
Malam harinya, tanpa persetujuan Nafa, Ravi membuatkan surat pengunduran diri yang langsung dikirim melalui seseorang ke kantor tempat Nafa bekerja. Ravi tak ingin Nafa berurusan dengan laki-laki manapun. Meski dengan atasannya.
Bersikap seperti biasa, itulah yang saat ini sedang Ravi lakukan. Membiarkan Nafa berdandan dan bersiap untuk pergi bekerja.
"Loh, Mas, inikan jalan ke kantor kamu?" Nafa menoleh pada Ravi, memandangnya heran. Bukan seharusnya Ravi mengantarnya terlebih dahulu? Namun Ravi hanya menjawab pertanyaan Nafa dengan tersenyum.
Nafa mulai tak tenang. Sebab jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Sementara perjalanan menuju tempatnya bekerja masih membutuhkan waktu kurang lebih lima belas menit lagi.
"Mas, aku bisa terlambat. Seharusnya, kamu ngomong kalau nggak bisa nganter aku. Aku 'kan bisa naik taksi," sungguh Nafa benar-benar kesal saat itu. Tapi dia hanya bisa mengeluh dalam hati.
"Mulai hari ini, kamu nggak perlu lagi bekerja. Aku sudah kirimkan surat pengunduran diri ke kantor kamu." Jawab Ravi tanpa menoleh. Pandangannya tetap menghadap lurus ke depan.
"Maksudnya bagaimana? Surat pengunduran diri yang bagaimana?" Nafa masih belum puas mendengar jawaban Ravi. Dia ingin Ravi menjelaskan yang lebih lagi padanya.
"Aku sudah kirimkan surat pengunduran diri kamu ke kantor kamu. Itu artinya, kamu tidak perlu lagi datang ke kantor itu. Cukup temani aku dan tunggu aku pulang seperti dulu." Ujar Ravi sembari menoleh sejenak ke arah Nafa. Lalu kembali memfokuskan pandangannya ke jalan.
"Ya nggak bisa gitu dong. Meski aku sudah kembali, bukan berarti kamu bisa seenaknya seperti ini. Hargai semua urusanku." Pekik Nafa tak terima. Bukan tidak mau menurut tetapi Nafa masih punya banyak tanggung jawab di kantornya. Apalagi dia masih belum merasa cukup membalas budi pada Fandi.
__ADS_1
"Sudah cukup, aku nggak mau dengar apa-apa lagi. Sekarang aku hanya mau kamu menemani aku. Terlepas dari tanggung jawab kamu di perusahaan itu, aku yakin Fandi sudah bisa mengatasinya." Tukas Ravi bersamaan dengan mobil yang berbelok masuk ke area parkir kantor. Nafa hanya bisa menghela nafas pasrah. Kemudian mengikuti Ravi berjalan menuju ruangannya.
Belum lama, Nafa duduk di sofa ruangan Ravi, Fandi menelponnya. Dia tahu pasti Fandi akan mempertanyakan surat pengunduran diri yang dikirim Ravi tanpa sepengetahuannya.
Nafa melirik sekilas ke arah Ravi, dilihatnya suaminya itu sedang mengobrol melalui telepon sembari menatap layar komputer. Barulah Nafa menjawab telepon dari Fandi.
'Benar surat ini dari kamu?' Tanya Fandi melalui telepon.
"Emm, iya." Hanya itu yang mampu Nafa ucapkan.
'Aku tak percaya! Nafa yang aku kenal bukanlah seorang pengecut. Dia berani menghadapi siapapun yang akan menghalangi jalannya. Dia berani menampakkan diri meski di tengah-tengah badai.' Ucap Fandi sembari tersenyum sinis.
"Maafkan aku. Itu keputusanku, aku sudah pikiran baik-baik." Jawab Nafa pada akhirnya.
'Baiklah jika memang benar seperti itu, aku mintalah kamu datang ke kantor sekarang juga. Kita selesaikan kesepakatan kerjasama kita.' Tukas Fandi kemudian mengakhiri sambungan telepon secara sepihak.
Nafa menghela nafas panjang, begitu sambungan telepon terputus. Sungguh saat itu, dia sangat bingung. Antara pergi atau tetap tinggal.
__ADS_1
Namun, karena sebuah tanggung jawab, Nafa memutuskan untuk pergi. Dia bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekat pada Ravi.
"Aku pergi dulu, ada urusan penting." Tanpa menunggu jawaban, Nafa pergi dengan langkah setengah berlari. Khawatir Ravi akan berubah pikiran dan menghentikannya. Pasalnya Ravi masih mengobrol serius dengan seseorang saat dia mengatakan akan pergi.
Benar saja, begitu menyadarinya, Ravi memanggil-manggil Nafa dan bahkan mengejarnya. Namun terlambat, saat Ravi baru keluar dari lobby kantor Nafa sudah masuk kedalam taksi yang langsung melaju.
Kemudian Ravi kembali ke ruangannya. Diambilnya ponsel yang dia tinggalkan di atas meja lalu menghubungi Nafa.
'Ya,' jawab Nafa melalui telepon.
"Mau kemana?" Tanyanya, dengan suara tergesa.
'Aku keluar sebentar, ada urusan.'
"Kemana?" Desak Ravi ingin tahu.
'Ketemu teman. Sudah dulu ya, nanti aku telpon lagi.' Jawab Nafa kemudian langsung mematikan sambungan telepon.
__ADS_1