
"Mas, kamu nggak marah 'kan?" Nafa mendekati Ravi lalu duduk di sebelahnya dengan hati-hati. Sebetulnya sudah sejak tadi dia ingin menanyakan hal itu. Tetapi urung karena melihat Ravi begitu serius menatap layar laptop sejak tadi.
"Mas, aku benar-benar tidak sengaja bertemu Fandi. Aku pikir tidak apa-apa menerima tawarannya. Toh, memang hanya kebetulan." Lagi, Nafa mengulang penjelasannya.
Ravi menghela nafas panjang kemudian menutup layar laptop di pangkuannya lalu menoleh pada Nafa sembari tersenyum.
"Aku bisa mengerti. Tapi lain kali aku tidak janji akan bisa mengerti." Ravi memandang Nafa serius. Kemudian bangkit dan berpindah ke tempat tidur. Laptop dia letakkan di atas nakas lalu membetulkan posisi tidur dan memejamkan mata.
Hal itu membuat hati kecil Nafa bertanya-tanya. Apakah Ravi baik-baik saja. Apa ada sesuatu yang mengganggunya. Sebab sikap Ravi pada Nafa terasa begitu dingin.
Dengan hati gelisah, Nafa pun bangkit menyusul Ravi berbaring di tempat tidur. Dia menatap lekat wajah Ravi yang saat ini sedang memejamkan mata. Semakin dia menatap hatinya semakin gelisah. Raut wajah Ravi terlihat berbeda. Namun, Nafa berpikir saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya lebih pada Ravi. Dia harus bersabar demi mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya, Nafa pun ikut memejamkan mata.
Rasanya belum lama Nafa terlelap. Tetap dia harus rela memutus mimpi yang indah saat itu karena mendengar suara seseorang yang sedang membentak.
Suaranya memang tidak begitu keras tapi cukup keras untuk membangunkan orang yang sedang terlelap.
__ADS_1
Nafa memicingkan mata dan sedikit mengangkat tubuhnya bertumpu pada sebelah siku demi mengetahui pemilik suara yang telah mengganggu tidurnya.
Sedetik kemudian alisnya bertaut saat melihat sekelebat bayangan tubuh Ravi berdiri di balkon kamar dari balik jendela kamarnya.
Nafa pun bangkit dan berjalan kearah balkon. Namun, dia hanya diam berdiri menyandar di salah satu sisi bingkai pintu balkon. Memperhatikan Ravi yang belum menyadari keberadaannya. Sebab posisi Ravi yang membelakangi pintu.
"Nafa, sejak kapan kamu di situ!" Tanya Ravi terkejut saat membalikkan badan dan langsung mendapati Nafa menyandar di bingkai pintu depan kedua tangan terlipat ke depan dada.
Nafa tersenyum, kemudian melepaskan lipatan tangannya dan berjalan mendekat ke arah Ravi.
"Bukan siapa-siapa, hanya Daniel." Jawab Ravi jujur. Memang benar Daniel yang menghubunginya.
Namun, nampaknya Nafa belum puas dengan jawaban yang Ravi berikan. Dia masih menatap Ravi. Dua bola matanya seakan mengunci bola mata Ravi.
"Kenapa? Kamu tidak percaya?" Ravi belas menatap Nafa. Dia tahu Nafa meragukannya. Lalu Ravi menekan tombol power pada ponselnya dan menunjukkan nama kontak yang baru saja menghubunginya.
__ADS_1
"Daniel 'kan?" Ucap Ravi menyakinkan.
Nafa pun tersenyum kemudian mengangguk.
"Boleh tahu, kenapa Daniel menghubungi tengah malam seperti ini. Apa ada sesuatu yang serius?" Bukti yang Ravi tunjukkan belum cukup membuat hati Nafa lega.
"Yang pasti hanya urusan pekerjaan, tidak ada yang lain." Jawab Ravi sambil merangkul bahu Nafa dan berjalan masuk kedalam kamar.
"Iya tahu, tapi pekerjaan penting apa sampai Daniel tidak bisa menunggu sampai besok pagi." Nafa memaksa menghentikan langkah. Lalu menoleh pada Ravi.
"Kamu cemburu sama Daniel?" Ravi mengerutkan dahinya. Membuat Nafa langsung melayangkan sebuah pukulan di lengan Ravi.
"Aku serius!" Pekik Nafa kesal. Namun Ravi justeru tertawa dan langsung mengangkat tubuh Nafa. Membawanya ke tempat tidur.
__ADS_1