jawaban Ravi. Lalu menyandarkan punggungnya kebelakang dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Sayang, pulang lah. Aku sangat merindukanmu." Pinta Ravi memohon. Di saat seperti ini dia sangat membutuhkan kehadirannya Nafa yang selalu bisa mendamaikan hatinya.
Kini Nafa menatap Ravi, lalu tersenyum padanya, "Aku akan coba. Aku harap kamu mau bersabar untukku."
"Pasti," Ravi tersenyum lega. Akhirnya setelah sekian lama dia akan kembali bersama dengan cintanya. Separuh nyawa yang telah hilang kini akan kembali. Mengisi kekosongan dan kehampaan di dalam hatinya.
Setelah menghabiskan makanannya mereka memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Kini tawa kebahagiaan, memenuhi ruang kosong di dalam mobil. Sebuah ungkapan cinta dan gurauan penuh cinta lantang diucapakan dari bibir keduanya.
"Kapan aku bisa jemput kamu pulang ke rumah? Besok, atau malam ini saja?" Tanya Ravi memastikan. Dia sudah tidak sabar menjemput istrinya kembali ke dalam rumahnya.
"Tidak jangan sekarang. Mungkin hari Minggu."
__ADS_1
"Kenapa lama sekali? Tidak bisakah malam ini?" Tawar Ravi semoga saja Nafa berubah pikiran dan bersedia pulang ke rumah malam itu juga.
"Masih ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa ku tinggalkan." Nafa memandang Ravi sembari tersenyum. Seolah meminta pada Ravi untuk bersabar sebentar lagi.
"Huft, baiklah. Hubungi aku jika kamu berubah pikiran. Kapanpun kamu mau aku akan menjemput." Ucap Ravi dengan raut wajah yang berubah keruh.
"Baiklah, aku masuk dulu. Pulanglah, sampai jumpa besok." Nafa sudah memutar badannya dan siap keluar dari mobil.
"Tunggu!"
Tapi Nafa harus kembali berbalik karena Ravi menghentikannya.
Cup!
Sebuah kecupan singkat kini mendarat di bibir mungil Nafa. Membuat si pemilik bibir, terdiam mematung karena terkejut.
"Selamat malam." Ucap Ravi dengan senyum penuh cinta.
Setelah masuk ke dalam rumah, Nafa bersandar pada dau pintu yang dia tutup sambil memegangi dadanya. Kemudian mengusahakan bibir yang dikecup oleh Ravi.
"Ya tuhan ... Kenapa rasanya seperti ini. Ini buka pertama kali, tapi kenapa rasanya sangat berbeda?"
"Ehem! Ada yang lagi kasmaran nih?" Seloroh Ika membuat Nafa seketika menurunkan tangan dari bibirnya.
"Kenapa rumah ini, jadi penuh bunga-bunga, ya?" Ika mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Seolah di sana memang benar ada bunga-bunga seperti yang dia katakan.
Nafa tak menjawab, dia memilih masuk kedalam kamar dan mengunci pintunya.
__ADS_1
***
Pagi harinya, Ika menatap Nafa bingung. Seolah ada yang tidak biasa dari sahabatnya itu. Pagi itu, Nafa terlihat lebih segar dan penuh senyum.
"Fa, kamu nggak pa-pa 'kan?" Tanya Ika memastikan. Khawatir terjadi sesuatu yang tidak beres dengan sahabatnya itu.
"Nggak pa-pa, memang kenapa?" Jawab Nafa kemudian balik bertanya. Tatapi pandangannya terfokus pada sepotong roti yang tengah di olesi selai.
"Kamu benar-benar sudah baikan sam Ravi?" Tanya Ika lagi. Tapi kali ini nada suaranya di kurangi. Sementara kedua matanya menatap serius pada Nafa.
Namun, Nafa menjawabnya hanya dengan anggukan kepala. Lalu menggigit ujung roti yang sudah dia olesi dengan selai.
"Aku senang dengarnya. Tapi apa kamu siap menerima konsekuensinya?"
Kini kedua bola mata Nafa beralih menatap Ika.
"Konsekuensi apa maksudnya?" Sungguh dia tak mengerti dengan pertanyaan Ika. Kemarin -kemarin Ika yang bersemangat agar dia kembali pada Ravi. Tapi kenapa sekarang Ika justru berbalik arah?
"Jika kamu memutuskan untuk kembali beraktivitas Ravi, itu artinya kmu sudah siap untuk menghadapi ibunya dan juga Marsha. Ingat, Fa mereka adalah tembok kuat yang bisa memutuskan kamu dan Ravi untuk kedua kali." Papar Ika serius. Marini dan Marsha adalah musuh nyata yang bisa dengan mudah mengalahkan Nafa.
Namun terdiam, dia membenarkan semua ucapan Ika. Bahkan selama ini dia tak pernah memikirkan mereka. Dia hanya sibuk melupakan dan menghapus nama Ravi dalam ingatannya.
"Aku hanya khawatir kamu akan kembali kalah. Karena kamu tidak punya kekuatan untuk mengalahkan mereka. Selama kedua orang itu masih ada di sekitar Ravi, kamu akan kalah." Imbuh Ika mengingatkan. Dia hanya tak tega melihat penderitaan dan ancaman yang selama ini di dapatnya dari Marini.
"Kamu benar, aku sibuk menata hati untuk kembali pada Ravi. Tapi aku terlupa, bahwa kembali pada Ravi, itu artinya aku harus siap mencabik macan yang bersembunyi di dalam kandang." Ucap Nafa dengan pandangan menatap jauh kedepan. Sementara nafasnya memburu sebab teringat akan ancaman Marini padanya.
"Marini dan Marsha, mereka sangat licik. mereka bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan tujuan mereka."
__ADS_1
"Iya, aku mengerti. Aku akan pikiran lagi." Nafa mengangguk paham. Sebelum benar-benar kembali, dia harus mempersiapkan hatinya terlebih dahulu.