
"Aku tidak percaya kamu yang melakukan ini." Fandi menatap Nafa, surat pengunduran diri di letakkan di atas meja kerjanya. Tatapannya semakin tajam dan menuntut. Seolah dia sedang membaca jawaban hanya dari kedua bola mata Nafa yang juga menatapnya.
"Kenapa? Ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?" Tanya Fandi, kali ini dahinya mengernyit heran.
"Tidak seperti itu, hanya saja saat ini aku ingin memperbaiki hubungan dengan Ravi. Emm, salah satunya dengan kembali menjadi istrinya." Nafa tersenyum membalas tatapan Fandi. Pada akhirnya, dia juga mengikuti keinginan Ravi. Tidak ada gunanya memberi tahu Fandi bahwa surat itu bukan darinya. Toh pada kenyataannya dia sudah kembali bersama Ravi.
"Menjadi istri yang mudah di tindas?" Fandi menatap Nafa dengan senyum mengejek. "Berdiam diri di dalam rumah. Menyambut suami pulang kerja, dan menyiapkan semua kebutuhannya. Istri seperti itu yang kamu maksud?" Imbuh Fandi dengan kalimat pedas. Bermaksud mengingatkan akan luka yang pernah Nafa dapat dengan menjadi istri rumahan. Meski begitu Nafa tak menjawab, dia hanya tersenyum menanggapi semua ucapan Fandi.
"Bisa jadi. Tapi mungkin kali ini sedikit berbeda." Jawab Nafa tenang. Berusaha tak terpengaruh oleh pancingan Fandi.
"Terimakasih, atas semua bantuan yang kamu berikan selama ini. Tanpa kamu, aku tidak akan sekuat ini." Nafa mengangguk sopan. "Untuk pekerjaan yang belum sempat aku selesaikan, kamu tidak usah khawatir. Aku akan segera menyelesaikannya. Sekali lagi terimakasih. Aku permisi." Kemudian berdiri memandang Fandi dengan senyum ramah.
__ADS_1
"Apapun keadaannya, aku berharap semoga kita tetap menjadi teman baik." Nafa mengulurkan tangannya untuk berjabat. Namun hingga beberapa detik berjalan Fandi tak kunjung menerima uluran tangannya. Nafa masih mempertahankan tangannya menggantung di udara. Hingga akhirnya Fandi bangkit dari tempat duduknya dan menerima uluran tangan Nafa.
"Jaga kesehatan, jika suatu saat kita bertemu di lain tempat, jangan segan untuk menyapa. Karena kita adalah teman baik." Tukas Nafa kemudian melangkah pergi.
Sementara itu, Ravi sudah menunggu Nafa di depan gedung kantor. Tak puas mendengar jawaban Nafa melalui telepon, Ravi bergegas pergi menuju kantor Nafa. Ternyata benar saat itu, Nafa yang sedang melangkah keluar dari lobby gedung, seketika berhenti dan menatap Ravi dengan terkejut.
Ravi yang saat itu berdiri dengan menyandar pada badan mobil, langsung melangkah mendekat ke arah Nafa.
"Sudah selesai?" Namun, Ravi justeru melemparkan pertanyaan balik pada Nafa. "Kita pulang sekarang." Ajaknya yang langsung mendapat anggukan pelan dari Nafa.
Tangan Nafa digenggam Ravi. Genggamannya sangat erat seolah takut jika nafa akan lepas dan lari darinya. Pintu mobil dibukakan dan Nafa segera masuk. Namun dalam hati Nafa gelisah. Diamnya Ravi justeru menjadi sebuah tanda tanya besar untuknya.
__ADS_1
Keheningan menemani perjalanan Ravi dan Nafa sepanjang perjalanan pulang kerumah. Begitu mobil telah berhenti di depan pagar rumah, Ravi langsung turun dan berjalan kearah kursi penumpang membukakan pintu untuk Nafa.
Sementara Nafa, justru memandang Ravi heran. Sudah biasa Ravi membukakan pintu untuknya. Tetapi kebisuan Ravi yang membuatnya tidak bisa bersikap biasa saja.
Perlahan namun pasti, kaki Nafa melangkah keluar dan pintu mobil pun ditutup oleh Ravi. Lalu Ravi berjalan masuk kedalam rumah mendahului Nafa.
Melihat semua itu Nafa tidak bisa lagi menahan pertanyaan yang sejak tadi berada di dalam kepalanya.
"Mas, kamu cemburu?" Teriak Nafa, dan langsung berhasil menghentikan langkah Ravi.
__ADS_1