Penyesalan Suami : Pecah Seribu

Penyesalan Suami : Pecah Seribu
Bab 16. Bukan cuma rindu yang berat


__ADS_3

"Perasaan dari tadi pagi ngelamun terus, ada apa sih?" Seloroh Ika yang baru saja masuk ke dalam rumah dan langsung mendapati Nafa duduk di sofa dengan menyangga dagunya menggunakan kedua lutut. Nafa melirik sekilas, lalu menurunkan kakinya untuk berbagi tempat dengan Ika.


"Baru pulang?" Pertanyaan Ika di jawab dengan pertanyaan. Berusaha mengalihkan pertanyaan Ika yang tak di jawabnya.


"Beberapa hari ini lembur, lumayanlah dapat tambahan." Jawab Ika sembari tersenyum. Bagi perantauan seperti dirinya upah lembur sangat berarti. Meski tak seberapa, tapi cukup untuk menambah saldo dalam tabungannya.


"Ada masalah?" Tanya Ika kemudian. Namun langsung mendapat gelengan kepala dari Nafa. "Lalu?" Kemudian dahinya berkerut bingung. Membuat Nafa mendengus sambil menundukkan kepalanya lesu.


"Lagi ngerasa jenuh aja. Nggak tahu mau ngapain. Nggak tahu, kaya pengen di apain." Nafa menjawab tak tentu. Namun, jawabannya justeru membuat Ika menahan senyum sambil geleng-geleng kepala.


"Pengennya di telepon sama mas Ravi, terus di jemput di ajak jalan deh," goda Ika, sambil membayangkan sesuatu yang di ucapkan. Membuat Nafa seketika melotot tajam kearahnya.


"Ish! Apaan sih! Nggak banget deh!" Nafa menepis persepsi Ika. Namun, seandainya benar terjadi .... Duh, kenapa jadi ngelantur sih. Seandainya benar ... apa dia akan pergi?


Nafa segera menepis monolognya. Tak ingin berangan-angan terlalu jauh. Khawatir akan kecewa seperti tadi pagi.


Oh, ya! Tadi pagi kenapa Ravi tidak menjemput? Apa dia masih marah dengan kejadian kemarin malam. Apa dia benar-benar keterlaluan sampai Ravi tidak menjemputnya tadi pagi.


"Ehem! Malah ngelamun," Ika memutuskan lamunan Nafa. Membuat nafa cepat-cepat menegakkan duduknya lalu menoleh pada Ika.


"Siapa yang ngelamun sih?" Kata Nafa dengan suara gugup. Sementara bibir di tarik agar tersenyum lebar. Tak mau Ika tahu perasaan hati yang sebenarnya.


Malam itu pun berlalu dengan rasa gelisah juga rindu. Rindu? Benarkah Nafa sedang rindu. Bisa saja, sebab hingga menjelang pagi, dia belum bisa memejamkan mata. Kepala terus berputar-putar memikirkan di mana Ravi berada. Dan kenapa laki-laki itu tidak menjemputnya.

__ADS_1


Pagi hari, seperti biasanya Nafa duduk di sofa ruang tamu. Sebenarnya dia sedang menunggu Ravi, tapi beralasan bangun kepagian agar Ika tak bertanya macam-macam. Namun, nyatanya di hari kedua Ravi tidak datang menjemputnya. Sungguh saat ini hatinya sangat gelisah. Apakah dia baik-baik saja? Semoga saja.


"huh, ternyata nggak cuma rindu yang berat. Menunggu pun juga sangat berat." Seloroh Ika yang langsung duduk di samping Nafa. Dia mengerling kearah Nafa dengan senyum menggoda.


"CK! Siapa yang nunggu, aku cuma duduk aja. Berangkat sekarang masih kepagian. Pasti kantor masih sepi." Nafa mengelak sambil memutar bola matanya jengah.


"Oh gitu ..., jadi nggak nunggu nih? Tapi kalau misalnya di jemput, berangkat nggak?" Lagi, Ika menggoda Nafa. Membuat Nafa membuang muka sambil berdecak lalu memilih pergi daripada meladeni Ika.


Namun, lagi-lagi Nafa harus menelan rasa kekecewaannya. Hingga jam berangkat, mobil Ravi tak tampak juga. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali berjalan keluar kompleks mencari taksi.


