Penyihir Dan Pangeran Vampir

Penyihir Dan Pangeran Vampir
00 — Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3


Dia adalah gadis baik, suka membantu, dan memberi. Mencintai segala aspek kehidupan dan lingkungan tempat tinggalnya. Tapi, apakah besar cintanya akan terbalas oleh orang-orang itu?


Tidak semua orang mempunyai pola pikir yang sama sepertinya. Semula ia mengira semua karena kesalahannya yang tidak dia ketahui. Gunjingan dan makian semakin bertambah setiap harinya. Apa yang salah? Kenapa orang-orang seperti ini?


Dirinya selalu bertanya-tanya, ada apa sebenarnya? Kenapa semua orang yang sebelumnya ramah menjadi sekejam ini?


Buku-buku yang selalu ia baca dibakar, perhiasan yang disimpan dirampas, isi rumahnya dijarah, dan terakhir menghanguskan gubuk tua yang ditinggalinya bersama kedua orang tua dan kakak.


"Merlin, bawa adikmu ke hutan. Ayah dan ibu akan menahan mereka."


Itulah ucapan terakhir orang tua yang ia dengar sebelum memasuki wilayah yang tak pernah dijamah manusia. Merlin, si kakak, berlari sambil menariknya selagi para warga sibuk dengan ayah dan ibunya.


Teriakan dan sorakan menjadi latar suara pelariannya. Suara bising itu memekikkan telinga, terutama mendengar ibunya yang dihakimi setelah ayahnya berhasil diringkus dan dibabat habis. Pemandangan mengerikan itu tak dapat ia lihat lagi, yang akhirnya berujung kegelapan yang menutup kedua mata.


Gadis berusia lima tahun tidak bisa mengikuti langkah lebar kakaknya, mengakibatkan kelelahan dan sesak napas. Yang pada akhirnya tumbang di tengah perjalanan.


...* * *...


Ingatan itu kembali menyelimuti mimpinya. Sepuluh tahun sudah berlalu dan kenangan pahit itu tak pernah enyah dari otaknya. Selalu membangunkan dirinya di tengah malam.


Seekor kucing hitam mendekat dan melingkar di samping tubuh kecilnya. Dengkuran itu membuatnya nyaman. Ia hampir kembali terlelap sebelum suara gebrakan di pintu belakang mengganggunya.


Rasa was-was dan trauma kembali menyeruak. Ia beranjak dari ranjang, diikuti kucing hitam yang dikelilingi asap dan berubah menjadi seorang pemuda tinggi.


"Phy, tunggu di sini," bisik Merlin sambil mempersiapkan diri dengan sebuah tongkat sihir. Phyllis berjalan di belakang kakaknya yang terus waspada.


Kini mereka sudah ada di depan pintu kamar. Di mana suara berisik dan gelodak barang-barang terdengar di luar sana. Maling? Untuk apa maling di sini? Dan anehnya kenapa bisa tahu rumah kecil di tengah hutan begini?


"Phy, siapkan sihir pelindung. Kakak akan pakai sihir serangan setelah pintu terbuka."

__ADS_1


Merapal mantra yang biasa dilakukan untuk membuat perisai rumah, Phyllis berhasil membuat gelembung transparan biru sebagai pelindung mereka—terutama Merlin.


Bersamaan dengan Merlin yang membuka pintu, pemuda itu langsung mengucapkan mantra dan menyentakkan tongkat sihirnya ke arah sosok yang sejak tadi berdiri menunggu pintu dibuka.


Sosok tinggi berjubah itu terpental dan menabrak botol-botol kosong di sisi ruang tengah. Dengan cepat Merlin menguncinya dan membuat sosok itu tak bisa berkutik. Hanya erangan yang terdengar.


Meskipun sudah diikat dengan mantra, Merlin masih harus waspada. Dengan kekuatannya, Merlin menarik sosok yang berhasil menyelinap di gubuk kecil mereka.


Namun betapa terkejutnya ia saat melihat pemuda berambut putih tengah menatapnya tajam. Tidak hanya itu, sorot mata penuh amarah seolah membiusnya. Dengan gigi taring yang enggan bersembunyi lama, Merlin segera mundur dan menarik adiknya untuk menjauh.


"Dia vampir, cepat ambil bawang," perintah Merlin yang langsung disambut tawa keras dari vampir di depannya. Menatap remeh penyihir kakak-beradik itu, lantas sosok haus darah tersebut perlahan bergerak dan melepas kuncian yang dibuat Merlin.


"Phy, lari!" Merlin mendorong Phyllis untuk keluar dari rumah selagi dirinya menghadapi vampir tak punya etika berkunjung ini.


"Ck, ck, justru aku mau kejar adikmu."


