Penyesalan Suami : Pecah Seribu

Penyesalan Suami : Pecah Seribu
Bab 23. Ancaman Marsha


__ADS_3

Nafa membuang nafas pelan. Dua jam duduk terdiam membuatnya bosan. Matanya melirik ke arah Ravi yang masih terlihat tenang menatap layar komputernya. Setelah menerima telepon setengah jam lalu, Ravi sama sekali tak bicara. Pandangannya fokus menatap layar komputer sementara jari tangannya asyik menari-nari dia atas keyboardnya.


Mungkinkah Ravi melupakan keberadaan Nafa di sana?


Kembali Nafa, menghela nafas yang kedua. Lalu meraih ponsel dalam tas di letakkan di atas meja sofa ruang kerja Ravi. Tak jauh berbeda, tidak ada sesuatu yang menarik di dalamnya. Akhirnya Nafa meletakkan kembali ponselnya lalu menyandarkan punggung kebelakang dengan tangan terlipat ke depan dada.


Mendengar suara dengusan Nafa, Ravi mengalihkan pandangan dari layar komputer untuk melihat Nafa. Bibirnya tersenyum ketika melihat wajah muram Nafa dengan bibir yang mengerucut panjang. Kemudian Ravi berdiri dan berjalan menghampiri Nafa.


"Kenapa cemberut?" Tanya Ravi sembari memandang wajah muram istrinya itu.


"Kayaknya kamu sibuk banget, aku pulang saja ya? Bosan kalau cuma duduk diam di sini." Nafa balas memandang Ravi. Memperlihatkan wajah yang benar-benar bosan.

__ADS_1


Ravi tersenyum, lalu mengusap pipi Nafa lembut. "Tunggu sebentar lagi aku selesaikan pekerjaan sebentar, setelah itu kita pulang."


"Enggak gitu maksudnya, kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu biar aku pulang sendiri saja." Nafa merasa tidak enak jika Ravi harus meninggalkan pekerjaan karena dirinya.


"Tunggu sebentar lagi, ya?" Namun Ravi tak menghiraukan larangannya. Kemudian bangkit dan kembali ke meja kerjanya setelah sempat mencium ujung kepala Nafa.


Nafa pasrah dan kembali terdiam menunggu Ravi yang entah kapan akan menyelesaikan pekerjaannya. Untuk menghilangkan rasa bosannya, Nafa memainkan ponsel dan langsung mendapati sebuah chat yang baru saja masuk.


'Apa kamu sedang tidur? Aku menunggumu di depan gerbang.'


***

__ADS_1


Di tempat lain, Marsha menatap Marini kesal. Karena merasa Marini telah mengingkari janji. Jika Marini tidak segera menepati janji untuk menikahkannya dengan Ravi, dia mengancam akan membocorkan rahasia Marini ke publik. Jika itu benar-benar terjadi, bisa di pastikan publik akan geger dan usaha keluarga Mahardika akan hancur.


"Kamu sabar dong ... Tante juga lagi mikirin caranya. Jangan buat Tante makin pusing." Ucap Marini ketika Marsha mendesak dengan ancaman.


"Lima tahun aku menunggu, sampai sekarang tidak ada hasilnya. Tante ini serius nggak sih!" Marsha mengangkat lima jarinya. Memperlihatkan lamanya penantian yang dianggap sia-sia.


"Iya, Tante tahu. Tante 'kan juga sudah usahain, kamu lihat sendiri 'kan usaha Tante?" Marini tak terima Marsha meremehkannya. Berbagai cara sudah siap lakukan untuk membuat Ravi jatuh cinta pada Marsha. Jika Ravi tidak bisa jatuh cinta pada Marsha itu sudah di luar kendalinya.


"Oke, ini kesempatan terakhir buat Tante. Aku nggak mau dengar ada alasan lagi gagal menikah dengan Ravi. Jika sampai itu terjadi, aku pastikan rahasia Tante akan tersebar ke publik. Dan yang paling penting, aku adalah orang pertama yang akan melihat Tante menjadi gelandangan." Ancam Marsha kemudian pergi. Sementara Marini hanya diam menatap punggung Marsha yang semakin menjauh.


"Brengsek! kenapa aku bisa takut dengan ancaman anak ingusan itu!" Gumam Marini sambil berjalan mondar-mandir. Sepanjang hidup, dia tidak pernah takut dengan siapapun. Apalagi hanya dengan sebuah ancaman. Tapi kali ini berbeda, dia benar-benar khawatir Marsha akan benar-benar membocorkan rahasianya.

__ADS_1


"Marsha adalah ancaman. Dia tidak bisa di biarkan begitu saja. Yang harus aku lakukan sekarang adalah menyingkirkan Marsha, sebelum dia menghancurkan semua rencanaku." Itulah yang dipikirkan Marini saat ini. Kemudian menghubungi orang kepercayaan untuk menemuinya di tempat yang sudah di sebutkan.



__ADS_2