Penyesalan Suami : Pecah Seribu

Penyesalan Suami : Pecah Seribu
Bab 22. Nyonya rumah


__ADS_3

"Hari ini aku izin nggak masuk. Tiba-tiba badanku meriang." Nafa menelpon Fandi. Dia berbohong untuk meminta izin tidak masuk kerja.


"Kamu sakit? Aku anterin ke dokter, ya?" Tawar Fandi melalui telepon.


"Tidak, tidak usah. Cuma meriang saja, istirahat sebentar pasti sudah sembuh. Kamu tidak usah khawatir." Ucapa Nafa lagi. Bisa bahaya kalau Fandi sampai datang ke rumah sewanya. Sebab kenyataannya saat ini Nafa berada di rumah Ravi dan sedang bersama Ravi.


"Ya, sudah kalau begitu. Istirahatlah, hubungi aku jika terjadi sesuatu." Ucap Fandi pada akhirnya. Kemudian sambungan telepon terputus.


Nafa menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang. Dia kembali menatap layar ponselnya lalu mencari nama kontak Ika untuk memberi tahu keberadaannya. Semalam Nafa tak sempat memberi kabar pada Ika, karena tak sempat memegang ponsel. Ravi tak membiarkan dirinya berpaling sedikitpun.


"Ika, kamu sudah berangkat? Maaf ya semalam aku nggak sempat ngabarin, nggak bisa pegang ponsel." Ucap Nafa setelah tersambung dengan Ika.


"Iya, aku ngerti kok ... kalian lagi nggak ingin di ganggu," goda Ika dari seberang telpon. Dia sampai menutup mulutnya dengan tangan, karena tak ingin tawanya di dengar oleh Nafa.


"Ck, ngomong apa sih!" Nafa kesal dia tahu saat ini Ika sedang menertawainya. Namun, dia tak ingin Ika tahu bahwa saat ini dia juga sedang menahan senyum. "Ya sudah, aku tutup dulu ya telponnya,"


"Iya, baik-baik di sana. Aku ikutan seneng dengernya." Ucapa Ika sebelum mengakhiri sambungan telepon.


Nafa menghela nafas lega setelah panggilan telepon berakhir. Entah lega karena apa. Yang jelas saat ini hatinya terasa lebih ringan tanpa beban.


Ting tong.


Nafa mengerutkan dahi saat mendengar suara bel pintu rumah. Dia bertanya dalam hati, siapa yang datang kerumahnya pagi-pagi seperti ini. Sementara Ravi seperti masih lama berada di kamar mandi.


Ting tong.


Nafa bangkit setelah bel pintu yang kedua berbunyi. Sedetik kemudian, dia harus berjalan setengah berlari karena bel pintu terus-menerus di tekan.


Apa ada sesuatu yang sangat penting sampai-sampai orang itu tidak sabar untuk dibukakan pintu? Pertanyaan itulah yang ada di dalam kepala Nafa sejak dia menuruni anak tangga.


"Mau cari si-a-pa," Pertanyaan Nafa berubah terbata begitu membuka pintu. Bola matanya berhenti tak bergerak, saat melihat Marini dan Marsha berdiri di depan pintu.

__ADS_1


Begitu juga dengan Marini dan Marsha. Keduanya sampai membelalakkan mata. Terkejut karena melihat Nafa.


"K-kamu ngapain di sini?" Tanya Marini kemudian.


Nafa langsung tersenyum, lalu meraih tangan kanan ibu mertuanya untuk dicium.


"Mama, apa kabar?"


Belum sempet bibir Nafa mencium punggung tangan Marini, Marini sudah menarik tangannya. Kemudian melipat kedua tangannya di dada dan mengangkat dagu dengan angkuhnya.


"Di mana Ravi!" Tanya Marini ketus. Benar-benar memperlihatkan bahwa dia tidak suka dengan kehadiran Nafa di sana.


"Ada, masih di kamar mandi. Si ...,"


Belum sempat Nafa menyelesaikan kalimatnya. Marini sudah melangkah lebih dulu masuk ke dalam rumah. Nafa tersenyum, dan berusaha untuk tenang.


"Aku belum nyuruh kamu masuk. Kenapa kamu masuk!" Tatapan Nafa berubah berang ketika Marsha mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


"Dia datang bersama ku! Lagi pula ini rumah putraku, kamu tidak berhak memutuskan siapa yang boleh dan tidak masuk kedalam rumah ini!" Marini langsung menyahut. Tatapannya tak kalah berang tertuju pada Nafa.