Sosok itu berlari mengejar di mana Phyllis berada. Merlin yang sudah mengeluarkan banyak energi sihir tak bisa lebih lama mengendalikan diri. Hanya melempar mantra pelindung yang lebih kuat untuk adiknya sebelum tubuh Merlin dipenuhi asap dan berubah menjadi kucing hitam.


Kini dirinya hanya berharap yang terbaik untuk Phyllis. Perisai yang ia buat sudah cukup bagus untuk sekelas vampir ecek-ecek. Tapi Merlin melupakan jika vampir itu berhasil menghancurkan ikatan dan bahkan menerobos masuk ke rumah.


Sayangnya wilayah gelap ini adalah tempat kesukaan para vampir. Dibekali kemampuan khusus untuk melihat di kegelapan dan indera penciuman kuat, sosok itu berhasil menemukan Phyllis yang tengah meringkuk di belakang pohon.


"Hai, penyihir kecil."


Kedua mata biru Phyllis membelak. Jantungnya berdetak kencang, bahkan ia bisa mendengarnya. Suara tawa penuh kemenangan membuat Phyllis membeku. Ia tak bisa merasakan merinding lagi. Ketakutannya sudah di ambang batas takut maksimalnya.


"Suara jantungmu sangat merdu. Sepertinya enak jika beradu dengan perutku."


Jemari-jemari kekar dengan kuku panjang nan tajam meraba paras mungil Phyllis. Gadis itu hanya diam menatap netra merah menyala di depannya. Ia tak peduli dengan bagaimana cara vampir itu membunuhnya, pikirannya sudah tidak terkendali.


"Ada kata-kata terakhirmu?"

__ADS_1


Ingatan tentang kedua orang tuanya kembali menyerang dan membuat Phyllis semakin sedih. Mengingat pengorbanan keduanya yang akan sia-sia karena anak mereka terlalu payah. Bahkan hingga selama ini, perisai yang dirapal sangat mudah dihancurkan.


Sangat mengecewakan. Phyllis tak tahan lagi. Ia mengepalkan kedua tangannya. Kenapa dia bodoh? Kenapa selemah ini?


"Padahal aku belum masak ayam tulang lunak."


Vampir yang mendengar kata-kata Phyllis menjadi kesal. "Itukah kata-kata perpisahanmu? Sangat disayangkan, biarkan nanti akan ku jadikan penyihir tulang lunak."


Sosok ngeri itu segera mendekat ke wajah Phyllis, menyeringai. Menunjukkan betapa tajamnya gigi taring yang selalu diasahnya setiap hari menggunakan pengasah pisau.


Cahaya bulan yang terang perlahan menyelinap ke sela-sela dedaunan pohon. Menghiasi rupa Phyllis yang sejak tadi tertutup oleh gelapnya malam. Lugu dan manis, tersirat tatapan sedih dan pasrah di kedua bola matanya. Vampir itu terdiam.


Cantik.


Begitu pikirnya dalam hati. Ia tak menyadari gadis yang berada di tangannya sekarang seindah ini, disiram sinar rembulan, tampak ini adalah tipe para vampir.


Desiran angin dari belakang melambaikan surai cokelat Phyllis, menghembuskan aroma tubuh yang sangat wangi dan nikmat. Bau darah segar Phyllis kembali menggugah gairah Sang Vampir. Dan tanpa berpikir lama, vampir itu mendekat ke arah leher dan bersiap menggigit.


"Sihir pelunak!"


Taring yang telah diruncingkan tak mampu menembus sedikitpun kulit Phyllis. Kuku-kukunya yang tajam tak seseram tadi. Ketika keduanya menyentuh tubuh Phyllis, mereka langsung melunak bak tulang presto.


"A-apa?! Apa yang terjadi?!"


Phyllis tertawa dan mendorong tubuh vampir itu. Tentunya para vampir tak berdaya dengan lemahnya kedua bagian ini. Meski fisik mereka kuat, tapi titik paling berbahaya adalah taring yang bisa menghisap darah manusia hingga kering dalam semalam. Vampir hanya bisa memukul dengan fisik saat ini.


Gadis penyihir itu segera merapalkan mantra lagi, yang mana membuat vampir itu tak sadarkan diri.


"Akan aku undang di acara ayam tulang lunak keluargaku."


Dengan penuh hati-hati, Phyllis membungkus tubuh vampir dan membawanya ke arah rumah. Perjalanan yang cukup jauh membuatnya letih sehingga harus mengurangi penggunaan sihir sebelum sampai di rumah. Berusaha sekuat mungkin, Phyllis menarik bungkusan berbentuk tubuh manusia ke depan rumah.

__ADS_1


Tidak sampai situ, Phyllis bahkan menyeretnya untuk naik ke tangga rumah dan menaruhnya di dekat pintu masuk.


...* * * * *...


__ADS_2