Penyesalan Suami : Pecah Seribu

Penyesalan Suami : Pecah Seribu
Bab 24. Amarah Fandi


__ADS_3

Nafa hanya bisa terdiam menatap kedua laki-laki yang saat ini saling melempar tatapan tajam penuh arti. Tengah hari, tepatnya saat istirahat jam makan siang, Nafa meminta Ravi mengantarkan ke rumah sewa untuk mengambil beberapa baju dan barang miliknya yang akan di bawa pulang ke rumah.


Tanpa penolakan dan menunggu lama, Ravi mengiyakan dan langsung berdiri meninggalkan layar komputer yang sejak tadi, di tatapnya.


"Tapi, itu pekerjaan kamu bagaimana?" Nafa menatap heran. Pasalnya sejak tadi Ravi sangat serius. Tapi saat Nafa mengatakan akan mengambil barang di rumah sewa, Ravi langsung berdiri untuk mengantarnya.


Namun tak di sangka, di teras rumah sewa Nafa ada Fandi, duduk seorang diri sembari memainkan ponsel. Nafa pun segera menghampiri. Betapa terkejutnya, Nafa saat mengetahui bahwa Fandi belum pulang sejak dia mengirim chat pada Nafa sekitar pukul sepuluh siang tadi.


"Jadi, siapa yang sakit?" Tanya Fandi memecah ketegangan dia antara dia dan Ravi. Nafa menundukkan kepala. Dia merasa tak enak hati karena telah berbohong pada Fandi.


"Nafa, aku tanya, siapa yang sakit?" Lagi, Fandi menanyakan hal yang sama. Namun lagi-lagi Nafa tak menjawab. Hanya dua bola matanya yang memberi isyarat dengan menatap pias.


"Padahal, aku sangat mengkhawatirkan mu," Fandi pun tersenyum sinis. Kemudian kepalanya menggeleng pelan. Membuat Nafa bagai terhimpit rasa bersalah karena kebohongannya. Yang bisa Nafa lakukan saat itu hanya menelan ludah perlahan.


"Ternyata aku salah, telah mengkhawatirkan mu." Lanjut Fandi dengan membuang muka ke samping.

__ADS_1


"Fandi, maafkan aku. Semalam, aku memang tidak enak badan. Dan sejak semalam, aku juga tidak tidur di rumah." Jawab Nafa pelan. Dia harus berbohong lagi, agar tidak semakin mengecewakan Fandi. "Bahkan, aku juga tidak semangat mengabari Ika."


"Kamu pikir aku percaya?" Fandi menatap Nafa dengan kedua alis terangkat.


"Sungguh, aku benar-benar tidak sehat. Kamu tenang saja, aku akan kembali bekerja besok." Nafa menjadi serba salah. Dia memang tidak memiliki ketertarikan pada Fandi. Tapi karena Fandi 'lah dia bisa sampai pada titik seperti sekarang ini. Sebab itulah, dia merasa sangat bersalah.


Melihat hal itu, Ravi tidak bisa diam saja. Dia meraih tangan Nafa dan menggenggamnya. "Tak penting, siapa yang sakit. Yang jelas itu buka urusan kamu." Ucapannya tetap dengan tatapan tajam. "Permisi, kami mau masuk." Lanjutnya sambil mengarahkan telunjuk ke depan. Sebab saat itu posisi berdiri Fandi menutup jalan masuk ke dalam rumah sewa.


Fandi menoleh ke samping sejenak, untuk melihat dimana posisinya saat itu. Lalu kembali tersenyum sinis dan akhirnya menyingkir.


"Aku pikir, sebaiknya kamu berhenti bekerja. Aku nggak mau kamu berurusan lagi dengan laki-laki itu." Ucap Ravi ketika mobil Fandi sudah terdengar pergi.


"Aku nggak bisa, aku harus tetap bekerja dengan Fandi." Nafa menolak, dia merasa otak dan tenaga yang dia berikan selama ini belum cukup untuk mengganti kebaikan Fandi padanya.


"Kenapa? Ada sesuatu yang spesial di antara kalian?" Ravi menatap curiga.

__ADS_1


"Ravi, nggak ada sesuatu yang spesial. Hanya saja untuk saat ini aku belum bisa meninggalkan pekerjaanku."


"Kenapa? Kalau kamu mau kamu bisa bekerja di kantor aku. Aku akan berikan posisi yang sama." Ravi tak bisa menerima alasan Nafa. Apapun akan dia lakukan untuk membuat Nafa benar-benar menjadi miliknya lagi.


"Masalahnya tidak se sederhana itu dan ...," Nafa menghentikan kalimatnya. Cukup rumit mengatakan yang sebenarnya terjadi pada Ravi. Dan juga dia belum benar-benar siap mengatakan semuanya. "Sudahlah, aku tidak ingin bicarakan hal itu. Bantu aku mengemasi barang-barang sekarang." Tukas Nafa kemudian berjalan menuju kamarnya.


***


"Desak perusahaan Mahardika untuk mendatangkan unit yang kita mau. Lakukan dengan cepat dan hati-hati. Jangan sampai. terjadi kesalahan!" Perintah Fandi pada seseorang melalui telepon. Lalu kepalanya mengangguk pelan mendengar penjelasan dari orang kepercayaan melalui telepon.


"Kita mulai dari Ravi Mahardika. Selanjutnya, Marini, wanita licik yang tertawa di atas tangisan wanita lain." Ucapa Fandi lagi dengan tatapan tajam lurus ke depan. "Setelah mereka hancur, baru kita akan lakukan pada Iwan Mahardika. Buat dia menangis darah sampa memohon ampunan padaku." Lanjutnya dengan amarah yang berkobar.


"Jika Nafa sudah tidak bisa diandalkan. Maka aku sendiri yang harus turun tangan. Mahardika grup, tunggu kehancuranmu. Aku akan membuatmu hancur. Bahkan lebih hancur dari hati seorang wanita pernah kau hancurkan dulu." Gumam Fandi sembari mengepalkan tangan yang berada dia atas kemudi.


__ADS_1


__ADS_2