Nafa langsung mendudukkan dirinya di kursi kerja begitu sampai di kantor. Kedua tangannya berpangku di atas meja memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening. Dua hari belakangan ini, dia sering migrain. Karena kurang tidur dan terlalu memikirkan Ravi.


Setelah dirasa cukup memijat kepala, Nafa mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Kemudian menyandarkan punggungnya ke belakang. Dia menatap nomor kontak Ravi di layar ponselnya.


Kemana laki-laki itu? Kenapa dia tidak terlihat hari ini? Apa dia baik-baik saja?


Nafa membuang nafas kasar lalu meletakkan ponselnya dia atas meja dengan kasar. Entah kenapa dia benar-benar merasa kesal dan terasa sangat ingin marah.


"Kesel banget tahu nggak!" Nafa memaki ponsel melampiaskan kemarahannya. Sedetik kemudian, dia meraih kembali ponsel tersebut untuk membuka aplikasi chat berwarna hijau. Dia melihat nomor kontak Ravi untuk mengetahui kapan terakhir laki-laki itu menggunakan chat tersebut. Entahlah, kabar Ravi sangat terasa berharga kali ini. Namun, lagi-lagi dia kecewa karena terakhir Ravi menggunakan aplikasi chat itu saat malam kejadian itu.


Di mana dia? Apa yang terjadi pada Ravi?


Hari itu berakhir dengan perasaan gelisah. Namun, Nafa tetap berusaha untuk tenang dan baik-baik saja. Sebelum pulang ke rumah, Nafa kembali berusaha menghubungi Ravi. Tapi lagi-lagi nomor Ravi tetap tidak aktif.

__ADS_1


Dengan perasaan kesal, Nafa bangkit dari duduknya lalu pulang ke rumah menggunakan taksi online yang sudah dia pesan sebelumya.


Nafa menghela nafas panjang begitu sampai di rumah. Dan langsung menyandarkan merebahkan tubuhnya di atas sofa.


"Kalau ada di cuekin, nggak ada baru deh di cariin."


Seketika Nafa menoleh ke arah sumber suara. Dan langsung mendapati Ika yang tengah membawa semangkok mie instan dari dapur. Lalu duduk di sebelahnya.


"Siapa yang nyariin, aku enggak kok." Nafa membetulkan posisi duduknya lalu melirik Ika dengan malas.


"Lah terus ngapain itu muka dari kemaren di tekuk terus?" Ika memandang Nafa heran. sementara Nafa langsung berdiri dan masuk ke dalam kamarnya.


"Siapa bilang? Emang muka aku begini 'kan? Kamu aja yang ngaco," Nafa mengelak, lalu melirik Ika yang sedang menertawainya. Kemudian menutup pintu kamarnya. Dia tidak akan bisa mengelak lagi jika Ika terus menerus menggodanya.


Pintu langsung dikunci begitu masuk ke dalam kamar. Lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya untuk menghubungi Ravi. Tapi sebelumnya, dia melihat status kontak laki-laki itu terlebih dahulu.


Pukul 14:15 adalah waktu terakhir Ravi aktif dalam aplikasi chat berwarna hijau. Terlihat di bawah nama kontaknya. Menyadari itu Nafa tersenyum, tapi juga kesal karena Ravi belum juga menghubunginya.


"Awas aja nelpon, nggak akan aku jawab!" Gumamnya sambil melotot pada layar ponsel. Satu detik, dua detik lima menit dia menatap layar ponselnya. Berharap Ravi akan menghubungi. Namun, semuanya hanya sebatas angan.


Akhirnya Nafa menyerah dan meletakkan ponsel di atas nakas. Lalu melempar tubuhnya ke atas kasur. Berguling-guling dan menendang-nendang kasur karena kesal.


"Aku benci kamu, tapi aku juga rindu," Teriak Nafa sambil duduk di atas kasur. Lalu melirik tajam ke arah ponselnya. Seakan ponsel itu adalah Ravi.

__ADS_1


"Dengar ya, ini kesempatan terakhir kamu. Kalau kamu nggak bisa manfaatin dengan baik, jangan harap akan ada kesempatan lagi!"



__ADS_2