Sementara Marsha, hanya bisa mengeratkan giginya dengan kedua tangan mengepal karena kesal.


"Jangan, sombong kamu! Bahkan Marsha lebih baik menjadi nyonya rumah di banding kamu! Wanita tidak tahu diri!"


Untuk yang ke dua kalinya, Nafa memilih diam. Membuat Marsha, yang masih berada di ambang pintu langsung melangkah masuk dengan tersenyum mengejek ke arah Nafa.


"Panggil Ravi, katakan Mama menunggunya!"


"Ada apa ini!" Sahut Ravi dengan suara setengah berteriak. Dia turun dari tangga dengan hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggang. Berjalan mendekat ke arah tiga wanita yang saat ini sedang terlibat adu mulut.


"Ravi, kenapa kamu tidak pulang, Sayang? Sampai larut Mama dan Marsha nunggu kamu." Marini menghampiri putranya, merebut perhatiannya.

__ADS_1


"Buat apa Mama, nunggu aku? Aku bukan anak kecil. Mama tidak perlu khawatir lagi." Ravi melirik sekilas ke arah ibunya.


"Kamu ini bagaimana, 'kita kan mau bahas pertunangan kamu sama Marsha."


"Mama, ini apa-apaan sih! Sudah aku bilang berkali-kali nggak usah sibuk ngurusin hidup aku. Lagi pula Ravi sudah punya Nafa. Dan sampai kapanpun, Ravi tidak akan menceraikan Nafa!" Ravi harus berbicara dengan suara keras. Dia lelah terus mengingatkan ibunya untuk tidak mencampuri urusan pribadinya.


"Kamu berani ya sama Mama. Ini pasti karena pengaruh dari wanita itu." Tuduh Marini dengan mengarahkan telunjuk pada Nafa lagi.


"Sudah cukup, sekarang mama pulang. Dan jangan pernah ikut campur dalam urusan rumah tangga Ravi. Ravi sudah bahagia bersama Nafa." Ravi menatap mata ibunya. Memberi pengertian agar tidak lagi berusaha memisahkan diri dengan Nafa. "Mama lihat, kami sudah bahagia. Mama tidak perlu lagi sibuk mencarikan kebahagiaan untuk Ravi." Ucap Ravi sambil berjalan mendekat ke arah Nafa lalu merangkul bahu Nafa. Membuat Marini melirik kesal ke arahnya.


"Mama, cuma mau ngingetin kamu. Dia wanita buruk, kamu tidak akan pernah bahagia bersamanya." Marini masih tidak terima dan mencari cara untuk membuat Ravi kembali tunduk pada perintahnya.


"Sudahlah, sekarang mama pulang. Papa mencari mama di rumah." Tukas Ravi sembari tersenyum. Sementara sebelah tangannya dibentangkan mengarah pada pintu rumah. Bermaksud mengusir ibunya serta Marsha.


Tanpa berkata apa-apa, akhirnya Marini melangkah pergi di ikuti oleh Marsha yang berjalan di belakangnya.


Hingga beberapa menit setelah kepergian Marini dan Marsha, Ravi dan Nafa masih berdiri di sana. Keduanya diam dengan sebelah tangan Ravi masih berada di pundak Nafa.


"Apa?" Tanya Ravi dengan menaikkan kedua alisnya karena mendapat tatapan tak biasa dari istrinya.


"Mau pamer?" Nafa belas bertanya, suara tajam mengintimidasi.


"Pamer apa?" Ravi bertanya lagi, dia tak mengerti maksud Nafa.


"Sengaja 'kan, keluar nggak pake baju. Biar tu perempuan lihat terus tergoda!" Kesal Nafa sembari mengarahkan dagu keluar. Lalu melipat kedua tangan di depan dada dan membuang muka. Namun, Ravi justeru tertawa sambil geleng-geleng kepala.


"Kamu cemburu?"


"Siapa yang cemburu, nggak usah ge er." Jawab Nafa dengan bibir mengerucut panjang. "Kenapa ketawa!" Pekiknya yang bertambah kesal.


Kini Ravi tersenyum kemudian menarik Nafa ke dalam pelukannya. Lalu mencium ujung kepalanya Nafa lama.

__ADS_1


"Aku bahagia, akhirnya kamu kembali padaku. Terimakasih telah memberiku kesempatan yang sangat berharga ini. Aku mencintaimu,"



__ADS_2